Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Menulis & Bicara>Swapublikasi>Musim Kemarau, Musim Yang Menyedihkan

Musim Kemarau, Musim Yang Menyedihkan

oleh: jalaluddin    
ª
 

Sebuah kebiasaanku, dengan sepeda motor tua Honda Astrea Prima aku suka berkeliling ke tempat-tempat yang belum pernah aku lihat. Punya motor ini memang baru beberapa bulan lalu, ketika pergantian musim di penghujung musim hujan. Dan sekarang akhir September, sebuah momen dimana kita berada di puncak-puncaknya musim kemarau yang berat.


Dan hari libur minggu kemaren aku sengaja buat mengelilingi beberapa desa. Melihat langsung dampak musim kemarau ini. Desa-desa yang aku lewati lebih banyak terdapat sawah-sawahnya. Dan cukup menyedihkan ternyata banyak lahan sawah yang kosong kering tanpa ditanami, di beberapa petak masih ada sisa-sisa potongan jerami kering yang berdiri sisa panen.


Bahkan ada kulihat bibit-bibit padi yang sudah ditanam namun akhirnya terbengkalai mengering seperti kurang pengairan. Jadi terpikir berapa kerugian yang dialaminya, yang memang cerita petani kita terkenal cerita sedih, pertanian sebagai sebuah usaha hidup yang tak bisa meningkatkan taraf hidupnya. Tentu lain ceritanya bagi tuan-tuan petani yang memiliki sawah berhektar-hektar, yang mereka bisa naik haji.


Cerita tentang sawah, kakekku dulu mewariskan sawah pada ayahku. Berapa luasnya aku tak tahu, karena ini cerita dari ibu yang mana ayah sudah meninggalkan ketika aku SD. Dan perlahan-lahan, sedikit demi sedikit sawah itu dijual, tentu untuk membiayai kami karena ibu memilih menjanda seumur hidupnya. Yang namanya warisan, dalam alam budaya kami di Jawa, itu dianggap kramat. Sama halnya pusaka yang harus dijaga, apalagi itu terkait sebuah benda yang bisa menghasilkan macam sawah, sungguh nilainya teramat besar. Namun kakek kami mengijinkan menjual sawah-sawah warisanya, karena kenyataanya ibu kurang pandai mengelolanya.


Kadang aku berfikir, jika sawah-sawah itu masih ada mungkin aku saat ini sudah jadi petani. Mungkin berfikir sok idealis, karena kenyataanya di jaman ini sedikit, bahkan jarang ada pemuda mau jadi petani yang turun langsung berlumpur-lumpur. Tapi keprihatinanku dengan banyaknya berita pertanian kita yang tercemar obat-obatan kimia sedikit banyak mendorongku berangan-angan menjadi petani yang tidak egois. Demi mendapat panen lebih dan mendongkrak untung lalu pakai pupuk atau obat pembasmi hawa instant dari kimia, yang secara waktu lebih cepat memberi bukti namun lupa memikirkan jangka panjangnya.


Yah, angan-angan memang lebih manis. Karena sebuah konsep pada kenyataanya ketika dihadapkan pada realitanya lebih banyak melempemnya. Karena mulai populernya pupuk non kimia, lebih ramah lingkungan ternyata harganya lebih mahal. Sebuah persoalan-persolan yang cerita di media masa seperti lingkaran setan ini tak kunjung terurai juga. Memang cerita petani padi negeri ini tak seindah dan seteduh tanaman-tanaman padi yang luas menghijau saat dipandang. Ada banyak persoalan, ada banyak cerita pahit dari apa yang tampak.


Apalagi jika menghadapi musim kemarau ini, sawah-sawah yang dekat sungai pun tak dapat air karena airnya mongering. Di saat seperti ini, kadang dalam perjalanan mengelilingi desa-desa ini aku sempatkan berhenti dan berdialog langsung dengan para petani-petani yang kebetulan ada di sawah.


Mendengarkan kisah pahit mereka, untuk melengkapi catatan-catatanku di rumah, bahwa nasib mereka ada yang tak kunjung membaik.

Diterbitkan di: 27 September, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.