Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Menulis & Bicara>Swapublikasi>Pengertian syiah dan muawiyah

Pengertian syiah dan muawiyah

oleh: barok     Pengarang : baytiearis
ª
 
Ajaran agama tidak lagi merupakan ajaran yang ada di langit, tetapi harus dibumikan. Ajaran agama harus mlai ditradisikan untuk didialogkan, kerena setiap perbedaan pendapat adlah hal yang sangat wajar, bahkan perbedaan merupakan bentuk kerahmatan, tergantung bagaimana kita menyikapi perbedaan-perbedaan yang ada. Apakah hanya karena si Allah mengaytakan bahwa Allah tidak mempunyai sifat, maka kita langsung memberikan stereotip kafir terhadapnya? Di Pakistan sering terjadi pertikaian bersenjata antara kelompok Islam Sunni dan kelompok Islam Syi’ah. Banyak korban berjatuhan. Setiap kelompok menganggap kelompok lainnya kafir. Inilah yang kemudian menarik perhatian penulis menulis makalah tentang teologi.
Aliran-aliran teologi dalam Islam muncul didahului oleh peristiwa politik. Ketika nabi Muhammad mulai menyiarkan ajaran-ajaran agamanya di Makkah beliau mendapat tantangan yang sangat hebat. Akhirnya beliau memutuskan untuk hijrah ke Yastrib (kemudian bernama Madinah). Di madinah, Nabi tidak hanya menjadi pemimpin agama tetapi juga menjadi pemimpin negara. Jadi tidak mengherankan apabila masyarakat madianah pada waaktu wafanya nabi Muhammad sibuk memikirkan penggant beliau untuk mengepalai negara. Timbullah masalah khilafah, soal pengganti nabi Muhammad sebagai kepala negara.
Sejarah kemudian mencatat bahwa Abu Bakr sebagai kholifah oertamaa menggantikan nabi Muhammad. Kholifah kedua dipegang oleh Umar bin Khattab. Tampuk pemerintahan yang ketiga dipercayakan kepada Usman bin Affan. Pada masa pemerintahan Usman terjadi ketimpangan dalam memilih penguasa-penguasa saat itu, usman telah dianggap melakukan praktek nepotisme, dengan memilih kerabat-kerabat dekatnya menjadi gubernur di wilayahnya. Perkemangan suasana di Madinah ini , selanjutnya membawa pada peristiwa pembunuhan Usaman oleh para pemberontak.
Setelah Usman wafat, Ali sebagai calon terkuat akhirnya menjadi kholifah yang keempat. Tetapi ia mendapat tantangan dari Talhah dan Zubeir yang mendapat sokngan dari ‘Aisyah. Di samping itu Ali juga mendapat tatangan dari Mua’awiyah, seorang gubernur Damaskus.
Kekalahan yang dialami oleh Ali terjadi karena ada peristiwa arbitrase. Sebagai pengantara diangkat dua orang: ‘Ar Ibn alam-Ash dari pihak Mu’awiyah dan Abu Musa alam-Asy’aryi dari pihak Ali. Dalam pertemuan mereka, kelicikan Amr mengalahkan perasaan takwa Abu Musa. Sejarah mengatakan antara keduanya terdapat permupakatan untuk menjatuhkan kedua pemuka yang bertentangan, Ali dam Mu’awiyah.
Diterbitkan di: 23 Oktober, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.