Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Pengertian intelektual

oleh: barok     Pengarang : mubarok
ª
 
Dalam kajian budaya pengarang tidak lagi dilihat sebagai sumber segala makna teks, seperti dalam pendekatan ekspresif, walaupun ia dapat menjadi salah satu sumber makna. (pendapatnya dilihat sebagai sebuah teks yang lain). Bahkan dalam sejumlah kajian pengertian tentang pengarang bergeser dari pengarang denotatif (biologis/historis) ke pengarang sebagai penanda (namanya, seperti “Rendra” atau “Pramoedya”) yang memiliki medan konotasi tertentu. Foucault dalam: “Author Function” menunjukkan bagaimana medan konotasi itu terbentuk dari asosiasi berbagai macam teks: biografi, autobiografi, ulasan kritikus, laporan peristiwa yang menyangkut dirinya, reputasi yang beredar dalam masyarakat sezaman, dan reputasinya dalam berbagai versi sejarah sastra. Kajian tentang pembaca sebagai konsumen teks, dan sekaligus sebagai subyek yang memberikan makna pada teks, menduduki tempat penting dalam kajian budaya.
Pembaca yang dimaksud bisa merupakan pembaca yang disiratkan oleh teks, atau pembaca aktual. Dengan menerapkan teori psikoanalisa Freud, Laura Mulvey mengajukan argumennya bahwa industri film populer berfungsi sebagai pemuas kebutuhan penonton laki-laki (dalam kategori pertama: penonton tersirat) untuk “mengintip” lawan jenisnya (Storey : 129-130). Janice Radway meneliti respon wanita penggemar roman (pembaca aktual), dan menyimpulkan bahwa meskipun genre roman tersebut sarat dengan ideologi partriarkal, kenikmatan membaca memberikan peluang bagi mereka untuk membebaskan diri. Walau sejenak dari kungkungan perannya yang terbatas. (Storey : 132-138) Dalam mengaitkan antara teks dengan ”alam semesta” (koordinat pertama dalam bagan Abrams), secara umum kajian budaya menolak tradisi “mimesis”, yakni anggapan bahwa sastra dan produk budaya merupakan cermin realitas.
Wacana intelektual pasca dekonstruksi tidak lagi menerima mentah-mentah sejumlah preposisi tentang apa yang dianggap nyata. Karya kritikus feminis di bidang ini, misalnya, mempersoalkan bahwa sejumlah nilai yang disebut “kodrati” dalam budaya dan kurun waktu tertentu, adalah anggitan sosial yang menunjang suatu sistem atau ideologi. Jadi kenyataan dalam hal ini hanyalah suatu versi tekstual tentang kenyataan. Oleh karenanya, karya sastra bisa disandingkan dengan versi tersebut untuk dilihat interaksinya. Seperti halnya teks-teks budaya yang lain, karya sastra juga berfungsi untuk membangun versi tentang kenyataan. Sebagai ganti pendekatan “mimesis” kajian budaya dihadapkan pada sejumlah pilihan.
Diterbitkan di: 29 Agustus, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apa kapasitas intelektual Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    jelaskan lahirnya kelompok intelektual di indonesia Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apa pengertian dari intelegensi? Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apa pengertian pengetahuan intelektual Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    penegertian intelektual Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apa pengertian intelektual menurut para ahli jerman,.?? Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apakah arti intelekyual???????? Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    definisi intelektual Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    pengertian intelektual Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apa yang di maksud dengan intelektual Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.