Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Budaya tinggi dan rendah

oleh: barok     Pengarang : mubarok
ª
 
Permasalahan antara budaya tinggi dan rendah, kaitan antarakarya seni dengan institusi, dan analisis berbagai ekspresi budaya sebagai wacana, sebetulnya bukanlah sesuatu yang baru. Diskusi mengenai hal ini sudah dimulai oleh pemikir abad ke-19, Matthew Arnold. Di beberapa jurusan fakultas sastra UI sejumlah bidang yang menjadi perhatian kajian budaya seperti kajian wacana, sosiologi sastra, dan sastra populer telah menjadi mata kuliah-mata kuliah yang mapan. Yang baru dan menarik adalah meningkatnya perhatian, publikasi dan instutusionalisasi yang secara tersebar dan bersamaan ditujukan kepada kajian budaya dikalangan akademik dunia pada dekade terkahir. Di Inggris, Amerika dan Australia terutama pada dekade terkahir, kajian budaya merambah berbagai cabang ilmu, terutama ilmu-ilmu humaniora, sosial dan mengahasilkan bukan saja pengutamaan khusus di dalam lingkup disiplin yang lama, melainkan juga pusat-pusat kajian yang bersifat interdisipliner. Di bidang penerbitan menjamur buku kajian, antologi teori, penerbitan berseri, dan majalah ilmiah budaya yang secara khusus dipromosikan dengan label kajian budaya. Bagaimanakah “ledakan” kajian budaya dalam skala internasional ini dapat dijelaskan?. Mudah buat kita untuk mengabaikan gejala ini dengan menganggapnya sebagai sekedar “mode baru” dalam wacana intelektual yang pada suatu saat akan berlalu. Tapi barangkali sikap seperti ini kurang memperkaya wawasan. Sebelum menjatuhkan suatu penilaian, perlu kita kaji sejumlah kondisi yang mendasarkan fenomena di atas. Kondisi pertama bersifat sosial psikologis.
Dalam tulisan-tulisan praktisi kajian budaya dapat disimak suatu keresahan akan surutnya kaum intelektual dalam menjawab permasalalahan-permasalahan mendesak zamannnya. Cornel West, misalnya menunjukkan beratnya beban psikologis intelektual kulit hitam yang mendapat posisi terhormat dalam institusi, sementara masyarakat kulit hitam dilanda pesimisme dan berbagai masalah sosial. (West 89-696). Perkembangan teori, kecanggihan wacana intelektual, dan formalisasi batas antar disiplin, dianggap telah membuat institusi intelektual, khususnya di bidang pendidikan tinggi, semakin mantap. Tetapi kecanggihan sekaligus membuat wacana bersikulasi di daerah eksklusif, yang hanya bisa diakses dan dipahami oleh kelompoknya sendiri. Elitisme menjauhkan wacana intelektual dari kebanalan pasar dan politik, arena “kehidupan Sehari-hari”, suatu posisi yang harus dibayar dengan marjinalisasi peran. Pada saat yang sama dirasakan kebutuhan untuk memahami transformasi sosial budaya pada akhir abad ke-20, antara lain “terciptanya ekonomi global, penyebaran budaya massa ke seluruh dunia, munculnya bentuk-bentuk migrasi baru berdasarkan motivasi ekonomi dan ideologi, dan bangkitnya kembali nasionalisme dan kekerasan sosial dan agama”.
Diterbitkan di: 29 Agustus, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.