Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Menulis & Bicara>Pidato>Contoh Pidato: Contoh Teks Pidato Yang Baik

Contoh Pidato: Contoh Teks Pidato Yang Baik

oleh: 3handoyo     Pengarang: Dr. Iskandarwassid; M.Pd
ª
 
Berikut contoh pidato atau contoh teks pidato Pengukuhan Guru Besar dari Dr. Iskandarwassid, M.Pd

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Pada kesempatan yang baik ini, izinkan saya
untuk mengutarakan beberapa pokok pikiran yang
bersangkutan dengan pengajaran sastra (Indonesia).
Tidak untuk menyampaikan gagasan-gagasan baru.
Saya hanya ingin mengemukakan beberapa catatan
teoretis yang diperkirakan perlu dipertimbangkan
dalam upaya meningkatkan kualitas pengajaran
sastra.

Kekhawatiran para ahli tentang mutu pengajaran
sastra di sekolah-sekolah rupanya telah muncul
sejak lama, dikemukakan dalam diskusi-diskusi atau
seminar. Tetapi, sampai lama kemudian usaha-usaha
untuk mengatasinya tampaknya belum memuaskan
benar. Kongres Bahasa Indonesia IV yang diadakan
pada tahun 1983 (di Jakarta) antara lain mencatat
kesimpulan yang menyatakan bahwa “pengajaran
sastra di sekolah sebagai bagian yang tak terpisahkan
dari pengajaran bahasa belum mencapai tujuan
yang sesuai dengan fungsinya sebagai pengembang
wawasan nilai kehidupan dan kebudayaan”. Di
samping kesimpulan itu. Kongres juga mencantumkan
saran yang sangat berharga, yaitu agar pengajaran
sastra di sekolah-sekolah bertumpu pada tiga segi,
yaitu karya sastra, teori sastra, dan teori pendidikan.

Saran agar bertumpu pada karya sastra-pada waktu
itu-diutarakan dengan tujuan untuk memperbaiki
pembelajaran sastra yang cenderung hanya mengarah
pada aspek pengetahuan.

Dalam Pertemuan Ilmiah Nasional IV HISKI
(Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia) di
Lembang (Bandung, 1991), perbincangan mengenai
upaya meningkatkan kualitas pengajaran sastra
mendapat perhatian besar dari para peserta. Untuk
tujuan itu, beberapa orang ahli mengemukakan
pendapatnya agar mengarang karya sastra
dimasukkan ke dalam kurikulum. Sungguh sebuah
keinginan yang baik, tetapi dalam pelaksanaannya
diperkirakan akan menimbulkan banyak risiko.

Akhir-akhir ini, perhatian pemerintah (Departemen
Perndidikan Nasional) tampaknya cukup besar.
Pengajaran sastra dalam Kurikulum 2004 telah
dirumuskan dalam kompetensi-kompetensi yang
jelas sehingga tak mungkin lagi “kehabisan” jam
oleh pengajaran bahasa. Pengajaran bahasa dan
sastra menjadi makin tegas.
Memang banyak jalan yang bisa ditempuh untuk
melakukan perbaikan dan penyempurnaan. Namun,
benarkah semua yang telah dilakukan itu yang paling
efektif dan efisien. Dalam hal ini, salah satu kuncinya
yang sangat penting ialah tujuan pengajaran sastra.
Apa sebenarnya yang menjadi tujuan pengajaran
sastra di sekolah.

Hadirin yang saya hormati,
Secara umum, banyak faktor yang menjadi penentu
kualitas hasil pembelajaran (output); siswa (raw
input), faktor lingkungan (environmental input;
alam, sosial budaya), faktor instrumen (instrumental
input; kurikulum, program, sarana dan fasilitas,
tenaga pengajar) dan proses belajar-mengajar
(learning-teaching process; bermacam-macam
pengembangan kegiatan belajar-mengajar).
Di samping adanya persamaan-persamaan,
tujuan pengajaran sastra memiliki perbedaan bila
dibandingkan dengan tujuan pengajaran lain,
termasuk dengan pengajaran bahasa sendiri. Karena
itu, dalam usaha pencapaiannya akan menuntut
corak kegiatan belajar mengajar yang berlainan;
menuntut ditemukannya model-model pengajaran
sastra yang lebih efektif dan efisien. Pada tahap ini,
peranan guru sangat besar.

Guru sastra perlu memahami benar bahwa tujuan
pengajaran sastra (di sekolah) yang paling utama
ialah agar siswa memiliki pengalaman bersastra.
Cukup sederhana memang, tetapi memilih dan
mengembangkan macam-macam kegiatan belajar
mengajar yang mengarah ke tujuan itu memerlukan
pertimbangan yang saksama. Lalu, apakah tujuan
pengajaran agar siswa memiliki pengetahuan tentang
sastra menjadi tidak penting? Bukan tidak penting,
melainkan difungsikan (diaplikasikan) menjadi
pengetahuan siap. Bahkan, dalam pelaksanaannya
pengetahuan tentang sastra itu bisa disimpulkan
atau ditemukan sendiri berdasarkan bpengalaman
membaca karya sastra (induktif). Di atas kedua
itu, diharapkan tumbuhnya apresiasi sastra yang
secara langsung ikut menopang tercapainya tujuan
pendidikan.

Hadirin yang saya hormati,
Di tangan guru yang kreatif, pengajaran sastra akan
menjadi hidup, bervariasi dan bermakna. Dengan
puisi lama berikut:
Kalau ada sumur di ladang
Bolehlah kita menumpang mandi
Kalau ada umur panjang
Bolehlah kita berjumpa lagi

Ia tidak akan memulainya dengan menerangkan
bentuk puisi pantun karena yang paling dulu
harus dilakukannya ialah menciptakan terjadinya
komunikasi dengan puisi tersebut. Siswa langsung
membacanya, dengan suara nyaring pula. Aneka
ragam pembacaan diperkirakan akan menimbulkan
bermacam-macam respons spontan. Hal yang
hendak diciptakan ialah saat-saat yang tepat untuk
menyisipkan pertanyaan-pertanyaan tafsiran,
seperti pada kesempatan apa pantun itu diucapkan;
di kalangan mana hidupnya pantun itu, apakah
membayangkan perpisahan lama atau sebentar
saja; siapa yang mengucapkan pantun itu, yang
akan pergi atau dia yang ditinggalkan; apa makna

puisi itu dalam kehidupan; mengapa “sumur” dan
“ladang” dalam sampiran; latar sosial sosial budaya
apa yang tersirat dalam “menumpang mandi” dan
seterusnya.
Pertanyaan-pertanyaan inspiring diajukan tidak untuk
menemukan satu jawaban yang benar. Pertanyaan itu
dikemukakan untuk merintis jalan munculnya berbagai
tafsiran (interpretasi) dan terjadinya diskusi.
....

Hadirin yang saya hormati,
Dengan uraian singkat tadi, sesungguhnya saya ingin
menegaskan bahwa dalam upaya meningkatkan
kualitas pengajaran sastra di sekolah terdapat tiga pilar
yang sangat diperlukan, yaitu guru, siswa, dan karya
sastra. Peranan guru teramat penting karena dirinyalah
sesungguhnya yang menjadi perencana, pelaksana,
sekaligus penguji program-program yang disusunnya.
Pentingnya kedudukan siswa, dengan pandangan
bahwa memang semua upaya penyempurnaan itu
ditujukan bagi kepentingan siswa. Bersangkutan
dengan karya sastra ialah perlunya pengajaran
menyajikan karya sastra yang benar-benar terpilih,
benar-benar bermakna
Alhamdulillahirabil alamin.
Saya bersyukur kepada Allah Swt.

Saya menyampaikan banyak terima kasih kepada
Bapak Rektor beserta staf yang telah memungkinkan
saya untuk menyampaikan pidato pengukuhan ini
Saya menyampaikan banyak terima kasih kepada
hadirin, yang telah dengan sabar menyimak
pembicaraan ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya.
Mohon maaf bila ada kata-kata yang tidak berkenan
di hati.

Wabillahi taufik wal hidayah
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Demikian contoh pidato atau contoh teks pidato yang baik.

(Sumber: Pidato Pengukuhan Guru Besar
Dr. Iskandarwassid, M.Pd., 2004)
Diterbitkan di: 10 Januari, 2013   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.