Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Manusia Sebagai Musafir

oleh: Holidin    
ª
 

Setiap manusia yang tinggal di dunia kita sebut sebagai "musafir"? Hal itu, karena hidup manusia di dunia hanya sementara dan akan pergi meninggalkannya seperti halnya seorang musafir. Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat Itulah negeri yang kekal." (QS. Ghaafir: 39)

Namun sayang, kebanyakan orang tidak menyadari bahwa hidupnya di dunia hanya sementara. Padahal hal ini merupakan kebenaran yang tidak diragukan lagi dan kepastian yang tidak disangsikan lagi. Pernahkah Anda melihat ada orang yang hidup kekal di dunia dan tidak mati? Kalau pun ia diberi usia yang panjang, cobalah perhatikan akhirnya, ia akan tetap mati juga. Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya kamu akan mati dan Sesungguhnya mereka akan mati (pula)." (QS. Az Zumar: 30)

Jika demikian, sudahkah Anda mempersiapkan amalan?

Pentingnya Muhasabah

Muhasabah atau mengoreksi diri dan menghitung-hitung kesalahan adalah sesuatu yang sangat penting, Allah SWT berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al Hasyr: 18)

Cara Muhasabah

Ibnul Qayyim menjelaskan cara memuhasabah diri yaitu sbb:

Pertama, melihat amalan fardhu, jika dilihatnya ada yang kurang, maka ia berusaha mengejarnya.

Kedua, melihat larangan, jika dilihatnya bahwa dirinya mengerjakan larangan, maka ia tutupi dengan taubat dan istighfar serta mengiringinya dengan amal saleh yang memang dapat menghapusnya.

Ketiga, melihat sikap lalai pada dirinya, maka disusul dengan dzikr dan mendekatkan diri kepada Allah.

Keempat, melihat tindakan yang dilakukan anggota badan, ucapan yang dilontarkan oleh lisan, langkah yang dilakukan oleh kaki, gerakan yang dilakukan oleh tangan, pandangan yang dilihat oleh mata dan pendengaran yang dilakukan oleh telinga untuk apa semua dilakukan? Karena siapa melakukannya dan bagaimana bentuk yang dilakukannya?

Cobalah berpikir sejenak dan sempatkanlah untuk itu sebelum tiba hari di mana saat itu tidak berguna lagi penyesalan:

"Ya Tuhan Kami, keluarkanlah kami (dari neraka) niscaya Kami akan mengerjakan amal yang saleh berbeda dengan yang telah kami kerjakan". dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan?" (QS. Faathir:37)

Diterbitkan di: 29 September, 2013   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.