Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Petilasan ARDILAWET

oleh: syahrizaelz    
ª
 

SEJARAH PEILASAN ARDILAWET

Situs Ardi Lawet ini banyak dihubungkan dengan cerita rakyat yang hidup di daerah sekitarnya, yang menceritakan riwayat hidup Pangeran Jambu Karang di dalam perjalanannya mencari cahaya (nur) kebenaran dan seorang pemeluk agama Budha yang akhirnya memeluk Islam. Tokoh Pangeran Jambu Karang ini ada yang menghubungkn dengan tokoh sejarah Haji Purwa atau Haji Purba. Haji Purwa ini menurut Raflles di dalam bukunya History of java vol 2 adalah salah seorang Pangeran dari dua orang pangeran dari putera Brawijaya Mahisa Tendreman, Raja Pajajaran.

Diceritakan salah seorang pangeran tertua Prabu Brawijaya Mahisa Tandreman, yang bernama Raden Mundingwangi lebih menyukai hidup sebagai pertapa daripada menggantikan tahta ayahnya. Tahta kerajaan diserahkan kepada kepada adiknya, Taden Mangunsari yang dinobatkan pada tahun 1112 Caka (1190 M0. Selanjutnya ia mengembara ke arah barat, di wilayah Banten dan akhirnya bertapa di gunung Jambu Karang.

Pada saat itulah, menurut cerita, ia mendapat surat dari ayahnya Prabu Mahisa Tadreman yang isinya antara lain, “barang siapa ingin menjadi raja yang menguasai pulau Jawa dan bergelar Ratu Pinindita, jika ia masih memiliki sifat keduniawian, sombong dan bersifat sukaria, maka hentikanlah niatnya. Karena itu wahai puteraku bertapalah engkau di tanah suci yang mengeluarkan cahaya sebesar lidi yang memancar ke angkasa. Adapun tanah suci terletak di gunung Mandala Giri”. Demikianlah pesan ayahnya di dalam suranya. Setelah membaca isi surat itu kemudian Raden Mundingwangi berusaha untuk mencari tempat yang disebutkan dalam surat.

Pada suatu hari ia melihat ke arah timur dan melihat cahaya sebesar lidi (Seksada Lanang Gedene) yang memancar ke angkasa. Maka berangkatlah ia bersama-sama dengan pengawalnya menuju tempat yang mengeluarkan itu. Perjalanan mereka melewati daearah Sihbon (Cirebon) terus ke arah timur sampai desa Merata atau Wiradesa, terus ke wilayah Pekalongan yang akhirnya belok ke arah selatan melalui desa Pasiraman. Pada suatu tempat cahaya itu makin terbuka dan tampak jelas dan terang. Sehubungan dengan peristiwa itu, maka tempat itu diberi nama desa Bukareja sebagai kenangan (sekarang berada di wilayah kabupaten Purbalingga sebelah tenggara). Perjalanan mereka diteruskan ke arah barat dan akhirnya dapat ,enemukan tempat yang mengeluarkan cahaya itu di wilayah Gunung Mahisagiri tepatnya di gunung Prahu di daerah Lawet sekarang dan ujung cahaya itu berakhir di tanah Munggul di gunung Grantung. Di tanah Munggul inilah Raden Mundingwangi atau Pangeran Jambu Karang bertapa sesuai pesan ayahnya.

Tersebutlah di sisi lain ada seorang mubalig di tanah Arab, terkenal dengan gelar Pangeran Atas Angin, yang konon mendapat ilham sesudah melaksanakan sholat subuh, bahwa di sebelah timur terdapat tiga buah cahaya putih yang memancar menjulang sangat tinggi ke angkasa.

Beradasarkan ilham itu maka ia bersama dengan 200 orang pengiringnya pergi meningga;kan tanah Arab ke arah timur. Singkat ceritanya, mereka sampai di Gresik dan kemudian menyusur daerah pantai sampai di daerah Pemalang dan akhirnya sampailah mereka di tanah Munggul dan bertemu dengan Pangeran Jambu Karang yang sedang bertapa. Pangeran Atas Angin mengucapkan salam “Assalamu’aliakum Wr Wb”, akan tetapi Pangeran Jambu Karang tidak menyahutnya. Kemudian Pangeran Atas Angin bertanya kepada Pangeran Jambu Karang : “ Siapakah anda ?, Apakah anda seorang pandai dan sakti serta seorang penganut agama Budha?”. Pangeran Jambu Karang menjawab, “bila anda menduga saya seorang yang pandai dan sakti kiranya bukan dan dugaan saya seorang penganut Budha, memanglah demikian “. Siapakah anda sebenarnya ?, Sahut Pangeran Atas Angin. “Saya Pangeran Atas Angin dan siapa pula anda dan apa perlunya anda berada di sini ? “. Pangeran Jambu Karang menjelaskan, “Aku sedang melaksanakan tapa sesuai dengan perintah ayahku yaitu bertapa di sebidang tanah yang mengeluarkan cahaya memancar sebesar lidi ke angkasa. Dan, engkau Pangeran Atas Angin punya maksud apa dating kemari ?.Pangeran Atas Angin, “Kelak bila Pulau Jawa telah berkembang menjadi ramai dan banyak tumbuh desa-desa, saya akan menitipkan agama Islam, apakah anda berkenan mengikuti rencana saya itu ?”. “Saya akan mengikuti rencana anda itu, apabila anda juga memenuhi permintaan saya “, Jawaba pangeran Jambu Karang, yakni dalam hal mengadu kesaktian.

Dalam mengadu kesaktian tersebut Pangeran Jambu Karang kalah dan pangeran Jambu Karang menerima kekalahan itu dan bersedia dengan ikhlas untuk menganut agama Islam. Sebagai sratanya Pangeran Jambu karang harus memotong kuku dan rambutnya. Konon potomgan kuku dan rambutnya ditanam di petilasan Suro di desa Grantung. Selanjutnya untuk menerima ajaran agama Islam Pangeran Jambu Karang melaksanakan di gunung Mandalagiri, tepatnya di gunung Kraton tempat yang mengeluarkan cahaya. Sebagai awal pelajarannya Pangeran Jambu karang diajari berwudlu dan mengucapkan kalimat syahadat. Konon pada saat wejangan itu dilaksanakan semua gunung yang berada di sekitarnya menundukan puncaknya dan menghadap ke tempat tersebut, kecuali sebuah gunung yaitu gunung Bengkeng (membangkang). Setelah tamat menerima wejangan, Pangeran Jambu Karang bergelar Syech Jambu Karang. Pangeran Atas Angun kemudian pulang ke negerinya ( tanah Arab).

Diterbitkan di: 10 Mei, 2013   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.