Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Menulis & Bicara>Presentasi>Peranan Muhammadiyah terhadap pendidikan Islam

Peranan Muhammadiyah terhadap pendidikan Islam

oleh: NhaMute    
ª
 
Latar Belakang

Latar belakang berdirinya sekolah Muhammadiyah adalah masalah kependidikan yang berlangsung saat itu. Dibawah kendali kolonial dengan sistem sekuler murni yang dipaksakan kepada kalangan ingrat yang beragama Islam. K.H. Ahmad Dahlan sebagai bagian dari keluarga nigrat merasa gerah jika putera-putri ningrat yang lain diberikan pendidikan gaya kolonial murni. Disamping itu, K.H. Ahmad Dahlan merasa gerah pula dengan sistem pembelajaran umat Islam kala itu yang cenderung tertutup bahkan menjadi rival kolonial yang saat itu dianggap sebagai negara yang sah atau yang berkuasa.

K.H. Ahmad Dahlan juga prihatin dengan sistem kependidikan yang dilaksanakan umat Islam masih sangat sederhana dan tidak beranjak dari sistem ponodok pesantern yang demikian jelas sangat tidak menguntungkan umat Islam dan cenderung menjadikan Islam sebagai agama yang statis, tertutup dan tidak mempu membaur apalagi memadu perkembangan zaman. Materi ajar yang disuguhkan pondok pesanter tidak jauh dari materi fiqih ibadah mahdhah atau ibadah mutlak. Ini pun sedikit banyak bercampur aduk dengan bid’ah dan khurafat yang mengakibatkan tidak tertanamnya sikap syaja’ah, keberanian dan kemandirian, selalu meneyarah pada ketidak mampuan yang dikatagorikan sebagai takdir.

Kita ketahui bahwa pada masa awal berdirinya Muhammadiyah, lembaga-lembaga pendidikan yang ada dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar sistem pendidikan. Dua sistem pendidikan yang berkembang saat itu, pertama adalah sistem pendidikan tradisional pribumi yang diselenggarakan dalam pondok-pondok pesantren dengan Kurikulum seadanya. Pada umumnya seluruh pelajaran di pondok-pondok adalah pelajaran agama. Proses penanaman pendidikan pada sistem ini pada umumnya masih diselenggarakan secara tradisional, dan secara pribadi oleh para guru atau kyai dengan menggunakan metode srogan (murid secara individual menghadap kyai satu persatu dengan membawa kitab yang akan dibacanya, kyai membacakan pelajaran, kemudian menerjemahkan dan menerangkan maksudnya) dan weton (metode pengajaran secara berkelompok dengan murid duduk bersimpuh mengelilingi kyai juga duduk bersimpuh dan sang kyai menerangkan pelajaran dan murid menyimak pada buku masing-masing atau dalam bahasa Arab disebut metode Halaqah) dalam pengajarannya. Dengan metode ini aktivitas belajar hanya bersifat pasif, membuat catatan tanpa pertanyaan, dan membantah terhadap penjelasan sang kyai adalah hal yang tabu. Selain itu metode ini hanya mementingkan kemampuan daya hafal dan membaca tanpa pengertian dan memperhitungkan daya nalar. Kedua adalah pendidikan sekuler yang sepenuhnya dikelola oleh pemerintah kolonial dan pelajaran agama tidak diberikan.

Dari kedua sistem pendidikan diatas dilihat dari pengelolaan dan metode pengjarana sangat jauh berbeda. Dari sistem pendidikan yang pertama, (pendidikan Tradisional pribumi) akan menghasilkan pelajar yang minder, jauh dari pengetahuan umum, terisolir dari kehidupan modern, akan tetapi mereka paham dan taat terhadap ajaran agama. Sedangkan sistem pendidikan yang kedua (pendidikan sekuler yang dikuasai kolonial Belada) akan menghasilkan pelajar yang aktif, kreatif, penuh percaya diri, dan dinamis, akan tetapi tidak tahu tentang agama, bahkan berpandangan negatif terhadapa agama.

Lembaga pendidikan Muhammadiyah mencoba menggabungkan hal-hal positif dari kedua sistem pendidikan tersebut. Tujuan menggabungkan kedua sistem pendidikan tersebut untuk membentuk manusia yang berakhlak mulia, pengetahuan yang komprihensif, baik umum maupun agama. Selain itu juga untuk memperbaiki metod belajar, organisasi sekolah, mata pelajaran dan kurikulum yang disesuikan dengan teori modern. Dengan memadukan dua sistem tersebut diharapkan terciptanya ulama atau pelajar yang dinamis dan kreatif serta penuh percaya diri dan taat menjalankan perintah agama.

Berdasarkan latar belakang di atas maka penelitian ini diberi judul: “Sumbangan Awal Pendidikan Muhammadiyah Terhadap Integrasi Sosial-Agama Di Pendidikan Formal”.

Dengan dua sistem pendidikan yang ada di saat itu yaitu sistem pendidikan tradisional dan sistem pendidikan sekuler. Namun apakah dengan kedua sistem pendidikan itu mampu merubah keadaan sosial padaa saat itu? Apakah dengan kedua pendidikan tersebut mampu menjadi masyarakat yang sukses di dunia dan diakhirat?

Pendidikan tradisional yang diselenggarakan oleh pondok pesantren dengan kurikulum seadanya, metode yang monoton, penyampian ilmu hanya satu arah yaitu sumber ilmu hanya terpusat dari guru atau kiyai. Selain soal kurikulum dan metode, pondok pesantren pun minim dari segi mata pelajaran. Karena pada umumnya di pondok pesatren hanya diajarkan ilmu agama saja. Dengan konsdisi yang demikian apakah pendidikan tradisional mampu membuat peserta didiknya mampu menjalani kehidupan seiring dengan perubahan zaman yang semakin modern?. Mungkin peserta didik yang menuntut ilmu di pendidikan tradisional (pondok pesantren) mereka unggul dari segi agama dan ibadah. Namun bagaimana dalam kehidupannya di dunia tanpa ilmu pengetahuan alam sama sekali?.

Pendidikan sekuler yang di kuasai oleh kolonial Belanda. Memang memiliki metode dan kurikulum yang lebih bagus dan terstruktur dari pada sistem pendidikan teradisional. Namun menghilangan pelajaran agama. Bahkan para pelajar yang bersekolah di pendidikan sekuler terkadang memandang negatif tentang agama. Dengan kurikulum dan metode yang digunakan pendidikan sekuler akan menghasilkan pelajar yang dinamis, kreatif, penuh percaya diri dan mampu menghadapi perubahan zaman yang semakin modern. Namun manusia bukan hanya memikirkan kehidupan yang hanya sementara ini. dalam menjalankan kehidupan manusia pun butuh pedoman. Pedoman manusia itu adalah agama. Sedangkan pendidikan sekuler tidak mengajarkan agama sehingga mereka minim dengan pengetahuan agama.

Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi keagaam yang fokus pada bidang pendidikan telah menciptakan sebuha sistem pendidikan yang baru. Dengan menggabungkan kedua sistem yang ada. Dengan mengambil hal-hal yang positif dari kedua sistem pendidikan itu. Muhammadiyah mampu membangun pendidikan tradisional seperti pondok pesantren dengan metode dan kurikulum yang terstruktur dan pelajaran yang bukan hanya materi agama saja, tetapi materi pengetahun umum pun diajarkan. Begitupun dengan pendidikan yang sekuler. Bukan hanya materi umum saja yang diajarkan. Namun pelajaran agamamu pun diajarkan. Untuk mewujudkan itu semua bukanlah hal yang mudah. Hal yang dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan mengubah sistem pondok pesantren banyak mendapat kritikan pahit dari para kiyai dan pemuka agama yang lain. Karena menurut mereka mengikuti apa yang dilakukan oleh kolonial itu adalah kafir. Selain itu, memasukan materi agama kesekolah yang dikuasai kolonial bukan hal yang mudah pula, karena mereka sudah memandang negatif tenatang agama. Maka sulit untuk menberikan pemahaman tentang agama kepada mereka.

Diterbitkan di: 07 Maret, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    coba baca Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apakah peranan Ahmad Dahlan untuk rakyat? Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.