Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Menulis & Bicara>Presentasi>Konsep Komunikasi Dakwah Tentang Pola Berbusana Menurut Syariat Islam

Konsep Komunikasi Dakwah Tentang Pola Berbusana Menurut Syariat Islam

oleh: SYAMRILAODE    
ª
 
Sebelumnya perlu dikemukanan terlebih dahulu apa yang dimaksud busana. Kata busana biasa disinonimkan dengan kata pakaian, yaitu sesuatu yang dipakai untuk menutup tubuh. Fungsi busana ialah tergantung sipemakainya, karenanya ada yang cukup menggunakan busana atau pakaian untuk menutup badannya, ada pula yang memerlukan pelengkap seperti tas, topi, kaos kaki, selendang, dan masih banyak lagi yang menambah keindahan dalam berbusana.
Menurut kamus bahasa Arab, busana atau pakaian mempunyai banyak muradlif (sinonim) seperti libas bentuk jamak dari lubs yang berasal dari fi’il madhi: labisa-yalbasu yang artinya memakai, atau tsiyabun jamak dari tsaub yang artinya pakaian, juga disebut sirbalun yang jamaknya saraabiil, artinya juga baju atau pakaian.66 Saraabiil dapat pula diartikan gamis atau baju kurung (jubah). Di atas telah disebutkan bahwa Islam memberikan sandaran etika kepada wahyu, karenanya permasalahan etika tidak dapat dipisahkan dari keyakinan kaum muslimin terhadap eksistensi Tuhan Yang Maha Esa, yang mutlak dan transenden, serta syari’ahnya yang kokoh, sebagaimana hal itu juga terdapat pada agama lain. Tuhan, menurut keyakinan mereka tidak hanya sebagai pencipta (al-Khaliq) tetapi juga sebagai pembimbing atau petunjuk bagi perjalanan sejarah dan pengatur segala bentuk keteraturan alam semesta. Atau Tuhan juga sebagai al-Mudabbir (pengatur) dan al-Rabb (pembimbing, pendidik) bagi seluruh alam. Karena tekanan etika perbuatan manusia, etika Islam juga memperhatikan pola hubungan dan perbuatan. Dikenalah apa yang disebut “etika Islami”. Seperti cara bergaul, duduk, berjalan, makan-minum, tidur, dan pola berbusana. Artinya, ada patokan-patokan yang harus diikuti. Seperti dalam pola berbusana, menurut Ibrahim Muhammad Al-Jamal dalam bukunya, Fiqh Wanita, mengatakan; seorang muslimah dalam berbusana hendaknya memperhatikan patokan; menutupi seluruh tubuh selain yang bukan aurat yaitu wajah dan kedua telapak tangan. Tidak ketat sehingga masih menampakkan bentuk tubuh yang ditutupinya. Tidak tipis menerawang sehingga warna kulit masih bisa terlihat. Tidak menyerupai pakaian lelaki, tidak berwarna menyolok sehingga menarik perhatian orang.
Menurut M. Quraisy Shihab, al-Qur’an sendiri sebagai sandaran etika Islam, paling tidak menggunakan tiga istilah untuk busana (pakaian), yaitu libas, tsiyab, dan sarabil. Libas pada mulanya berarti penutup apa pun yang ditutup. Fungsi pakaian sebagai penutup amat jelas. Tetapi, tidak harus berarti “menutup aurat”, karena cincin yang menutup sebagian jari juga disebut libas, dan pemakainya ditunjuk dengan menggunakan akar katanya. Kata libas digunakan oleh al-Qur’an untuk menunjukkan pakaian lahir maupun batin, sedangkan kata tsyiyab digunakan untuk menunjukkan pakaian lahir. Kata ini terambil dari kata tsaub yang berarti kembali, yakni kembalinya sesuatu pada keadaan semula, atau pada keadaan yang seharusnya sesuai dengan ide pertamanya. Selain kata tersebut ada istilah lain yang lebih mendekati pada makna pakaian muslimah yaitu jilbab dan hijab. Kebanyakan para ulama memilih jilbab untuk istilah busana muslimah, dan sedikit yang menggunakan istilah hijab

Diterbitkan di: 30 Juni, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.