Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Menulis & Bicara>Presentasi>Asumsi dan Konsep Dasar Akuntansi

Asumsi dan Konsep Dasar Akuntansi

oleh: SYAMRILAODE    
ª
 
Dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) IAI menetapkan asumsi dasar sebagai berikut :
a. Dasar Akrual
Yang menyebutkan bahwa dalam mencapai tujuannya, laporan keuangan disusun atas dasar akural. Dengan dasar ini, pengaruh transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat kejadian (dan bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar) dan dicatat dalam catatan akuntansi serta dilaporkan dalam laporan keuangan pada periode yang bersangkutan. Laporan keuangan yang disusun atas dasar akural memberikan informasi kepada pemakai tidak hanya transaksi masa lalu yang melibatkan penerimaan dan pembayaran kas, tetapi juga kewajiban pembayaran kas di masa depan, serta sumber daya yang mempersentasekan kas yang akan diterima di masa depan.
b. Kelangsungan Usaha
Laporan keuangan biasanya disusun atas dasar asumsi kelangsungan usaha perusahaan dan akan melanjutkan usahanya dimasa depan. Oleh karena itu, perusahaan diasumsikan tidak bermaksud atau berkeinginan untuk melikuidasi atau membubarkan uasahanya.
Prinsip akuntansi disusun berdasarkan beberapa anggapan atau jalan pikiran dan pendapat para ahli. Anggapan dan pandangan dan pendapat dari para ahli inilah yang sering disebut sebagai konsep dasar. Perlu pula diingat bahwa tidak semua konsep yang diajukan oleh para ahli itu diterima sebagai salah satu dasar atau pertimbangan dalam penyusunan prinsip akuntansi. Secara umum prinsip-prinsip akuntansi pokok-pokoknya sebagai berikut :
1. Prinsip Biaya Historis (Historical of Cost principle)
Dalam menentukan jumlah yang haruis dicatat dan dilaporkan mengenai berbagai macam aktiva dan utang perusahaan menggunakan prinsip biaya historis atau harga perolehan kebaikan dan metode ini adalah adanya unsur kepastian, sedangkan kelemahannya adalah jika tingkat harga mengalami perubahan, sehingga tidak dapat dibandingkan dengan yang berlaku pada periode berikutnya.
2. Prinsip Pengakuan Pendapatan (Revenue of Recognition principle)
Agar dapat memberikan gambaran yang lebih baik dan terperinci, maka dalam laporan keuangan harus dicatat atau disajikan pendapatan dari usaha utama dan pendapatan di luar usaha utama yang sifatnya luar biasa secara terpisah. Besarnya pendapatan yang diperoleh diukur dengan uang yaitu dari harga tunai untuk transaksi penjualan barang dagangan, jasa dan aktiva-aktiva lainnya. Untuk transaksi yang bukan tunai harus ditentukan pada saatnya menurut harga tunainya atau harga pasanya.
3. Prinsip Mempertemukan (Matching principle)
Suatu laporan keuangan yang disajikan, pada hakikatnya harus mempertemukan secara layak antara biaya-biaya yang dikeluarkan dengan pendapatan-pendapatan yang diterima selama satu periode akuntansi yang sama . Sehubungan dengan hal ini, suatu pendapatan yang telah diakui pada periode sebelumnya sebagian ada yang ditangguhkan, maka unsur biaya yang berkaitan dengan pendapatan itu harus ditangguhkan sesuai dengan periode pendapatan yang bersangkutan. Hal tersebut ditujukan untuk menyajikan laporan keuangan dengan pendapatan laba bersih yang wajar sesuai dengan periode akuntansi yang bersangkutan.
4. Prinsip Pengungkapan Penuh (Full Disclosure Principle)
Data informasi mengenai keadaan keuangan sekali tidak boleh disembunyikan pada saat membuat dan menyajikan suatu laporan keuangan. Segala sesuatunya harus disajikan secara lengkap dan mencakup seluruh kegiatan perusahaan.
5. Prinsip Obyektivitas (Objectivity Principle)
Manfaat dari suatu laporan keuangan ditentukan oleh obyektivitas dengan pembuktian dan kebenaran data tersebut. Hal ini untuk menghindari terjadinya salah penilaian, yang kemudian akan mengakibatkan kesalahan dalam interpretasi dalam mermbuat laporan keuangan.
Sehubungan dengan prinsip obyektivitas ini, Maurice Moonitz dalam Teodorus Tuanakotta (2000 : 82) menyatakan bahwa : “perubahan dalam assets dan liabilities dan akibat dari perusahaan (kalau ada) terhadap revenue, expenses, retained earnings dan lain-lain boleh diakui secara formal sebelum perubahan-perubahan tersebut dapat diukur secara obyektif”.
6. Prinsip Konsistensi (Consistency Principle)
Laporan keuangan suatu perusahaan seringkali dibandingkan dengan laporan tahun sebelumnya, dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan yang telah dicapai. Agar laporan keuangan dapat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, maka metode dan prosedur-prosedur yang digunakan dalam proses akuntansi harus diterapkan secara konsisten dari tahun ke tahun. Demikian pentingnya masalah konsistensi ini sehingga pada akuntan publik yang melakukan pemeriksaan (audit) atas laporan keuangan dari suatu perusahaan tertentu memusatkan perhatiannya pada masalah ini. Masalah ini harus dikemukakan oleh akuntan publik yang melakukan audit pada laporan pendapatnya, sebagai hasil pemeriksaan atas laporan keuangan secara keseluruhan.
7. Prinsip Material (Materiality Principle)
Prinsip material ini menyangkut masalah apakah suatu jumlah perlu diperhitungkan atau tidak, karena jumlah tersebut mempunyai arti atau penting. Pada prinsip material ini, yang dipergunakan sebagaqi ukuran bukan besar kecilnya jumlah yang harus dicatat. Prinsip ini bertitik tolak dari pengaruh transaksi terhadap kegiatan ekonomi yang dilakukan perusahaan. Jika pengaruhnya cukup berarti dalam mempengaruhi keputusan-keputusan maka dianggap cukup material.
8. Prinsip Konservatif (Conservatism Principle)
Prinsip ini menyatakan bahwa :
1. Kenaikan nilai aktiva dan laba yang diharapkan tidak akan dicatat sebelum direalisasi.
2. Penurunan nilai aktiva dan kemungkinan kerugian yang akan timbul harus dicatat, walaupun jumlahnya belum dapat dipastikan.
Prinsip ini merupakan manifestasi dari sikap hati-hati dalam menghadapi ketidakpastian. Hal ini timbul karena anggapan bahwa neraca itu dibuat untuk memenuhi kebutuhasn kreditur, investor, para pemilik dan pemakai laporan keuangan lainnya, sehingga ditekankan pada penilaian dengan jumlah yang lebih rendah.
9. Prinsip Kelengkapan (Completeness principle)
Agar dapat diandalkan, informasi laporan keuangan harus lengkap dengan batasan materialistis dan biaya. Kesengajaan untuk tidak mengungkapkan (omission) mengakibatkan informasi menjadi tidak benar atau menyesatkan dan karena itu tidak dapat diandalkan dan tidak sempurna ditinjau dari segi relevansi.
10. Prinsip dapat Dimengerti (Understandability Principle)
Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh pemakai. Untuk maksud ini, pemakai diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi serta kemauan untuk mempelajari informasi dengan ketekunan yang wajar.
Diterbitkan di: 12 Oktober, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apakah asumsi akuntan mengandung kelemahan???? jelaskan Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apa gunanya mempelajari teori akutansi Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    prinsip harga perolehan Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.