Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Menulis & Bicara>Presentasi>Nikmatnya Berpuasa di Bulan Ramadhan Bersama Rasulullah SAW

Nikmatnya Berpuasa di Bulan Ramadhan Bersama Rasulullah SAW

oleh: SYAMRILAODE    
ª
 
Begitu banyak keutamaan dan keistimewaan bulan Ramadhan yang seharusnya dinikmati oleh umat ini, tapi sempitnya ilmu sering menjadi penghalang. Orang berpuasa banyak yang sekedar menahan lapar dan haus, tak mampu menggapai janji-janji Allah Ta’ala yang bertebaran di Kitab-Nya dan yang melalui lisan Rasul-Nya. Akhirnya Ramadhan pun berlalu seperti bulan biasa, tak berbekas di jiwa, dan tak mendatangkan manfaat nyata bagi mereka yang berpuasa.

Di buku ini, ulama dan ahli hadits besar abad ke-20, Syeikh Muhammad Shalih al-Utsaimin (1925-2001 M), mengajak kita menyelami makna puasa yang sesungguhnya, dan segenap adab dan aturan yang telah diterangkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebuah ibadah yang bila dijalankan sesuai contoh Rasulullah dan para sahabatnya, pasti akan membuat kita sebagai ‘manusia baru’ setiap tahunnya, yang berat timbangan pahalanya dan bersih dari dosa.

Sebagai ulama dan ahli hadits besar, nama Syaikh Utsaimin sering disejajarkan dengan dua ahli hadits hebat lainnya di abad 20, yaitu Syekh Abdul Aziz bin Baz (Arab Saudi) dan Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani (Albania). Ia juga dikenal sebagai ulama yang zuhud dan wara’, hingga pernah menolak jabatan sebagai qadhi di sebuah wilayah penting di negaranya.

Selain mengajar dan ceramah, Syeikh Utsaimin dikenal pula produktif menulis. Tak kurang dari 50 buku sudah ditulisnya, kebanyakan bertema fikih dan hadits.
Rasulullah SAW mulai berpuasa di bulan Ramadhan ketika melihat
hilal (awal bulan). Dalam sebuah hadits beliau bersabda, "Apabila
kamu melihat hilal, maka berpuasalah. Apabila kamu melihat hilal
(pertanda datangnya bulan Syawal), maka berbukalah. Dan apabila kamu
masih ragu maka berpuasalah tiga puluh hari penuh," (HR Bukhari).
Kaum muslimin dianjurkan untuk mempersatukan ru'yah, di beberapa
mathla' (tempat biasanya terbit bulan). Menurut pendapat yang kuat,
ru'yah bisa disahkan kalau hilal bisa dilihat dari negeri itu. Sebab,
mathla' masing-masing tempat berbeda, (Ma'a Rasulillah Fii Ramadhan,
Athiyah Muhammad Salim).
Ketika hendak berpuasa, Rasulullah saw senantiasa melaksanakan
sahur walaupun hanya dengan kurma atau air putih saja. Rasulullah
bersabda, "Bersantap sahurlah, karena di dalam makan sahur itu
terdapat berkah," (HR Bukhari Muslim).
Beliau senantiasa melaksanakan sahur di akhir malam menjelang
Subuh, kira-kira selama orang membaca lima puluh ayat. Hal ini
diungkapkan oleh Zaid bin Tsabit dalam sebuah hadits, "Kami makan
sahur bersama Rasulullah saw kemudian beranjak untuk melaksanakan
shalat Subuh." Anas bertanya, "Berapakah jarak waktu antara
keduanya?" Zaid menjawab, 'Kira-kira selama puluh ayat," (HR Bukhari
Muslim).
Selain mengakhirkan sahur, Rasulullah saw juga senantiasa
menyegerakan berbuka. Dalam sebuah hadits qudsi
dijelaskan, "Sesungguhnya hamba-hamba-Ku yang paling Aku sukai adalah
mereka yang menyegerakan berbuka," (HR Imam Ahmad dan Tirmidzi).
Ketika berbuka beliau selalu menyantap makanan yang belum dimasak,
seperti kurma atau buah-buahan lain. Jika tidak beliau meminum
seteguk dua teguk air putih, lalu melaksanakan shalat Maghrib. Dalam
sebuah hadits dijelaskan, "Apabila salah seorang di antara kamu
berbuka, maka berbukalah dengan kurma. Jika tidak maka berbukalah
dengan air. karena air itu suci dan menyucikan," (HR Imam Ahmad dan
Abu Daud).
Saat berpuasa, Rasulullah selalu berpenampilan rapi. Rasulullah saw
bersabda, "Tampillah kamu pada pagi hari saat berpuasa dengan keadaan
(rambut berminyak) rapi,' (HR Tabrani).
Pada malam-malam Ramadhan, Rasulullah memperlakukan istrinya,
seperti pada malam-malam biasa. Beliau tetap memenuhi hak istrinya
dengan baik. Aisyah dan Ummu Salamah meriwayatkan, "Sesungguhnya
Rasulullah saw pada pagi (saat berpuasa) dalam keadaan junub, dan
bukan karena bermimpi. Beliau meneruskan puasanya," (HR Bukhad
Muslim). Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yang terdapat dalam
QS surah al-Baqarah: 187.
Rasulullah saw juga senantiasa meningkatkan kedermawanannya pada
bulan Ramadhan. Beliau selalu ringan tangan, menolong orang lain dan
memberikan makanan untuk mereka yang berpuasa. Dalam sebuah hadits
beliau bersabda, "Barangsiapa yang memberi makan untuk berbuka orang
yang berpuasa, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang
berpuasa, tanpa sedikitpun mengurangi pahala orang yang berpuasa
itu," (HR Tirmidzi 1/243 dari al-Albani dan Ibnu Majah 1746).
Diterbitkan di: 05 Agustus, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

5 Teratas

.