Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Menulis Bagi Mahasiswa?

oleh: AnasMaulana     Pengarang : Anas Maulana
ª
 
Budaya plagiaris di kampus menjadi subur dikarenakan minat menulis mahasiswa rendah. Cara fikir instan meracuni kebanyakan otak mahasiswa. Mereka hanya punya satu orientasi agar tugas kuliah yang membebani dapat terselesaikan secepatnya, tidak peduli dengan caranya apakah hal tersebut plagiat atau tidak. Di era cyber sekarang ini sangat mudah mencari dan menemukan apa saja di internet. Dan sangat mudah bagi mahasiswa untuk berbuat curang dalam penulisan dan pengerjaan tugas kuliah semisal membuat makalah atau karya tulis ilmiah. Mereka cuma klik dan paste dalam dokumen yang baru lalu mengklaim untuk namanya.
Rendahnya budaya menulis mencerminkan rendahnya pengetahuan. Menulis adalah sebuah refleksi ide. Seorang penulis harus tahu setiap jengkal kata yang tercoretkan dalam tulisannya. Kita dapat mengukur bobot wacana seseorang dari produk tulisannya. Namun sekarang banyak muncul mahasiswa-mahasiswa 'kopong' (kosong), walaupun mereka banyak menghasilkan produk-produk tulisan, tetapi mereka tidak mampu untuk menjelaskan konsep-konsep ide di dalamnya karena dalam prosesnya mereka hanya 'mengaku' menjadi penulis tapi bukan 'penulis'.
Rendahnya minat mahasiswa dibidang tulis-menulis ini juga dirasakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) khususnya di kampus penulis STAIN Salatiga mengalami penurunan minat keanggotaan baru . Dari tahun ketahun terjadi penyusutan minat mahasiswa untuk bergabung dalam lembaga ini. Memang banyak faktor yang mendasarinya, salah satunya adalah mahasiswa sekarang lebih bersikap apatis dan praktis dalam proses perkuliahan mereka. Mereka hanya sibuk kulih saja.
Budaya menulis akan ada jika sudah ada setingan budaya membaca. Membaca adalah sebuah proses dialog ide. Ruang-ruang informasi serta transformasi ide terjadi saat proses membaca. Dengan membaca akan terjadi dialog ide yang tidak terbatas pada ruang dan waktu. Pembacaan dapat dilakukan oleh antar generasi, tentunya melalui media tulisan. Bagaimana kita dapat membaca ide masa lalu jika tidak ada dokumennya? Melihat hal tersebut maka budaya menulis menjadi sangat penting.
Diterbitkan di: 08 Desember, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.