Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Hakikat berqurban

oleh: arius     Pengarang : Raras
ª
 
Pada bulan Ramadhan yang lalu, kita baru saja menyelesaikan ibadah shiyam Ramadhan, sebulan penuh, yang intinya ibadah Ramadhan itu adalah mencerdaskan kecerdasan emosi kita. Namun demikian belum selesai Ramadhan yang kita lakukan berlalu di hadapan kita, ternyata di sana-sini masih terjadi bentrokan, terjadi keributan, terjadi kericuhan, yang itu membuktikan bahwa kecerdasan emosi kita belum mencapai titik yang seharusnya kita capai. Keributan, kericuhan dan bentrokan masih saja terus terjadi sampai saat ini. Oleh karena itu barangkali puasa kita masih perlu dipertanyakan kualitasnya. Sebab nilai puasa itu seharusnya kita pertahankan seumur hidup, tidak begitu selesai Ramadhan, selesai pula puasa itu.

Hari-hari ini kita masih berada di dalam hari raya Idul Adha (hari raya kurban) yang inti hari raya ini sebenarnya adalah mengasah dan mempertajam kecerdasan sosial kita, di samping kecerdasan spiritual. Maka dengaan ibadah kurban ini, kita diajak untuk mempunyai kecerdasan sosial dan itu merupakan salah satu kriteria yang utama dari keimanan dan keislaman kita. Bahkan kalau boleh saya mengatakan bahwa kesiapan berkurban, keikhlasan mengurbankan milik kita dalah buah yang sangat inti, buah yang sangat esensial dari ajaran agama islam. Sebab Islam datang untuk membawa rahmat untuk alam semesta, Islam membawa ajaran kasih sayang, bukan saja kepada siapapun tetapi juga kepada apapun, dimanapun, kapanpun dan dalam kondisi yang bagaimanapun. Itulah rahmat lil 'alaamin. Dimanapun kita harus siap mengasihi dan menyayangi, siap berbagi, siap untuk memberi. Semua itu tidak mungkin kita lakukan kalau tidak siap untuk mengorbankan sebagian milik kita.

Kesiapan berkurban itu juga merupakan bagian dari ujian keimanan dan ke Islaman kita. Jadi kalau kita tidak siap berkurban, maka Islam kita dan Iman kita masih perlu dipertanyakan. Dan sebenarnya kalau kita merenungkan secara jernih, kesiapan untuk berkurban, kesiapan untuk memberikan sesuatu yang kita miliki kepada orang lain itu adalah kebutuhan hidup yang asasi dan sekaligus sebagai solusi dari berbagai masalah. Kesenjangan sosial terjadi tidak lain karena keserakahan sesama kita, yang keserakahan itu berarti kita tidak siap memberikan milik kita kepada pihak lain. Konflik yang selama ini terjadi itu juga tidak lain karena diri kita tidak siap untuk berkurban, termasuk disini berkurban perasaan.

Orang yang emosional orang selalu marah-marah, mudah tersinggung, berarti orang itu tidak siap untuk berkurban, meskipun itu sekedar berkorban perasaan. Kalau kita siap berkurban untuk itu saya yakin konflik itu tidak akan terjadi, kesiapan untuk mengaku salah, itu juga pengorbanan. Dan kalau kita tidak siap melakukan itu, maka yang terjadi adalah benturan dan konflik yang terus-menerus antar kita, dan realitanya inilah yang masih terjadi pada masyarakat dan bangsa ini.

Oleh karenanya, ibadah kurban sebenarnya tidak bisa selesai dalam ayyamut tasyrik (hari tasyrik). Keikhlasan berkurban harus kita aktualisasikan dalam kehidupan yang terus menerus sampai akhir hayat. Oleh karenanya, tidak aneh kalau Allah juga menjanjikan kesiapan berkurban itu sebagai kunci utama sukses kehidupan ini. Firman Allah dalam surat al-Kautsar : 1: Innaa a'thoinaa kal kautsar (sungguh kami Aku (Allah) telah memberi kamu nikmat yang banyak), ini adalah penegasan Allah bahwa segala yang kita miliki ini adalah milik Allah, bukan milik kita, itu hanyalah amanat yang dipercayakan kepada kita, pemiliknya adalah dia. Maka perintah berikutnya : Fasholli lirabbika wan haar (maka shalatkah untuk tuhanmu dan berkurbanlah), maka tegakkanlah sholat, bangun komunikasi langsung dengan Allah setiap saat di manapun, kapanpun, dalam kondisi yang bagaimanapun, jangan sampai terputus.

Yang pertama, dan terutama komunikasi melalui sholat, karena sholat adalah audensi kita dengan Allah (mikraj kita secara langsung di hadapan Allah). Shalat ini sangat berbeda dengan rukun islam yang lain. Kalau yang lain ada yang sekali seumur hidup, ada yang sekali setahun. Tetapi sholat, komunikasi dengan Allah harus berlangsung sepanjang masa setiap saat tiadak boleh berhenti. Inilah kunci sukses yang pertama dan utama, tanpa itu kita tidak akan pernah mendapatkan kesuksesan.

Yang kedua, wanhar (dan berqurbanlah), siaplah untuk mengorbankan sebagaian milik kita untuk kepentingan pihak lain. Bahkan itu juga merupakan investasi buat kita yang kekal dan aabadi, pengorbanan kita akan melahirkan kerukunan dan keharmonisan hidup, akan menjauhkan kita dari segala bencana termasuk penyakit, membentengi dari ancaman api neraka dan juga akan membuka pintu surga. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah dalam surat Ash-Shoff ayat 9 dan 10 yang maknanya : "Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedhi (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang terbaik bagimu, jika kamu Mengetahui.

Ada bisnis yang paling menguntungkan yang bisa menyelamatkan kita dari ancaman api neraka. Intinya adalah setelah kita mengaku bersyahadat, mengaku beriman kepada Allah, kita harus siap mengorbankan milik Allah yang dititipkan kepada kita. Pertama adalah harta, dan ini yang paling ringan, yang kedua, jiwa. Kalau ini kita lakukan, itulah yang terbaik, kita mendapat ampunan dosa, dan kita akan mendapatkan surga, suatu tempat yang sangat mulia. Jadi dengan kata lain surgapun dapat diraih kalau kita siap untuk berkurban setiap saat. Dan pengorbanan yang paling penting adalah harta, baru puncaknya adalah kita siap untuk mengorbankan jiwa.

Saya kira negara kita berdiri juga karena pengorbanan para pemimpin kita, pada saat bergema takbir, mereka tidak pernah punya bayangan setelah berkorban untuk bangsa ini, berfikir untuk memiliki jabatan tertentu, mereka hanya ingin negeri ini merdeka dan untuk ini mereka siap mengorbankan segalanya yang mereka miliki.

Kebesaran seseorang ternyata ukurannya juga bukan kekayaan, bukan kepintaran, tetapi seberapa jauh, seberapa besar dia siap mengorbankan miliknya untuk kepentingan orang banyak. Itulah yang membuat seseorang menjadi besar, baik besar di hadapan Allah maupun dihadapan kita.
Diterbitkan di: 17 Juni, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.