Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Menulis & Bicara>Lingkungan dan Pemuda

Lingkungan dan Pemuda

oleh: Sarumaha    
ª
 

Ini adalah salah satu essay yang sangat luar biasa mengenai lingkungan

Pemuda Harus Mampu Kontrol Kapitalis

/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-style-parent:""; line-heigh t:115%; font-size:11.0pt; font-family:" Calibri","sans-serif"; mso-fareast-font-family:"TimesNew Roman";}

Oleh bayu Pramono (Supermember of Indonesia green action forum)

Sejak dahulu manusia beinteraksi dengan alam sekitarnya. Sama seperti halnya hewan, manusia pun senantiasa mengambil manfaat dari alam. Namun manusia berbeda dengan hewan, manusia tidak hanya memanfaatkan alam sekitar. Misalnya, membangun pemukiman dengan cara menebang hutan dan meratakan bagian pegunungan, atau membangkitkan listrik dengan menggunakan minyak yang mereka tambang. Manusia dapat menikmati kehidupan yang lebih baik dengan cara memanfaatkan dan mengubah alam.

Alam adalah anugrah dahsyat dari Tuhan yang wajib dipelihara kelestariannya. Bumi, alam raya beserta isinya tidak boleh dilukai, tidak boleh dirampas haknya, karena sesungguhnya mereka juga makhluk Tuhan yang patut dihormati dan dijaga kesinambungannya dalam kehidupan ini. Alam pun ‘bisa marah’, jika manusia terus-menerus menggerogoti, merambah, dan membunuh yang menjadi haknya alam, hak bumi, hak air, hak hutan, hak hewan, hak tumbuhan, dan hak hidup lainnya. Lebih jauh lagi, Tuhan juga tentu ‘marah’ jika manusia tidak menjaga hubungan yang harmonis dengan alam raya ini. Maka sesunguhnya, Tuhan telah memberikan kepercayaan yang besar kepada umat manusia untuk memelihara dan menjaga relasi yang indah antara manusia dengan makhluk Tuhan lainnya.

Namun kepentingan untuk melestarikan alam di satu sisi, dihadapkan pada kebutuhan dan keinginan manusia agar bisa bertahan hidup. Kebutuhan dan keinginan itulah yang menjadi semacam ‘kepentingan’ untuk selalu dipenuhi, yang pada gilirannya ditafsirkan sebagai kepentingan ekonomi. Sadar atau tidak, manusia terus berlomba untuk memenuhi kepentingan ‘perut’-nya dengan berbagai cara. Karena sebagian besar manusia menganggap bahwa dengan menguasai ‘ekonomi’ maka kepentingan lainnya dapat diraih dengan mudah. Maka ilmu ekonomi ditafsirkan oleh kebanyakan manusia sebagai ilmu yang mempelajari perilaku manusia untuk memenuhi kebutuhannya yang tidak terbatas dengan sumber daya yang terbatas. Lalu apa akibatnya dari pemahaman semacam itu?, karena ideologinya memandang bahwa kebutuhan itu ‘tidak terbatas’, maka segala cara dihalalkan demi pemuasan kebutuhan secara maksimal. Keyakinan itu pula telah menimbulkan kerakusan dan menghalalkan segala cara. Padahal kebutuhan-keinginan tanpa ujung bisa melahirkan sumber penderitaan.

Kegiatan manusia yang seharusnya merupakan salah satu bagian dari alam itu sendiri dalam memanfaatkan sumber daya alam tanpa disadari dapat meerugikan kehidupan manusia itu sendiri. Misalnya, manusia memanfaatkan aneka hasil tambang untuk membuat berbagai peralatan rumah tangga. Peralatan rumah tangga tersebut menjadikan hidup kita lebih mudah dan lebih nyaman. Namun pabrik yang membuat berbagai peralatan rumah tangga tersebut menghasilkan juga asap, limbah cair dan sampah padat. Asap yang dikeluarkan dari pabrik tersebut tentu mencemari udara menjadi kotor. Limbah cairnya akan mengotori sungai dan laut, lalu tercemarlah ikan yang hidup di dalamnya. Dan banyak orang sakit bila memakan ikan tercemar tersebut. Sampah padat biasanya dibiarkan menumpuk di atas tanah, akibatnya tanah menjadi kotor dan tidak subur. Manusia pun sering memakai sumber daya alam secara berlebihan dan menggantungkan pada sumber daya alam tertentu. Misalnya, kini manusia sangat tergantung pada minyak bumi yang terbatas ketersediannya. Suatu saat, jika minyak bumi itu habis, kehidupan manusia akan mengalami kekacauan. Mari kita bayangkan, mungkin pada saat itu mobil tidak dapat digunakan, listrik tidak dapat dibangkitkan dan pakaian tidak dapat dibuat.

Menurut Hans Küng, penulis buku A Global Ethic for A Global Politic and A Global Economy (1997), aplikasi ekonomi liberal dan ekonomi sosial merupakan akar dari krisis ekologis. Dengan menyandarkan diri pada ekonomi pasar bebas, ekonomi liberal maupun ekonomi sosial mereduksi etika ekonomi menjadi etika bisnis. Ekonomi pasar bebas mereduksi etika ekonomi menjadi kebebasan individual, sedangkan dengan beban sosial mereduksi etika ekonomi menjadi sekadar kewajiban sosial dengan berasumsi bahwa etika akan berjalan dengan otomatis, padahal dalam kenyataannya tidaklah demikian. Baik ekonomi liberal maupun ekonomi sosial menerapkan paradigma pertumbuhan yang menjadikan alam sekadar menjadi komoditi untuk dieksploitasi dan dipasarkan. Akibatnya, seluruh umat manusia, di manapun berada ikut terpengaruh mengeksploitasi dan mencemari alam karena daya tarik produksi tinggi dan tekanan konsumsi tinggi. Dalam teori ekonomi pasar bebas, gagasan tentang kepentingan bersama (bonum commune) tidak mendapat tempat karena yang lebih penting adalah kebebasan individu yang memungkinkan terjadinya persaingan. Dalam situasi seperti itu keuntungan menjadi sama dengan moral atau menjadi satu-satunya standar moral. Dengan demikian manusia didorong menjadi homo economicus dalam tekanan perlombaan terus memproduksi dan terus mengkonsumsi lebih banyak dan makin banyak. Situasi ini sungguh sangat mempengaruhi seluruh pola berperilaku manusia masa kini, berjalan selalu tergesa-gesa, takut ketinggalan, hidup seperti terus terdesak, tak lagi mampu mengendalikan diri dalam semua aspek kehidupan.


Pesatnya perkembangan indutrialisasi di dunia mengakibatkan peningkatan gas karbondioksida di atmosfir menyebabkan pemanasan global di mana suhu udara bumi semakin naik. Apabila demi kelestarian lingkungan kita terlalu menahan diri, indutrialisasi akan terhenti, penghasilan akan menurun, kemajuan atau pembangunan masyarakatpun tidak dapat lagi kita harapkan. Oleh karena itu kita harus memikirkan agar kemajuan masyarakat dan pelestarian lingkungan dapat kita jalankan bersama – sama.

paradigma economy based ecology patut dihidupkan, yaitu pola prilaku ekonomi dalam mengelola, memanfaatkan, serta mengkonsumsi sumber daya alam yang berdimensi kelestarian ekosistem dan berdimensi kemanusiaan. Pola ekonomi growth oriented yang menistakan manusia dan alam, harus segera diakhiri. Apalah gunanya pertumbuhan ekonomi, berkembangnya kawasan, kalau kemudian melahirkan bencana, kerusakan, dan kemiskinan. Aksi kolektif juga perlu dilakukan untuk menjawab persoalan krisis ekologi, baik pada ranah gerakan sosial maupun ranah gerakan politik. Gerakan sosial sebagaimana yang diungkapkan Fuchs (2000) merupakan perjuangan kolektif demi perubahan atau sebaliknya untuk menentang perubahan itu sendiri. Gerakan politik diperlukan karena didasari oleh sebuah kesadaran bahwa keadaan lingkungan adalah produk/hasil dari proses-proses politik. Namun ekologi-politik tidak hanya berarti praktek dan proses politik tentang ekosistem, harus lebih dari itu, ia harus menyentuh wilayah ideologi, formulasi ilmu pengetahuan dan pengujian-rasional, hingga perjuangan keadilan lingkungan.

Diterbitkan di: 21 Mei, 2013   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.