Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Kiblat

oleh: aynoonadjieb    
ª
 

A. Pengertian Kiblat dan Pembahasan Masalah Arah Kiblat

Kiblat menurut bahasa artinya arah, yang dimaksud kiblat disini adalah Ka’bah, meskipun disebutkan kiblat itu arah, tetapi yang dikehendaki disini adalah ka’bah, karna yang diperintahkan adalah menghadap ka’bah dalam shalat. Menurut syara’, istilah qiblah ini kemudian digunakan secara khusus untuk arah yang dihadapi orang-orang Islam ketika menjalankan shalat. Karna bagi orang yang shalat diperintahkan untuk menghadap ke arah ka’bah.[1]

Merupakan syarat sebelum masuk mengerjakan shalat yang kelima, adalah menghadap kiblat (ka’bah), ia dinamakan kiblat karna orang yang shalat menghadap kepadanya, dan ia dinamakan ka’bah, karena tinggi bangunannya. Adapun menghadap ka’bah dengan dada itu menjadi syarat bagi orang yang kuasa (mampu).[2]

Dari pembicaraan mengenai syarat menghadap kiblat tersebut, Syekh Muhammad Ibn Qasim Asy-Syafi’i berpendapat, beliau mengecualikan bahwa boleh meninggalkan kiblat diwaktu shalat dalam dua keadaan, yaitu:

1. Dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan ditengah-tengah pertempuran, baik shalat itu fardhu atau sunnah.

2. Shalat sunnah diatas kendaraan pada waktu bepergian, maka boleh bagi orang yang sedang bepergian yang tidak bertujuan untuk maksiat meskipun jaraknya dekat untuk mengerjakan shalat sunnah dengan menghadap arah yang menjadi tujuan bepergiannya.[3]

Bagi orang yang naik kendaraan hewan, maka tidak wajib meletakkan peningnya diatas lapaknya hewan yang ditumpangi itu, tetapi hendaknya memberi isyarat dengan melalui ruku’ dan sujudnya, karena sujudnya itu lebih rendah daripada ruku’nya.[4]

Adapun orang yang berjalan kaki, maka wajib baginya menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, dan wajib pula menghadapkan ruku’ dan sujudnya kearah kiblat, tidak boleh berjalan kecuali pada waktu orang tersebut berdiri dan ketika bertahiyyat.[5]

Dalam sejarah agama samawi, ada dua tempat suci yang pernah ditetapkan sebagai kiblat dalam shalat, yaitu Baitul Maqdis (Bait al-Muqaddas) di Palestina dan Baitullah atau Ka’bah di Masjidil Haram Mekah. Sampai sekarang, Baitul Maqdis masih menjadi kiblatnya kaum Yahudi. Nabi Muhammad saw. sendiri pernah menghadap Kiblat Baitul Maqdis ini ketika Beliau masih di Mekah dan di Madinah. Setelah itu, kemudian turun wahyu mengenai Kiblat ke Ka’bah Masjidil Haram, dan Kiblat inilah yang diinginkan oleh Nabi saw.

Menurut riwayat, ketika Nabi saw. masih menghadap ke Kiblat Baitul Maqdis, sering kali mendapat olokan dari orang-orang Yahudi. Sampai Beliau pernah berkata kepada Jibril a.s. “Saya ingin sekali kalau saja Allah memalingkan (membelokkan) saya dari kiblatnya orang-orang Yahudi ke tempat lain.” Tempat lain yang dimaksud adalah Baitullah. Kemudian, Nabi saw. selalu menengadah ke langit dalam setiap menjalankan shalat sebagai permohonan kepada Allah agar kiblatnya diganti ke Ka’bah, dan permohonan itu akhirnya dikabulkan oleh Allah dengan turunnya wahyu Surat Al-Baqarah [2]: 142.

Menurut riwayat, ayat tersebut turun ketika Nabi saw. menjalankan shalat jamaah di Masjid Banu Salamah di Madinah. Setelah rakaat pertama, tiba-tiba Nabi mendapatkan wahyu agar membelokkan kiblatnya ke arah Baitullah di Mekah. Para jamaah mengikuti tindakan Nabi tersebut. Sejak peristiwa ini, Masjid Banu Salamah dikenal sebagai Masjid Qiblatain (Masjid dua Kiblat).

Hikmah (tujuan) perubahan kiblat ini adalah untuk mengetahui siapa yang loyal mengikuti Nabi saw. dan siapa yang tidak, untuk membedakan mana yang fasiq dan mana yang tidak, sekaligus sebagai ujian keimanan umat Islam pada saat itu. Disamping itu, untuk memperkuat mental umat Islam saat itu yang mendapat cercaan orang-orang Yahudi.

Para ulama sepakat bahwa mengahadap kiblat itu menjadi syarat sahnya shalat, kecuali shalat khauf (dalam keadaan takut, siaga, perang), shalat di atas kendaraan, orang yang tidak mengetahui arah kiblat, orang yang terikat (marbuth), dan orang sakit yang tidak bisa menggeser tubuhnya ke arah kiblat, mungkin karena tidak ada orang yang membantunya. Dalam keadaan seperti itu maka diperbolehkan menghadap ke arah mana saja yang bisa dan atau diyakini sebagai arah kiblat.[6] Artinya, menghadap kiblat itu harus dilakukan dalam keadaan mampu dan aman dari serangan musuh atau hewan buas.

Mereka juga bersepakat bahwa bagi orang yang dapat melihat ke ‘Ainul Ka’bah secara langsung, maka harus mengahadap ke ‘Ainul Ka’bah.[7] Jika tidak dapat melihat ‘Ainul Ka’bah secara langsung, seperti karena jarak yang jauh dari Ka’bah, maka disinilah kemudian menimbulkan ikhtilaf di kalangan ulama: Apakah yang wajib itu menghadap ke ‘Ainul Ka’bah atau Jihatul Ka’bah. Berikut ini akan diuraikan beberapa hal yang berkaitan dengan arah kiblat.

Lafal “al-Masjid al-Haram” dalam surat Al-Baqarah: 144 dan 150 mengandung banyak arti: Ka’bah; Masjidil Haram; Makkah al-Mukarramah; dan semua Tanah Haram (Mekah dan sekitarnya). Tetapi yang dimaksud lafal tersebut adalah Ka’bah, sebagaimana pendapat para Fuqaha’.[8]


[1] Abu Bakr Ibn Sayyid Muhammad Syatha’ Ad-Dimyati, I’anah at-Thaliban Juz I, hlm. 123.

[2] Drs. H. Imran Abu Amar, terjemah Fathul Qarib, hlm. 85.

[3] Ibid.

[4] Ibid, hlm. 86.

[5] Ibid.

[6] Syaikh Zainuddin Ibn Abd al-‘Aziz, Fath al-Mu’in, hlm. 15.

[7] Abu Bakr Ibn Sayyid Muhammad Syatha’ Ad-Dimyati, I’anah at-Thaliban Juz I, hlm. 123.

[8] Ibid.

Diterbitkan di: 14 Januari, 2013   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.