Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Menulis & Bicara>Hak dan Kewajiban Laki-Laki dan Perempuan

Hak dan Kewajiban Laki-Laki dan Perempuan

oleh: yasira    
ª
 
Allah SWT adalah pencipta manusia, baik laki-laki maupun
perempuan. Dalam pandangan-Nya, tidak ada kelebihan
salah satu dibandingkan yang lain. Bagi-Nya, satu-satunya
ukuran yang membedakan kedudukan mereka adalah
ketaqwaannya. Dalam al-Quran Allah SWT. berfirman:

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari
seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling
mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling
taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha
mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. al-Hujurat [49]:13)

Baik laki-laki maupun perempuan dapat meraih
kedudukan yang tertinggi dengan jalan taat kepada aturan
Allah SWT. Menurut Islam, laki-laki dan perempuan boleh
beraktivitas di tengah masyarakat sesuai kedudukan mereka
sebagai manusia. Allah SWT telah mengamanahkan
tanggung jawab yang sama kepada laki-laki dan perempuan,
sesuai dengan fakta bahwa mereka memiliki kesamaan dalam
hal kebutuhan fisik, naluri, dan kemampuan akal. Tapi, Allah
SWT juga memberikan kepada keduanya tanggung jawab
yang berbeda, sesuai sifat jenis kelamin keduanya yang berbeda.

Dalam hal-hal yang keduanya memiliki kesamaan,
Allah SWT memberikan tanggung jawab yang sama.
Keduanya memiliki kewajiban menjalankan shalat, puasa,
zakat, haji, berbakti kepada kedua orangtua,
mendakwahkan Islam, mengoreksi kebijakan penguasa,
dan sebagainya. Sedangkan dalam hal-hal yang keduanya
memiliki perbedaan, Allah SWT pun memberikan
tanggung jawab yang berbeda kepada keduanya. Jihad
misalnya, hanya diwajibkan untuk laki-laki, tidak wajib
bagi perempuan. Laki-laki wajib memberikan nafkah bagi
anggota keluarganya, sedangkan perempuan tidak.
Menyusui dan mengasuh anak adalah tanggung jawab
perempuan, bukan laki-laki. Begitu juga mengatur rumah
tangga, adalah kewajiban perempuan, meski laki-laki
dianjurkan untuk membantunya.

Orang-orang Barat tidak mau mengakui realitas
keterbatasan akalnya dan merujuk kepada wahyu Allah
SWT. Mereka justru mengadopsi pendekatan simplistik
untuk menghadapi persoalan yang rumit ini, yaitu dengan
memaksakan pendapat bahwa laki-laki dan perempuan
adalah setara dan memberlakukan prinsip “kesetaraan
gender” bagi keduanya. Konsekuensinya, perempuan
menjadi mitra laki-laki dalam pekerjaan mencari nafkah.
Tapi, fitrah biologis perempuan tak ayal menunjukkan
bahwa tanggung jawab mengandung dan menyusui anak
masih merupakan tanggung jawab perempuan. Dengan
konsep “kesetaraan gender” tersebut, kaum laki-laki justru
telah membebani kaum perempuan dengan beban yang
sesungguhnya menjadi tanggung jawab laki-laki.
Daulah Khilafah akan menerapkan syariah Islam
yang terkait dengan interaksi antara kaum laki-laki dengan
kaum perempuan dan akan membebaskan kaum
perempuan dari kedzaliman sistem sekuler.

Diterbitkan di: 30 Desember, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.