Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Menulis & Bicara>Definisi Pola Pikir dan Pola Sikap

Definisi Pola Pikir dan Pola Sikap

oleh: yasira    
ª
 
Aqliyah (pola pikir) adalah cara yang digunakan untuk
memikirkan sesuatu; yakni cara mengeluarkan keputusan hukum
tentang sesuatu, berdasarkan kaidah tertentu yang diimani dan
diyakini seseorang. Ketika seseorang memikirkan sesuatu untuk
mengeluarkan keputusan hukum terhadapnya dengan menyandar
kepada akidah Islam, maka ‘aqliyah-nya merupakan ‘aqliyah
Islamiyah (pola pikir Islami). Jika tidak seperti itu, maka ‘aqliyahnya
merupakan ‘aqliyah yang lain.
Sedangkan nafsiyah (pola sikap) adalah cara yang
digunakan seseorang untuk memenuhi tuntutan gharizah (naluri)
dan hajat al-’adhawiyah (kebutuhan jasmani); yakni upaya
memenuhi tuntutan tersebut berdasarkan kaidah yang diimani dan
diyakininya. Jika pemenuhan naluri dan kebutuhan jasmani
tersebut dilaksanakan dengan sempurna berdasarkan akidah Islam,
maka nafsiyah-nya dinamakan nafsiyah Islamiyah. Jika pemenuhan
tersebut tidak dilakukan dengan cara seperti itu, berarti nafsiyahnya
merupakan nafsiyah yang lain.
Jika kaidah --yang digunakan-- untuk ‘aqliyah dan
nafsiyah seseorang jenisnya sama, siapa pun dia, maka kepribadian
(syakhshiyah-nya) pasti merupakan syakhshiyah yang khas dan
unik. Ketika seseorang menjadikan akidah Islam sebagai asas
bagi ‘aqliyah dan nafsiyah-nya, maka syakhshiyah-nya
merupakan syakhshiyah Islamiyah. Namun, jika tidak demikian,
berarti syakhshiyah-nya adalah syakhshiyah yang lain.
Karena itu (untuk membentuk syakhshiyah Islamiyah),
tidak cukup hanya dengan ‘aqliyah Islamiyah, di mana pemiliknya
bisa mengeluarkan keputusan hukum tentang benda dan perbuatan
sesuai hukum-hukum syara’, sehingga dia mampu menggali
hukum, mengetahui halal dan haram; dia juga memiliki kesadaran
dan pemikiran yang matang, mampu menyatakan ungkapan yang
kuat dan tepat, serta mampu menganilisis berbagai peristiwa
dengan benar. Semuanya itu belum cukup, kecuali setelah nafsiyahnya
juga menjadi nafsiyah Islamiyah, sehingga bisa memenuhi
tuntutan gharizah dan hajat al-’adhawiyah-nya dengan landasan
Islam. Dia akan mengerjakan shalat, puasa, zakat, haji, serta
melaksanakan yang halal dan menjauhi yang haram. Dia berada
dalam posisi yang memang disukai Allah, dan mendekatkan diri
kepada-Nya, melalui apa saja yang telah difardhukan kepadanya,
serta berkeinginan kuat untuk mengerjakan berbagai nafilah, hingga
dia makin bertambah dekat dengan Allah Swt. Dia akan menyikapi
berbagai kejadian dengan sikap yang benar dan tulus,
memerintahkan yang makruf, dan mencegah yang munkar. Juga
mencintai dan membenci karena Allah, dan senantiasa bergaul
dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik.
Demikian juga tidak cukup jika nafsiyah-nya merupakan
nafsiyah Islamiyah, sementara ‘aqliyah-nya tidak. Akibatnya, bisa
jadi beribadah kepada Allah dengan kebodohan, yang justru
menyebabkan pelakunya akan tersesat dari jalan yang lurus.
Misalnya, berpuasa pada hari yang diharamkan; shalat pada waktu
yang dimakruhkan, dan bersikap lemah terhadap orang yang
melakukan kemunkaran, bukannya mengingkari dan
mencegahnya. Bisa jadi dia akan bermuamalah dan bersedekah
dengan riba, dengan anggapan, bisa mendekatkan diri kepada
Allah, justru pada saat di mana sebenarnya dia telah tenggelam
dalam kubangan dosanya. Dengan kata lain, dia telah melakukan
kesalahan tapi menyangka telah melakukan kebajikan. Akibatnya,
dia memenuhi tuntutan gharizah dan hajat al-’udhawiyah tidak
sesuai dengan perintah Allah Swt. dan Rasul-Nya saw.
Sesungguhnya syakhshiyah Islamiyah ini tidak akan berjalan
dengan lurus, kecuali jika ‘aqliyah orang tersebut adalah ‘aqliyah
Islamiyah, yang mengetahui hukum-hukum yang memang
dibutuhkannya, dengan senantiasa menambah ilmu-ilmu syariah
sesuai dengan kemampuannya. Pada saat yang sama, nafsiyahnya
juga merupakan nafsiyah Islamiyah, sehingga dia akan
melaksanakan hukum-hukum syara’, bukan sekadar untuk
diketahui, tetapi untuk diterapkan dalam segala urusannya, baik
dengan Penciptanya, dengan dirinya sendiri, maupun dengan
sesamanya, sesuai dengan cara yang memang disukai dan diridhai
oleh Allah Swt.
Jika ‘aqliyah dan nafsiyah-nya telah terikat dengan Islam,
berarti dia telah menjelma menjadi syakhshiyah Islamiyah, yang
akan melapangkan jalannya menuju kebaikan di tengah-tengah
berbagai kesulitan, dan dia pun tidak pernah takut terhadap celaan
orang yang mencela, semata-mata karena Allah.
Diterbitkan di: 03 Nopember, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apa pengerian pola pikir? Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apakah yang dimaksud dengan pemiokiran yang matang Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    devinisi pola pikir menafsirkan suatu pemikiran seseorang Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    assalamu'alaykum.. maaf ini mengambil dari buku apa y? ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    mana jawaban na .... 10 Mei 2012
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    bagaimn proses penguasan dunia secara ekonomi, industri dan teknologi ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    Dengan menguasai pola pikir diri terlebih dahulu. Gali ilmu seluas-luasnya ketiga aspek tersebut, jalin hubungan baik dengan banyak orang (jangan pernah tinggalkan keluarga dibelakang),selalu bersyukur, bertawakal kepada Yang Maha Kuasa, tanpa seizinNya (RidhoNya), anda tidak akan mencapai apa-apa. dan jangan lupa, saran saya ini mungkin berhasil/tidak bukan tergantung bagusnya, tapi tergantung Allah dan diri anda sendiri, jadi, proses yang benar sesuai tuntunan agama lebih baik. 24 Nopember 2012
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.