Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Definisi Baitul Mal

oleh: yasira    
ª
 
Makna Bahasa
Bayt al-Mâl dibentuk dengan meng-idhâfah-kan kata bayt artinya rumah, kepada al-Mâl artinya harta. Kata al-mâl ini mencakup semua jenis harta. Menurut jamaah, al-mâl adalah benda berharga seperti emas dan perak. Lalu digunakan untuk menyebut segala yang dimiliki. Yang sudah diketahui menurut perkataan orang arab, setiap apa saja yang dikumpulkan dan dimiliki adalah mâl (harta).1 Menurut Ibn al-Atsir, mâl asalnya adalah emas dan perak yang dimiliki, lalu dimutlakkan untuk menyebut semua benda berharga yang dikumpulkan dan dimiliki.2 Dengan demikian, secara harfiah bayt al-mâl artinya rumah harta, yaitu rumah tempat untuk menyimpan harta berupa semua jenis benda berharga yang dikumpulkan dan dimiliki.

Makna Istilah
Istilah bayt al-mâl tidak terdapat dalam nash-nash syariah. Namun, syariah telah memberikan ketentuan tentang harta negara, pos sumber pendapatan negara, dan pos pembelanjaan harta negara itu. Syariah telah menetapkan harta-harta yang menjadi hak kaum Muslim sekaligus menetapkan pembelanjaan yang menjadi kewajiban negara dan hak bagi kaum Muslim. Syariah juga memberikan ketentuan tentang zakat, harta yang harus dikeluarkan zakatnya, besaran yang harus dikeluarkan, dan penyaluran harta zakat itu. Syariah memberikan wewenang pengelolaan dan pengaturan semua ketentuan tentang harta itu kepada penguasa (Khalifah).
Semua harta itu tidak lain adalah harta kaum Muslim, kemudian disebut sebagai harta Baitul Mal. Pada sisi ini Baitul Mal itu merupakan ungkapan tentang pos-pos pemasukan dan pengeluaran harta-harta kaum Muslim.
Imam al-Mawardi berkata, “Setiap harta yang menjadi hak kaum Muslim dan tidak ditentukan pemiliknya dari mereka, maka harta itu termasuk hak Baitul Mal. Jika harta itu telah didapatkan, harta itu dimasukkan sebagai bagian dari hak (milik) Baitul Mal, baik sudah dimasukkan dalam penyimpanan Baitul Mal ataupun belum, karena Baitul Mal merupakan ungkapan tentang pos, bukan tentang tempat. Setiap harta yang wajib dikeluarkan dalam kaitannya dengan kemaslahatan kaum Muslim merupakan hak Baitul Mal. Jika telah dikeluarkan pada posnya, maka harta itu ditambahkan dalam pembukuan Baitul Mal, baik secara langsung dikeluarkan dari kas Baitul Mal maupun tidak. Sebab, setiap harta yang berada dalam kekuasaan, atau diserahkan kepada para penguasa kaum Muslim dan para pembantu mereka, atau yang dikeluarkan melalui tangan mereka, maka hukum Baitul Mal berlaku atas harta itu, baik terkait pemasukan maupun pengeluarannya.3
Inilah makna Baitul Mal sebagai pos harta. Oleh karena itu, Qadhi an-Nabhani menyimpulkan dari sisi ini, bahwa Baitul Mal adalah pos yang dikhususkan bagi pemasukan dan pengeluaran harta yang menjadi hak seluruh kaum Muslim.4
Pengelolaan pos-pos harta tersebut pada masa Rasul langsung beliau tangani sendiri, juga oleh para wali dan amil beliau. Beliau juga menunjuk sekretaris untuk mencatat jenis harta tertentu seperti Muaiqib bin Abi Fathimah untuk ghanîmah, Zubair bin Awam untuk zakat, Hudzaifah bin Yaman untuk produksi hijaz, Abdullah bin Rawahah untuk produksi Khaibar, dan sebagainya. Setiap ada harta yang masuk, segera beliau bagikan atau belanjakan untuk kepentingan kaum Muslim sesuai dengan pos yang ditentukan syariah. Hasan bin Muhammad menuturkan:
«كَانَ إِذَا جَاءَهُ مَالٌ مِنْ فَيْءٍ أَوْ غَنِيْمَةٍ أَوْ خَرَاجٍ لَمْ يُبَيِّتْهُ وَلَمْ يُقَيِّلْهُ»
Bahwa Nabi saw., jika datang kepada beliau harta fai, ghanîmah, atau kharâj, beliau tidak menyimpannya pada siang hari dan tidak juga menginapkannya. 5

Hal yang sama dituturkan Jubair bin Muhammad, sebagaimana diriwayatkan Abdur Razaq.6
Kondisi demikian terus berlangsung sampai tahun pertama masa Khilafah Abu Bakar. Pada tahun kedua, Abu Bakar menetapkan satu tempat (kamar) dari rumahnya secara khusus untuk menyimpan harta yang masuk dari berbagai daerah. Ini adalah cikal bakal Baitul Mal sebagai tempat menyimpan harta. Semua harta itu ia belanjakan untuk kepentingan kaum Muslim.
Ketika Abu Bakar wafat, Umar menjabat khalifah, ia mengumpulkan para sahabat dan bersama-sama masuk ke rumah Abu Bakar dan membuka kamar tempat menyimpan harta. Ternyata harta yang ada hanya tersisa satu dinar dan itu pun karena kelalaian pencatatnya. Semua harta habis dibelanjakan untuk kepentingan kaum Muslim. Tatkala futûhât semakin meluas, harta yang masuk ke kas Negara pun berlimpah, maka Umar mengkhususkan satu rumah untuk menyimpan harta itu. Ia membentuk diwan yang mengurus dan mencatatnya. Ia juga menunjuk pencatatnya, memberi santunan kepada rakyat, serta membentuk administrasi pasukan. Peristiwa ini menurut sebagian ahli sejarah terjadi pada tahun ke-20 H.7
Sejak saat itu, Baitul Mal dengan makna pos-pos pendapatan dan pengeluaran harta itu diurus administrasinya oleh diwan, dan harta yang ada disimpan di satu rumah (tempat) khusus yang juga disebut Baitul Mal. Sejak saat itu pula, Baitul Mal sebagai pos dan tempat menyimpan harta dengan struktur diwannya jadi melembaga, bagian dari lembaga negara.
Akhirnya, masyarakat mengenal Baitul Mal dari dua sisi ini: (1) sebagai pos pendapatan dan pengeluaran; (2) rumah yang khusus untuk menyimpan harta negara atau harta kaum Muslim. Rumah ini menjadi semacam kantor kas negara. Di sinilah disimpan harta negara dan dari sinilah harta itu dibelanjakan untuk kepentingan negara dan kaum Muslim. Pos-pos dan rumah itu administrasinya dijalankan oleh sebuah diwan. Gambaran inilah yang menjadi gambaran Baitul Mal. Gambaran ini mirip (meski ada perbedaan) dengan departemen keuangan.
Diterbitkan di: 06 Oktober, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apa yang di sebut baitul mal Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.