Raja Ampat–
‘Proyek Wisata’ Raja Ampat di Papua Barat, dinilai tak berpihak pada
masyarakat pemilik perairan. Perlindungan laut hanya alasan menarik
untung lebih besar dari wisatawan yang berkunjung.
“Memang seperti itu, kita mau bilang
apa, dari dulu Misool tidak pernah berkembang, kita begitu-begitu saja
sementara hasil dari laut sangat besar,” kata Safee Al Hamid, Sekertaris
Kampung Fafanlap dari Misool, pekan lalu.
Ia mengatakan, untuk memasukan aliran
listrik ke Fafanlap misalnya, mereka harus bersusah payah beberapa
tahun. “Tapi ini sudah mulai terjawab, pihak PLN sementara survey
lokasi, tapi dari dulu, sejak zaman Adam, kita tinggal gelap gulita,
kemana uang dari hasil wisata itu, kenapa tidak untuk membangun daerah
terpencil,” ujarnya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh Australian Institute of Marine Science pada tahun 2010 di Palau,
pemerintah Raja Ampat memperoleh pendapatan daerah begitu besar dari
sektor wisata. Potensi Ikan hiu contohnya, dapat menyumbangkan Rp2,5
miliar per tahun bagi daerah. Seekor hiu karang diperkirakan memiliki
nilai ekonomis tahunan Rp1,6 miliar dan nilai seumur hidup Rp 17,5
miliar untuk industri wisata.
Kawasan Raja Ampat sendiri memiliki
potensi pariwisata hiu sebesar Rp165 miliar per tahun. “Tapi kita tidak
pernah tahu uang itu kemana, jadi kalau dibilang tidak berpihak pada
masyarakat, bisa saja benar,” kata Safee.
Raja Ampat kini dijadikan sebagai salah
satu daerah tujuan wisata dunia. Itu dibuktikan dengan dibukanya KPDT
Expo 2012 bertajuk ‘’Jelajah Raja Ampat’’ di Pantai Waisai Tercinta
(WTC), Raja Ampat, Jumat 1 Juni 2012 kemarin.
Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal
(PDT) Helmy Faishal Zaini saat itu mengatakan, pihaknya memproyeksikan
Raja Ampat sebagai tujuan wisata kelas dunia, sejajar dengan Bali dan
Senggigi di Lombok. Mewujudkan itu, pemerintah akan menyiapkan
infrastruktur bagi percepatan pembangunan pariwisata. Salah satunya
dengan membangun jalan lingkar di Waisai serta bandara perintis
sepanjang 1.200 meter yang telah diresmikan oleh Menteri Perhubungan 9
Mei lalu, bertepatan dengan HUT Raja Ampat ke-9.
Pembukaan KPDT Expo di Raja Ampat
baru-baru ini dihadiri rombongan menteri, anggota komisi V DPR-RI, ketua
Komisi V DPR-RI, Pangdam XVII Cendrawasih Mayjen TNI Erwin Syafitri,
serta Bupati Raja Ampat Marcus Wanma. Usai membuka Expo, rombongan
menteri melakukan penanaman bibit pohon kelapa di pantai WTC. “Kita
berharap dari semua ini, masyarakat juga mendapat keuntungan, paling
tidak ada hasil yang bisa kita dapat walaupun sedikit,” kata Abu Al
Hamid, warga Raja Ampat. (02/ALDP)