Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

http://www.mediaindonesia.co m

oleh: vianal    
ª
 
SECARA geografis, Bali dikunci lautan. Lantaran itu perairan menjadi salah satu daya tarik utama Bali. Pantai-pantainya yang indah tak hentinya memikat wisatawan untuk datang untuk berselancar, berperahu, memancing, berenang, snorkeling, berlari, berjemur, atau sekadar berjalan-jalan di pinggiran.

Namun, itu baru di permukaan saja. Jika masuk lebih dalam lagi ke dalam air, maka pemandangan akan menyihir siapa pun. Aneka ikan, terumbu karang, moluska, krustasea, dan biota laut lainnya dijumpai dalam beragam warna, bentuk, ukuran, dan jenis --seperti yang saya saksikan ketika menyelam di Tulamben dan Pulau Menjangan.

Pulau Menjangan
Pulau yang masuk dalam wilayah Taman Nasional Bali Barat dicapai dengan kapal dari Labuhan Lalang selama 20 menit. Pulau berpasir putih ini memiliki keunikan topografi. Pantainya landai namun berujung di jurang vertikal yang disebut wall yang dalamnya bervariasi antara 20-50 meter.

Penyelaman dilakukan dengan terjun dari kapal boat entry di titik selam Post II. Karena jarak pandang (visibilitas) tinggi sampai 20 meter, warna-warni kehidupan dapat terlihat dengan jelas. Terumbu karang tumbuh subur berimpitan. Demikian pula sponges dan kipas laut alias gorgonia merekah dalam ukuran meraksasa.

Kedua jenis penghuni laut yang terakhir disebutkan ini merupakan indikator perairan yang sehat. Ikan-ikan berenang dengan tenangnya, seakan-akan 'sadar kamera'. Mereka tampak sudah terbiasa dengan kehadiran penyelam yang ingin melihat dan mengabadikannya.

Karena lalu lintas di permukaan air termasuk padat, maka naik ke permukaan ascent dilakukan dengan pertama kali menembakkan sosis, yaitu balon panjang. Ini penting untuk menghindari tabrakan dengan kapal. Sosis akan memandu kapal penjemput sekaligus memperingatkan kapal-kapal lain bahwa ada penyelam di sekitarnya.

Selagi interval, saya menikmati keindahan dari kehidupan yang tumbuh di daratan. Seperti namanya, pulau batu cadas dihuni banyak menjangan, yaitu rusa, yang sedang memangkasi semak. Di pulau konservasi ini, kicauan burung pun terdengar tiada henti.

Penyelaman kedua dilakukan di titik selam yang diberi nama Gua Kelelawar yang topografinya mirip Post II. Dindingnya yang berongga-rongga pun menjadi rumah yang ideal bagi krustasea seperti lobster. Di sini banyak pula dijumpai ikan-ikan lepu (scorpionfish dan lionfish) yang ornamental namun beracun.

Tulamben
Dijangkau sekitar empat jam perjalanan dari Labuhan Lalang, Tulamben adalah daerah di kaki Gunung Agung di sebelah timur Bali. Pasir vulkaniknya mewarnai pantai dengan warna hitam. Namun itu tidak berarti visibilitasnya rendah. Tulamben terkenal dengan situs penyelaman kapal karang (wreck dive).

Di sini bersemayam kapal barang USAT Liberty sepanjang 125 meter yang karam pada Perang Dunia II dan tenggelam sepenuhnya saat Gunung Agung meletus pada tahun 1963.

Karena letak kapal karam hanya sekitar 30 meter dari bibir pantai, penyelaman dilakukan dengan pertama kali berjalan kaki beach entry. Ini menuntut kehati-hatian karena pantai penuh bebatuan vulkanik seukuran buah kelapa.

Begitu masuk, segerombolan ikan kuwe dari genus Caranx menyambut. Mereka berenang membentuk pusaran seperti tornado. Usai menikmati atraksi menawan kawanan ikan berwarna perak, penyelaman dilanjutkan ke kapal karam.

Dari bangkai, muncullah kehidupan. Pada badan kapal ditemukan aneka koral lunak dan keras yang tumbuh subur. Koloni koral tersebut menjadi rumah bagi ribuan spesies lainnya seperti udang harlequin, kuda laut, dan siput laut (nudibranch). Anemone berikut ikan badut juga banyak dijumpai. Sesekali terlihat pula barakuda dan ikan buntal.

Melayang di atas permukaan pasir dekat badan kapal, saya menemukan beberapa ikan pari totol biru dan ikan sebelah (flounder). Tak jauh dari situ terdapat pula pemandangan menarik. Tampak sekumpulan belut laut yang melayang-layang secara vertikal sambil mencaplok plankton.

Begitu melihat penyelam, belut-belut yang disebut garden eel ini langsung membenamkan diri ke lubang dalam pasir. Begitu merasa aman, mereka kembali muncul, melayang-layang. Sungguh menakjubkan!

Menyadari potensi wisata air, pemerintah setempat melarang penangkapan biota laut di lokasi-lokasi penyelaman. Dengan demikian kelestarian biotanya cukup terjaga dan umumnya dapat mencapai ukuran dan usia maksimal. Misalnya, ikan pogo-pogo (Balistoides viridescens) sepanjang 1 meter dan teripang sepanjang 1,5 kaki di Pulau Menjangan.

Ikan kuwe yang biasanya dijual di pasar swalayan seukuran telapak tangan manusia, di Tulamben ukurannya dapat mencapai dua kali lipat. Aktivitas ekonomi, nyatanya bisa menghargai bumi ketika sejalan dengan konservasi alam, bukan mematikan. (M-4)

Diterbitkan di: 13 Juni, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.