Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Wisata>Wisata Hemat>Museum DEWANTARA KIRTI GRIYA

Museum DEWANTARA KIRTI GRIYA

oleh: muhil    
ª
 
  • > MUSEUM DEWANTARA KIRTI GRIYA

    Museum Dewantara Kirti Griya

    Latar Belakang dan Sejarah

    Raden Mas Soewardi Soerjaningratsejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, beberapa menuliskan bunyi bahasa Jawanya dengan Ki Hajar Dewantoro; lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 – meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun; selanjutnya disingkat sebagai "Soewardi" atau "KHD") adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda. Soewardi berasal dari lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta. Ia menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda). Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar antara lain Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial. Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama BO di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya.

    Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (DD). Ketika kemudian DD mendirikan Indische Partij, Soewardi diajaknya pula.


    Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Departemen Pendidikan Nasional. Namanya diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah.

    Pada tahun 1958 dalam pelaksanaan rapat Pamomg Tamansiswa, Ki Hajar Dewantara mengajukan permintaan kepada sidang agar bekas tempat tinggalnya yang berlokasi di Jl. Tamansiswa 31 Yogyakarta dijadikan museum. Keinginan tersebut ditanggapi dengan baik dan dilaksanakan setelah beliau wafat.

    Ki Hajar Dewantara meninggal pada tanggal 26 April 1959. Mulai tahun 1960 Tamansiswa berusaha untuk mewujudkan gagasan almarhum Ki Hajar Dewantara. Pada waktu Ki Drs. Moh. Amir Sutaarga bertugas di Museum Nasional Jakarta dan beliau merupakan keluarga dekat Tamansiswa bersedia datang ke Yogyakarta untuk memberikan pengetahuan dasar tentang permuseuman. Selama tiga hari berturut-turut Drs. Moh. Amir Sutaarga memberikan dasar-dasar permuseuman kepada Kepala Museum Sonobudoyo, Museum TNI-AD, dan calon petugas Museum Tamansiswa.

    Pada tahun 1963 dibentuk panitia pendiri Museum Tamansiswa terdiri atas :

    1. Keluarga Ki Hajar Dewantara
    2. Keluarga Besar Tamansiswa
    3. Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa
    4. Sejarawan
  • Pada tanggal 2 Mei 1970 Museum Tamansiswa diresmikan dan dibuka untuk umum oleh Nyi Hajar Dewantara selanjutnya museum diberi nama "Dewantara Kirti Griya" yang merupakan Museum Khusus Memorial.


    Museum Dewantara Kirti Griya atau cukup disebut Museum Kirti Griya adalah bekas kediaman Ki Hajar Dewantara sang Bapak Pendidikan Indonesia yang atas permintaannya sendiri dijadikan sebagai tempat menyimpan berbagai benda, memorabilia, dan perabotan miliknya. Museum ini berada di kompleks Perguruan Tamansiswa di jalan Tamansiswa no 31, Yogyakarta.
    Keinginan untuk mengubah kediamannya menjadi museum disampaikan Ki Hadjar dalam rapat pamong Tamansiswa pada tahun 1938. Dengan museum itu, ia mengharapkan agar generasi mendatang dapat mengetahui dan mengenang perjuangan generasi sebelumnya pada. Museum yang menyimpan 3000 koleksi, mulai dari surat-surat, naskah, dan foto-foto Ki Hadjar itu dibuka untuk umum pada 2 Mei 1970.


    Diterbitkan di: 21 September, 2011   
    Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
    Terjemahkan Kirim Link Cetak
    X

    .