Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Perkumpulan & Berita>Spiritualitas>Adab Muazin dan yang mendengarkan Azan

Adab Muazin dan yang mendengarkan Azan

oleh: hatumete     Pengarang : Bahrul
ª
 

Orang yang mengumandangkan azan hendaklah seorang lelaki Muslim yang berakal. Azan harus dilakukan oleh seorang saja untuk semua kariah, dan tidak boleh dilakukan berulang kali untuk kariah yang sama. Azan hendaklah dilakukan atau dilafazkan dalam bahasa Arab.

Azan dikumandangkan ketika masuk waktu shalat, kecuali shalat subuh. Subuh mempunyai dua Azan dimana azan pertama dikumandangkan sebelum masuk waktunya yaitu selepas separuh malam untuk memberitahu kaum Muslimin bahwa waktu subuh hampir tiba. Azan kedua dikumandangkan waktu subuh.

Orang yang mengumandangkan azan (muazin) mesti suci dari hadas kecil,besar dan najis. Hendaklah menghadap kiblat ketika mengumandangkan azan. Disunahkan dilafadzkan oleh muazin yang baik dan merdu suaranya, Azan hendaklah dinyaringkan walau hanya didengar oleh satu orang. Jika tidak menggunakan pengeras suara, azan hendaklah dikumandangkan ditempat yang tinggi. Azan juga disunahkan dilakukan sambil berdirih kecuali jika ada uzur.

Ketika muazin mengumandangkan “ hayya 'alassalah” muazin hendaklah menghadap wajah dan dadanya kesebelah kanan, dan ketika mengumandangkan “hayya alalfalah” menghadapkan muka dan dadanya kesebelah kiri. Juga disunatkan melakukan tarji' sewaktu azan yaitu menyebut dua kalimah secara pelan sebelum dinyaringkan.

Muazin juga disunahkan memasukan dua anak jarinya kedalam kedua telinganya dengan tujuan untuk meninggikan suara. Muazin tidak boleh berbicara ketika mengumandangkan azan.


Adab mendengarkan Azan

Orang yang mendengarkan azan dilarang berkata-kata apapun selama azan dikumandangkan. Diriwayatkan sebuah hadist yang artinya : “Hendaklah kamu mendiamkan diri ketika azan, jika tidak Allah akan keluhkan lidahnya ketika maut menghampirinya”.

Menyahutnya dengan secara perlahan-lahan dengan lafadz yang diucapkan oleh muazin kecuali pada lafadz “ hayya alassalah dan hayya alalfalah” kedua duanya dijawab dengan “la haula wala quwata illa billah” (tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah).

Selesai azan, muazin dan yang mendengarkan hendaklah berdo'a : “ Allahumma Rabba hazihidda'wah tammah wassalah til qa'imah ati Muhammadinil wasilata wal fadilah wab athhu maqamah mahmuda nillazi wa adtah ( Wahai Allah, Tuhan yang menguasai seruan yang sempurna ini dan shalat yang sedang didirikan , berikanlah kepada Nabi Muhammad karunia dan keutamaan serta kedudukan yang terpuji yang telah engkau janjikan untuknya) “ Riwayat Bukhari.


Sebagai seorang yang beriman kita wajib menghormati azan. Jika pada lagu kebangsaan diajarkan berdiri tegak dan berdiam diri, mengapa ketika azan kita tidak bisa mendiamkan diri ? Barang siapa yang berkata-kata ketika azan, Allah akan keluhkan lidahnya ketika nazak.

Tentu saja kita takut dengan keluhnya lidah sewaktu ajal hampir sampai karena jelas tidak dapat mengucap kalimah “Lailahaillallah Muhammadarrasulullah” yang mana barangsiapa yang dapat mengucapkan kalimah ini ketika nyawanya akan dicabut, Allah dengan kekuasaan-Nya menjanjikan surga. Karena itu marilah kita sama sama menghormati azan dan mohon kepada Allah supaya lidah ini tidak keluh ketika nyawa kita sedang dicabut.


Subhanallah......

http://id.shvoong.com/writers/hatumete/




Diterbitkan di: 06 Agustus, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.