Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Perkumpulan & Berita>Spiritualitas>Hikmah Hijrah : Tahun Baru Islam

Hikmah Hijrah : Tahun Baru Islam

oleh: Dean_Winchester     Pengarang : Ali Mursyi Abdul Rasyid
ª
 
Hikmah dibalik pemilihan momentum hijrah sebagai awal penghitungan.

Mengapa para sahabat mengambil momentum hijrah sebagai titik tolak awal perhitungan kalender Islam, ada pesan dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Yaitu sebagai berikut, sebagaimana yang diungkap oleh. Muhammad Jamhuri, Lc. Pada situs http://www.pks-kotatangerang.or.id/index.php ?option=com_content&task=view&id=373&Itemid=29Menurutnya dalam konteks dakwah, peristiwa hijrah memiliki pelajaran begitu banyak di antaranya:

1. Bersembunyinya Rasulullah di gua Tsur sebelum berangkat ke Madinah memberi pelajaran agar kita dalam bertindak harus memiliki planing yang matang. Bukankah Madinah terletak di sebelah utara Makkah sedangkan Jabal tsur berada di sebelah selatan? Di samping itu, meskipun Rasulullah yakin akan pertolongan Allah, tetapi sebagai manusia beliau tetap mengikuti sunnatullah, bersembunyi dan mengambil arah selatan. Banyak aktifis yang hanya mengandalkan doa tanpa membuat perencanaan dan strategi dalam dakwahnya. Padahal Ali bin Abi Thalib berkata: “Kebenaran yang tidak tertata rapi akan dikalahkan oleh kebatilan yang tertata rapi”

2. Selama persembunyiannya selama tiga hari, Rasulullah dan Abu Bakar menugaskan kepada Asma menyuplai logistik, Abdullah sebagai informan, dan budaknya menghapus jejak Nabi dan Abu Bakar dengan kaki-kaki gembalaannya. Ini memberi pelajaran, bahwa tugas-tugas dakwah tidak dapat dilakukan secara individu. Amal Jama’i (keja sama) adalah suatu keniscayaan. Selain itu, setiap diri aktifis tidak boleh merasa paling penting atau tidak penting. Karena setiap peran –sekecil apapun- adalah mempunyai perannya masing-masing dalam kesuksesan dakwah.

3. Ali bin abu Thalib diperintah Nabi saw untuk menggantikan beliau tidur di tempat tidurnya. Tentu saja resikonya adalah kematian. Ini memberi pelajaran bahwa seorang jundi siap ditempatkan dimana saja oleh qiyadah, meskipun di tempat yang tidak “basah “. Bahkan harus siap jika resikonya harus meregang nyawa sekalipun

4. Bantuan Allah berupa rumah laba-laba dan burung merpati di depan gua sehingga menjadi “benteng” yang menyelamatkan Nabi saw dan Abu Bakar memberi pelajaran, bahwa jika manusia sudah berusaha semaksimal mungkin lalu bertawakal, maka Allah akan membantunya. Keterpaduan antara kerja, tawakal dan do’a harus selalu menyertai para aktifis dakwah.

5. Setibanya Rasulullah di Madinah, langkah pertama yang dilakukannya adalah membangun masjid. Ini mengindikasikan bahwa Nabi memiliki visi membangun kesejahteraan lahir dan batin. Masjid juga menjadi pusat kegiatan umat. Hal ini memberi pelajaran bahwa para aktifis dakwah sudah seharusnya back to masque sebagai basis dakwahnya. Meski dakwah sekarang sudah merambah parlemen dan pemerntahan, tapi semangatnya tetap semangat masjid, “qolbuhu mu’allaqun bil masajid” (hatinya terpaut dengan masjid), yakni meyakini Allahu akbar (berani dan kritis), takbirotul ihrom dari godaan dunia, menjaga shaf barisan ukhuwah, tetap taat pada imam (qiyadah), dan mengemban misi dakwah dengan mencetak ibadillahis shilihin (hamba-hamba yang shalih), dan selalu menjaga kestabilan ruhiyah

6. Langkah kedua yang dilakukan Nabi saw adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Ini dalam rangka konsolidasi internal. Ada tiga kekuatan kebangkitan umat Islam, yakni kekuatan aqidah, kekauatan ukhwah dan kekuatan materi. Namun dari tiga kekuatan itu, kekuatan akidah dan ukhuwah adalah terpenting. Nabi saw mempersaudarakan mereka secara satu persatu dengan saudaranya dari anshar. Ini memberi pelajaran bahwa para aktifis dakwah harus selalu dalam ukhuwah. Program ta’akhi hendaknya digalakkan lagi di setiap grup binaan agar timbul ras cinta dan ukhuwah.

7. Langkah ketiga yang dilakukan Nabi saw adalah melakukan perjanjian dengan pihak ekternal dalam hal ini orang Yahudi untuk sama-sama membangun dan menjaga keamanan Madinah dari serangan pihak luar. Ini memberikan pelajaran bahwa dalam hal-hal kemanusian dan maslahat kita bisa melakukan kerja sama. Kesepakatan dalam menurunkan harga kebutuhan pokok, pemberantasan korupsi, peningkatan tarap hidup masyarakat, peningkatan pendidikan dan kesehatan, adalah ruang kerjasama yang dapat kita lakukan meskipun dengan non muslim. Di samping itu, peristiwa ini juga memberi gambaran, bahwa dakwah bukan hanya untuk kalangan internal saja, tapi justru tabiat dakwah adalah untuk semua orang.

Semoga dengan berbagai hikmah di atas kita dapat memaknainya dengan menguatkan semangat dakwah kita untuk lebih baik pada saat ini dan masa yang akan datang.

Diterbitkan di: 21 Juli, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    pengertian 1 muharram Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.