st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-style-parent:"";
font-size:10.0pt;
font-family:"Times New Roman";}
Di wilayah Arab yang kaya raya,
PMC-PMC ( Private Military Company – Perusahaan Tentara Bayaran ) ini mendapat keuntungan ganda: selain
memperoleh nilai kontrak yang sangat besar karena para pemimpin Arab kebanyakan
korup dan sangat mudah diperdaya, maka PMC-PMC ini juga sering menjadi
perpanjangan tangan dunia intelijen Barat guna memotret kekayaan alamnya yang
tersimpan jauh di perut bumi.
Bukan suatu hal yang aneh jika Kerajaan Saudi Arabia dekat dengan Barat.
Awal berdirinya kerajaan Saudi saja sudah dibantu oleh seorang perwira
Yahudi-Inggris bernama Lawrence (Lawrence of Arabia). Ketika itu Klan
Ibnu Saud melakukan pemberontakan (bughot) terhadap Kekhalifahan Turki
Utsmaniyah dan mendirikan sistem kerajaan di wilayahnya,
Pembangunan
sistem militer di Kerajaan Saudi tidak bisa dilepaskan dari pengaruh tentara
bayaran Barat (baca: Yahudi). Di tahun 1975, Saudi mengandeng Vinnel
Corporation untuk pelatihan sekira 75. 000 personel Saudi
Arabian National Guard (SANG), sebuah unit militer Saudi yang
berasal dari pejuang suku Badui, Barat juga berperan hal penjagaan
ladang-ladang minyak di Arab Saudi. Nilai kontraknya mencapai 77 juta dollar
AS.
Belakangan diketahui, Pentagon punya andil besar dalam tender Vinnel di Saudi.
Selain kontrak pelatihan di atas, di akhir tahun 1970-an, secara rahasia BAE
System diminta oleh Saudi
Arabia untuk memasok logistik militer dengan
nilai kontrak sebesar 40 miliar dollar poundsterling. Amerika Serikat sendiri
mendapat jatah memasok pesawat tempur, heli serbu, dan rudal yang nilainya juga
mencapai miliaran dollar.
Tentu
hal ini belum cukup, segala logistik tempur tersebut memerlukan ribuan personil
untuk merakit, memelihara, dan memberi maintenance kepada personil lokal, maka
Saudi juga mendatangkan sekira 50 ribu tenaga asing dengan komposisi 22.000
dari Inggris dan sisanya, 30.000 dari AS. Sebagian besar dari mereka adalah mercenaries,
atau tentara bayaran.
Lagi-lagi,
salah satu PMC Amerika yang mendapat proyek besar di Saudi tersebut adalah
Vinnel yang dimiliki Northrop. US News melaporkan, untuk proyek pelatihan dan
pembangunan fasilitas militer di Saudi saja, Vinnel mendapat konrak senilai 800
juta dollar AS. Itu di luar jutaan dollar lainnya yang dikucurkan Saudi untuk
melengkapi peralatan tentaranya.
Kerajaan
Saudi Arabia
sangat mempercayai Vinnel. Tidak hanya dalam hardware, Saudi juga menunjuk
Vinnel untuk menyusun sofware sistem kemiliterannya, meliputi penyusunan
doktrin bagi lima akademi militer Saudi, tujuh lapangan tembak, membenahi
sistem kesehatan militer, dan juga melengkapi empat brigade mekanis dan lima
brigade infanteri.
Tahun 1980, Vinnel lagi-lagi ditunjuk pihak kerajaan Saudi untuk memodernisir
angkatan perangnya. Kali ini Royal Saudi Air Force (RSAF) yang
meminta Vinnel untuk menyediakan sistem analis hingga logistik dan peralatan
radar dan aeronautikal lainnya. Tak lama kemudian, PMC yang dimiliki sebuah
konsorsium pejabat Gedung Putih dan Pentagon seperti James A. Baker dan Frank
Carlucci ini juga ditunjuk oleh Royal Saudi Land Forces (RSLF)
untuk pengadaan, pelatihan, dan maintenance tank sejenis Bradley Fighting
Vehicle.
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:"Table Normal";
mso-style-parent:"";
font-size:10.0pt;
font-family:"Times New Roman";}
Yang
tidak disadari banyak pemimpin Saudi Arabia, dan juga pemimpin-pemimpin negeri
lainnya yang sangat tergantug pada PMC AS, Vinnel sesungguhnya—seperti banyak
PMC AS lainnya—tidak semata-mata bekerja untuk melayani orderan yang tertera
hitam di atas putih, melainkan juga memasukkan program-programnya sendiri,
antara lain dan ini yang paling sering adalah mencoba alat-alat atau pun
senjata baru. Jika hasilnya memuaskan maka senjata-senjata baru itu pun akan
mulai diproduksi massal, tapi sebaliknya, jika dinilai kurang memuaskan maka
akan disempurnakan. Tak peduli bahwa uji coba itu, tak jarang sudah terlanjur
menimbulkan korban. Inilah yang kadang tida terpikirkan