Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Perkumpulan & Berita>Opini Murni>Fenomena Haji dan Gagal Berangkat

Fenomena Haji dan Gagal Berangkat

oleh: SnowisWhite     Pengarang : Alfan Hajj and Umra Division – BSM
ª
 

Pergi ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah Haji adalah sebuah keinginan yang sangat dinantikan setiap umat muslim di dunia, termasuk juga di Indonesia. Tanah suci tempat dimana dahulu Nabi Ibrahim membangun peradaban dunia, tempat dimana Rasulullah SAW beserta para sahabat dan keluarga, pernah tinggal dan hidup untuk menegakkan agama Allah SWT. Tempat yang menjadi saksi bisu kemuliaan perilaku dan tutur ucap Rasulullah SAW beserta sahabat, tempat dimana disempurnakan agama satu-satunya yang di ridhoi oleh Allah SWT, Islam.

Di Indonesia banyak orang berbondong-bondong ingin pergi ke tanah suci Mekkah Al-Mukarromah. Ini ditandai dengan daftar tunggu keberangkatan Haji yang cukup panjang. Indonesia, sebagai Negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, memiliki kuota Haji paling besar dibanding dengan negara-negara lain. Tahun 2012, kuota Haji Indonesia sebanyak 211.000 jamaah, dengan rincian, 194.000 haji reguler, dan 17.000 jamaah haji khusus.

Untuk mempermudah keberangkatan haji, sesungguhnya pemerintah telah sejak lama meningkatkan pelayanan untuk mempermudah proses pendaftaran dan pelayanan haji hingga saat ini, dan pemerintah telah menetapkan aturan yang cukup jelas.

Ada beberapa pilihan pendaftaran Haji. Pertama, bisa dengan cara mandiri, maksudnya semua dilakukan sendiri tanpa perlu bantuan dari Kelompok Bimbingan Ibadah haji (KBIH). Jamaah megurus sendiri segala persiapan dan ketentuan di Kementerian Agama (Kemenag). Kedua, melalui perbankan atau Bank. Bagi jamaah yang melalui perbankan, prosedurnya adalah dengan memiliki terlebih dahulu produk Tabungan Haji, kemudian jamaah melakukan setoran awal yang telah di tentukan sebanyak Rp 25 juta. Setelah melakukan setoran awal tersebut, jamaah kemudian membawa buku tabungan ke Kemenag untuk di proses dan mendapatkan Surat Perjalanan Pergi Haji (SPPH). SPPH berfungsi untuk mendapatkan nomor porsi.

Setelah mendapatkan SPPH, jamaah kemudian kembali ke Bank untuk mendapatkan bukti Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH), setelah proses tersebut selesai, jamaah akan mendapatkan nomor porsi dan kemudian telah terdaftar resmi di Kemenag. Nomor porsi adalah nomor urut calon jamaah Haji yang terdaftar di Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (SISKOHAT). Dengan nomor porsi tersebut, jamaah akan dapat melihat perkiraan keberangkatan ke tanah suci.

Selama menuggu keberangkatan, calon jamaah haji ini diharuskan melakukan pembayaran hingga lunas agar bisa berangkat haji di waktu yang telah ditentukan.

Karena telah dipersiapkan dan diatur, mereka yang melalui kedua cara ini, baik jamaah reguler atau jamaah khusus, akan dapat dipastikan kapan berangkat ibadah Haji. Adapun halangan biasanya terjadi karena jamaah sendiri, bisa karena sakit, meninggal, dan lain sebagainya.

Indonesia sebagai Negara berpenduduk Muslim terbesar dan mendapat kuota jamaah paling besar, kuota yang diberikan ternyata belum cukup menampung besarnya keinginan penduduk yang ingin pergi ke tanah suci. Alhasil daftar tunggu keberangkatan haji yang ada cukup lama dan mencapai 10 tahun untuk jamaah reguler, sedangkan calon jamaah haji khusus hingga 4 tahun.

Berdasar fenomena tersebut, muncul sekelompok lembaga dan semacamnya yang tak bertanggung jawab, menawarkan jasa berangkat haji diluar sistem yang telah ditentukan oleh Kementerian Agama. Penawaran yang diberikan cukup menarik, yaitu tidak perlu antri sehingga lebih cepat berangkat. Tetapi yang terjadi calon jamaah gagal berangkat dikarenakan visa tidak kunjung keluar. Seperti yang telah terjadi di beberapa daerah di Indonesia saat ini.



/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-style-parent:""; line-heigh t:115%; font-size:11.0pt; font-family:" Calibri","sans-serif"; mso-fareast-font-family:"TimesNew Roman";}
Diterbitkan di: 24 Oktober, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.