Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Perkumpulan & Berita>Opini Murni>Babad Cerita Cut Tari , Luna Maya dan Ariel

Babad Cerita Cut Tari , Luna Maya dan Ariel

oleh: salmandjazuli    
ª
 
Babad, dari bahasa Jawa bisa berarti kisah, riwayat, tambo, yang penulisannya lebih subjektif. Setidaknya dibandingkan dengan sejarah, yang lebih dipercaya kebenarannya, berdasarkan data dan fakta.

Babad, dalam bahasa kini, mungkin lebih dituliskan berdasarkan gosip, dan atau kemauan pemesan. Dalam kenyataannya, kedua jenis itu ada. Sebagai perbandingan, sama-sama mengisahkan keraton Majapahit, Pararatondianggap sebagai babad, sedangkan Negara Kertagama dianggap sebagai tulisan sejarah.Namun, dalam perkembangan sekarang ini, babad tak lagi dianggap omong kosong semata, tak lagi dianggap ngayawara atau bualan. Justru dianggap sumber yang bisa diuraikan kenapa dituliskan seperti itu, kenapa berbeda dengan penulisan sejarah.

Dalam kasus Cut Lunar–sebutan saya untuk kasus video mesum mesra tokoh yang mirip Cut Tari, Luna Maya, serta Ariel Peterpan– barang kali bisa didekati dengan cara membaca babad. Judul yang saya pakai Cut Lunar, dengan menyebut Cut di awal,karena sebenarnya meledaknya kasus ini sejak beredarnya pemeran mirip Cut Tari.

Luna Gitu

Dari segi komunikasi tetap berlaku hukum, name make news, nama membuat berita.Artinya nama yang dikaitkan dengan Luna Maya yang tengah menyala sebagai artis yang serbatampil–tidak selalu berarti serbabisa––sangat dikenali oleh masyarakat. Dalam bahasa anak muda berseloroh,“Luna Maya gitu loh.” Siapa yang tidak ingin tahu apa yang terjadi dengannya. Ini menjadi jelas, kalau dibandingkan dengan kasus lain, taruhkan Maria Eva,atau pemeran mirip dirinya sendiri dalam Bandung Lautan Asmara, atau B-Jah, atau puluhan nama lain yang beredar, termasuk yang paling top seperti Chika sekalipun.

Nama-nama ini beken,tapi tetap berada dalam komunitas tertentu yang mengenali. Tak sampai melebar ke komunitas lain. Berbeda dengan Luna, Cut Tari,atau Ariel. Dalam teori filosof Spanyol Ortega Y Gasset,masyarakat urban merasa dekat, merasa mengenal, merasa bersahabat dengan selebritas, nama yang dikenali lewat media, khususnya media televisi. Semakin sering nama dan wajah ini tampil di ruang tamu, semakin diakrabi.Sebagaimana dulu ketika masih di desa, mereka mengenali pak lurah atau pak RT, pak kamituwo, dengan segala gosipnya. Segala keakraban ini menemukan bentuknya dengan memuaskan rasa ingin tahu kepada yang diakrabinya.

Rasa ingin tahu ini dipenuhi dengan kisah yang dramatis.Kalau saja yang beredar hanya video Luna-Ariel, besar kemungkinan tak seheboh ini. Karena masyarakat mengenal keduanya memang berpacaran.Namun, unsur drama ada ketika video mirip Cut Tari- Ariel, dalam kualitas visual lebih berkelas juga muncul. Kisahnya bukan lagi kisah dua sejoli di mabuk asmara, melainkan tiga sejoli, melainkan threesome, melainkan petualangan, melainkan tidak biasa. Serentak dengan itu menyentak perhatian lebih galak. Pemanjaan benak masyarakat dengan imajinasi,merangkai sendiri, tumbuh dengan sendirinya.

Bahkan kalau video berikutnya tak sempat mengudara, tidak mengurangi kabar yang beredar. Sebagai unsur berita,cukup memenuhi sarat untuk dimuat.Ada unsur nama yang sangat dikenali, ditambah ada unsur peristiwa drama– dengan siapa saja.Artinya ada nama,ada peristiwa,dan ketika ada yang melaporkan jadilah berita.

Saya Tidak Seperti Itu


Berita bisa berubah menjadi berita utama ketika menarik perhatian masyarakat lebih luas, melewati batas komunitas dunia selebritas. Ini dipicu, antara lain, karena ketidakjelasan peristiwa yang terjadi.Di awal kasus ini,saya mencoba merumuskan agar masalahnya terlokalisasi dari mereka yang disudutkan. Menjawab pertanyaan ya atau tidak.Cut Lunar bisa secara sendiri atau bersama menyatakan ketegasan sejak awal mula. Jawaban itu akan sangat berarti, dibandingkan jawaban mengambang– menyangkal ragu.

Misalnya jawaban Luna yang berkata :”Saya, kami, tidak seperti itu.” Atau jawaban Cut Tari :”Ibu yang melahirkan saya tidak percaya itu saya.”Ini bukan jawaban: ya atau tidak. Lebih sebagai melengoskan kepala, bukan face the problem.Jawaban ini menghindar dari masalah utama yang dipertanyakan: apakah mirip atau sebenarnya. Hukum komunikasi berlanjut di sini: jawaban ragu akan membuka kecurigaan,dan memicu rasa ingin tahu. Itu yang terus diburu, sampai ketemu.Ketika itulah keserentakan makin berliku.Karena tiadanya kepastian, pembuktian melalui jalur lain, apakah teknologi informatika, apakah penelitian bentuk fisik, apakah lokasi, apakah suara, semua dikerahkan.

Itu akan memperbanyak spekulasi, perkiraan, dan curiga. Ibaratnya, dalam bahasa serial televisi, crime science investigation,mengisi, dan menjadi informasi berita.Sampai di sini segala titik letak hidung dengan mata akan dijabarkan, segala nada lenguh atau mengaduh akan diurai. Kegaduhan pun sempurna sudah dengan bias merampas kamera, tertabrak atau tersenggol mobil, mendekati dengan menyeruak masuk mendesak, didukung sesama artis atau dikurung, dan lebih dari itu semua adalah terbukanya gosip yang “meraja dan meratu”–karena tokohnya perempuan.

Padahal kalau dari awal ada kepastian, perkembangannya bisa berbeda. Bahkan dari awal pun langkah penentuan apakah tiga sejoli ini korban atau bukan, siapa pengunggahnya,akan lebih mudah diurut. Kini, ibaratnya “tempat kejadian perkara”, sudah diobrakabrik, sudah terusik, sehingga banyak sidik jari di sana. Ini yang menyuburkan prasangka.

Ariel Paling Rawan

Pada posisi ini Ariel berada dalam kondisi yang paling rawan.Penyangkalannya sebagai pelaku sebenarnya sangat mudah dipatahkan. Kalau, misalnya saja pelaku yang lain, dalam hal ini Luna atau Cut Tari mengatakan sebaliknya, pertahanannya akan jebol.Atau kalau, sahabat atau teman mengatakan tahu hal ini, kekukuhannya akan ambrol.Dalam situasi tertentu, hal ini sangat mungkin terjadi. Itu sebabnya ada istilah “bernyanyi” di kalangan para tersangka. Mereka yang tadinya disatukan oleh nasib dan keadaan, bisa memilih jalan aman untuk diri sendiri.

Dengan bekerja sama bersama polisi atau pemeriksa. Bekerja sama dengan pihak keamanan,dalam bahasa hukum,bisa meringankan. Meskipun belum pasti,tapi ini tawaran menggiurkan pada situasi terdesak. Penyangkalan Ariel sebagai pelaku asli akan membuatnya jagoan, akan membuatnya makin hebat, kalau ternyata itu benar adanya. Masyarakat akan kagum kepada Ariel yang tegar menghadapi segala cobaan.(bersambung)

Diterbitkan di: 30 Juni, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Komentar Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.