Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Perkumpulan & Berita>Barang Baru>Benturan kepala itu merenggut NYAWA Ita dan calon bayinya

Benturan kepala itu merenggut NYAWA Ita dan calon bayinya

oleh: Risdianto     Pengarang : Ajid
ª
 
Sebut saja namanya Ita. Umurnya masih muda, baru 21 tahun. Belum setahun pula ia menikah, dan saat ini ia dan suami sedang menantikan anak pertamanya. Sebulan lagi diperkirakan anak tersebut lahir. Setelah lebaran mereka berharap kebahagiaan datang ke tengah keluarga.
Namun harapan yang ada tidak menjadi kenyataan. Justru berubah menjadi duka yang mendalam bagi sang suami. Pagi hari sewaktu mereka berboncengan, motor yang mereka naiki berserempetan dengan motor lain di daerah Sumedang di dekat rumahnya. Helm yang ia kenakan terlepas sehingga kepalanya terbentur. Tak jelas apa yang membentur kepalanya, tetapi benturan tersebut menyebabkan kondisi yang parah.
Langsung setelah benturan tersebut, Ny. Ita tidak sadar. Warga sekitar berdatangan dan membawanya ke klinik terdekat. Tetapi melihat kondisinya yang parah, ia pun langsung dirujuk ke RS Hasan Sadikin di Bandung. Dibutuhkan waktu 4 jam untuk sampai ke rumah sakit tersebut. Respon yang diberikan cukup cepat.
Tak lama setelah sampai di rumah sakit, diketahui terdapat perdarahan di kepala nya. Lebih tepanya perdarahan otak di bagian otak depan. Diketahui pula kondisi janinnya yang berumur 8 bulan berada dalam kondisi yang terancam.
Suaminya yang hanya menderita luka ringan menjadi histeris melihat kondisi istrinya. Ia susah untuk menerima kenyataan. Ia hanya bisa menjerit dan berteriak mengatahui kondisi istri dan calon anaknya sedang kritis. Keputusan untuk melakukan tindakan pun sulit diambil. Dokter pun tidak bisa mengambil tindakan untuk berusaha menyelamatkan nyawa karena tidak ada persetujuan dari keluarga, terutama suaminya.
Dokter terus berusaha untuk memberikan penjelasan. Sampai sekitar 1 jam kemudian suaminya mulai tenang dan mengizinkan untuk dilakukan operasi apapun hasilnya. Tetapi penundaan tersebut berakibat buruk bagi ibu Ita. Kondisinya makin turun. Ia masuk dalam kondisi koma dalam, bayinya pun menjadi semakin buruk kondisinya. Denyut jantungnya makin melemah. Dokter bedah saraf memang berhasil melakukann operasi untuk mengeluarkan perdarahan otak, tetapi karena kondisi awal sudah sedemikian buruk, operasi yang dilakukan tidak berhasil menyelamatkan ibu Ita dan bayinya. Satu hari setelah kejadian itu Ita dan calon bayinya meninggal dunia, bayinya tak sempat menghirup udara bebas.
Cedera kepala yang hebat itulah yang menjadi penyebab kematian. Penanganan cedera kepala memang memerlukan keputusan dan tindakan yang cepat. Bagi masyarakat awam, kondisi psikologis dan ketidaktahuan sering menghambat keputusan untuk tindakan kepada pasien. Selain itu kehadiran dokter bedah sarah yang masih terbatas turut berperan dalam kecepatan tindakan pertolongan. Seringkali penderita cedera kepala harus dirujuk ke kota besar untuk mendapat tindakan oleh dokter bedah saraf, dan ini sangat memakan waktu. Semoga kondisi-kondisi ini dapat diperbaiki sehingga tidak ada lagi ita dan janin-janin lain yang harus meninggal karena cedera kepala.
Diterbitkan di: 08 Agustus, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.