Kabel diplomatik AS dari kedubes AS ini merupakan catatan
dari Bapak kedubes AS di Jakarta saat itu bernama B. Lynn Pascoe. Beliau menjabat
sebagai dubes Indonesia dari 2004 hingga 2007.
Memo dari kabel diplomatik tersebut mengirimkan perincian
mengenai kondisi Indonesia pasca gempa dan Tsunami di pantai Selatan laut jawa
pada tanggal 17 Juli 2007. Di memo tersebut ia menuliskan jumlah korban tewas
mencapai 493 jiwa, 954 jiwa terluka dan 362 jiwa hilang(Bakornas).Sekitar hampir 74,000 jiwa kehilangan tempat
tinggal.Kerugian di perkirakan mencapai sekitar US$ 20 juta. Kabar baiknya,
ketiga utusan dari kedubes AS untuk mendata warga Amerika di lapangan
menyatakan korban tewas maupun terluka warga ‘bule’ AS nihil. Tim ini telah
mengkoordinasikan dengan pemerintah Indonesia dan tim sukarelawan yang
bertugas.
Seluruh media elektronik dan cetak Indonesia pada 20 Juli menyebutkan
dana bantuan senilai US$ 50,000 telah di salurkan kepada palang merah. WHO
menyebutkan bahwa setelah berkonsultasi dengan kementrian kesehatan Indonesia
tidak ada yang perlu di khawatirkan. Menteri Puspitek, Kusmayanto
Kadiman menyebutkan bahwa peringatan Tsunami telah di terima sebelumnya dari
badan meteorologi Jepang dan Hawaii namun tidak cukup waktu memberikan
peringatan kepada warga. Untuk kedepan, Kadiman menyebutkan perlunya
menempatkan infrastruktur peringatan dini lebih banyak untuk memperingatkan
warga dari ancaman bahaya Tsunami.
Team USAID kembali ke lapangan pada 21 Juli untuk membantu
pencarian korban dan pembersihan puing-puing. Mengenai keterlambatan peringatan
kepada warga lokal, pada tanggal 20 Juli menteri puspitek saat itu, Kusmayanto
Kadiman telah menerima buletin dari pusat badan meteorologi Hawaii dan Jepang
mengenai Tsunami pada tanggal 27 Juli. Saat itu, BKMG Indonesia hanya
mengirimkan pesan singkat melalui telepon seluler kepada 400 pejabat resmi dan
media massa mengenai gelombang raksasa tinggi sedang menuju daratan dalam waktu
20 menit. Jerman sempat menyumbangkan 10 peralatan peringatan dini kepada pemerintah
Indonesia, namun hanya 2 yang berfungsi dan terpasang. Walau demikian peralatan
itu rusak akibat di jarah oleh para nelayan yang melaut.
Kadiman sendiri menyebutkan perlunya memasang lebih banyak peralatan
peringatan dini akan tsunami pada setiap jarak 10 km di perairan Indonesia
terutama Sumatra Barat dan selatan Jawa.Akibat dari tsunami, para pejabat tampaknya saling menyalahkan satu sama
lain mengenai malfungsinya peralatan peringatan dini tersebut. Para ahli dan
pejabat tampaknya setuju untuk investasi penambahan peralatan dan pelatihan
dalam mengoperasikan serta memperingatkan evakuasi warga ke daratan yang lebih
tinggi. Bantuan hibah sepertinya di perlukan.