Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Perkumpulan & Berita>Barang Baru>Toilet Training untuk Balita laki-laki

Toilet Training untuk Balita laki-laki

oleh: Surga     Pengarang : Tafsiyatun Rohanah
ª
 
Toilet Training untuk Balita laki-laki
Mengapa toilet training diperlukan? Karena sebagai seorang individu, anak harus sedini mungkin belajar mandiri, terutama untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Meskipun ada orang tua yang selalu menemani, atau ada pengasuh yang selalu bersedia menolong, namun ketika anak bisa melakukan hal-hal pribadi secara mandiri, akan menimbulkan rasa percaya diri untuknya.
Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi sebagai orang tua, sejak lahir sudah saya membiasakan untuk memakaikan popok kain dan dilanjutkan dengan celana. Tujuannya adalah agar sedini mungkin balita bisa merasakan perbedaan antara basah yang berarti kencing, juga saat kering. Popok sekali pakai hanya digunakan pada saat-saat tertentu, seperti ketika akan bepergian, atau ketika musim hujan.
Masuk usia 7-8 bulan, adalah masa- masa belajar merangkak dan sekaligus belajar mengenal kata. Mulai usia ini, penulis mulai membiasakan diri untuk selalu mengatakan, “Adek, kalau mau pipis, bilang Bunda ya”. Pada usia-usia 7 bulan hingga 1, 5 tahun, balita biasanya menggunakan satu kata, misalnya pis untuk mengatakan keinginan untuk pipis, atau orang tua lebih memperhatikan gerakan tubuh si balita, seperti balita yang memegangi kemaluannya, berjalan sambil kaki dirapatkan, atau pada balita laki-laki dengan melihat alat kemaluannya yang lebih terlihat panjang.
Jika sudah mulai melihat tanda-tanda tersebut, balita di gendong, atau jika sudah bisa jalan dengan cara dituntun menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi, untuk balita laki-laki bisa dengan cara membuka sebagian celananya saja, mengeluarkan alat kelaminnya, meminta balita untuk memeganginya sendiri, kemudian Bunda melanjutkannya dengan cara membasuhnya, menaikkan celananya, mencuci tangan kembali, dan kemudian menyiram kamar mandi. Satu hal yang harus diingat adalah, selalu berkata kepada balita tentang langkah-langkah untuk bisa kencing sendiri, seperti , “begini lho Adek kalau mau kencing sendiri, berdiri di depan WC, lalu celananya diturunkan sedikit, penisnya dikeluarkan, kencing, lalu dibasuh 2x, trus celana di naikkan. Setelah itu, tangannya di cuci bersih, dan jangan lupa WC nya disiram biar tidak bau pesing”.
Selalu berkata dengan pelan, kata perkata agar mudah dimengerti. Juga jangan lupa untuk memberikan pujian ketika balita mau untuk menyatakan keinginannya untuk kencing di kamar mandi. Misalnya dengan cara bilang, “Wah, Adek pinter. Benar begitu, kalau mau kencing di kamar mandi. Anak pintar, sip”. Biasanya, balita akan merasa tersenyum dan merasa tersanjung ketika ada orang yang memujinya.
Ketika balita belum bisa berjalan, penulis memanfaatkan kursi duduk dan menempatkannya di kamar mandi. Ketika balita ingin kencing, di lepas celananya lalu didudukkan ke kursi. Cara ini juga saya lakukan ketika mengajari balita kencing saat terbangun malam. Untuk balita, ketika malam, penulis biasanya melihat gelagat berbeda dari anak. Ketika terasa ingin kencing, balita akan melakukan gerakan yang sama berulang kali, bisa 2 hingga 3 kali, seperti badan dibalik ke kanan dan ke kiri, kadangkala, ketika terbangun, anak akan bicara atau menjerit pipis!.

Diterbitkan di: 08 April, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

5 Teratas

.