Bencana datangnya begitu tiba-tiba dan diluar prediksi. Dua kali gempa berselang dalam15 menit memang tidak sampai merobohkan bangunan sampai luluh lantak, namun berkubik-kubik air LAUT yang terus menyeruak memasuki kota hingga puluhan kilometer membuat seluruh kota pantai Jepang menyerupai aliran sungai yang mengalir dan menyapu setiap benda yang menghalangi.
Salah satu kota yang paling dekat dengan pusat tsunami, Miyagi merupakan yang terparah. Bahkan di perkirakan 10,000 penduduk yang berada di dalam kota hilang tanpa berbekas. Bagaikan kota mati, seperti yang di sebut-sebut oleh tim penyelamat yang pertama kali tiba ke lokasi.
Sesuatu yang menjadi resiko tersendiri bagi negara yang menggunakan energi nuklir pembangkit listrik jika datangnya bencana seperti kebakaran, gempa, angin puyuh dan banjir bandang.Resiko paling utama adalah radiasi nuklir jika pembangkit tenaga listriknya pecah, kebakar maupun meledak Hanya menjelang sehari setelah gempa super, satu dari 3 reaktor nuklir di prefektur Fukushima meleleh Dan meledak mengirimkan awan radioaktif hingga sejauh 20 kilometer ke depan. Tim penyelamat yang mengungsikan penduduk dengan cepat dari sekitar wilyah dengan radius tertentu namun meninggalkan hampir 160 orang lebih terpapar radioaktif akibat penyelamatan terlambat.
Satu dari 3 reaktor di Fukushima telah meledak. Namun 2 di antaranya berada dalam keadaan kritis karena sistem pendingin yang tidak dapat bekerja dengan baik. Sesegera setelah itu, Tim nuklir Jepang segera bekerja dengan memompakan air LAUT dalam jumlah besar ke dalam reaktor yang tersisa untuk mencegah panas yang berlebih. Namun begitu kemungkinan dinding reaktor yang retak dan radiasi nuklir bocor sangatlah tinggi. Alat
Geiger pengukur radiasi menunjukkan paparan radiasi bervariasi antara 700 sampai dengan 1000 kali lipat baik di tanah maupun di udara pada sekitar fasilitas nuklir.
Laporan dari badan metereologi dan geofisika Jepang memprediksikan akan adanya gempa susulan berkekuatan diatas 6 skala richter yang dapat menimbulkan tsunami setinggi 3 meter beberapa hari setelah gempa berskala 9 di Jepang.
Setelah itu, sebuah laporan mengejutkan dari badan geologi internasional menyebutkan bahwa pulau paling utara Jepang, P. Honshu telah bergeser sejauh 2,4 meter dari posisi menjorok ke dalam. Gempa juga telah mempengaruhi kecepatan rotasi bumi Dan sumbu bumi yang bergeser dari posisi semula. Walaupun begitu di sebutkan efek terhadap kehidupan manusia selanjutnya sangatlah kecil.