Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Perkumpulan & Berita>Lingkungan>Menenggelamkan 2010 dengan senyum

Menenggelamkan 2010 dengan senyum

oleh: benjeng    
ª
 
menenggelamkan 2010 dengan senyum

Kalau harus jujur, tahun 2010 ini merupakan tahun yang paling banyak menguras energy, sekaligus menjadi dermawan untuk kesabaran dan mengikhlaskan untuk tidak memiliki apapun yang bukan menjadi miliki saya. Dari 12 bulan yang dijalani, selama 11 bulan praktis harus berenang dalam peluh dan kesabaran.

Berawal dari keputusan untuk hengkang dari kantor lama di bidang jurnalis untuk sebuah media terbitan nasional untuk daerah Subang. Segenap rencana, harapan, dan skenario hidup yang disusun beberapa pekan sebelum keluar, hancur berkeping-keping tanpa bentuk. Bangun, jatuh dan meyakinkan diri bahwa ada harapan di kemudian hari, menjadi satu-satunya modal yang harus dipertahankan.

Meskipun pada satu sisi, memupuk oftimistis tidak meredakan tangis balita yang mulai beranjak dua tahun (saat itu), dan mengenyangkan perut yang terlanjur lapar. Beruntung, meski dalam keterbatasan, dan apa adanya, anak, istri, termasuk saya, masih ditampung dengan baik dan benar oleh mertua di daerah Pondok Aren, Tangerang.

Hidup menjadi bulan-bulanan dalam waktu berbulan-bulan, terlebih ada yang dipertanggung jawabkan, adalah hari-hari menyiksa. Setiap detiknya, selalu saja ada rasa salah yang menggelora. Belum lagi berondongan permintaan balita untuk memiliki main yang di bawa oleh pedagang asongan. Belum juga berhenti suara tangisnya, amarah lapar dari perut istri, tak ubahnya telah menyayat nurani seorang suami.

Diam-diam, dan sedikit demi sedikit, oftimistis yang sudah mulai berada di ujung frustasi, memaksa untuk kembali ke Subang. Hemm, dengan bekal domain www.tintahijau.com, dan sepeda motor yang sudah entah berapa bulan nunggak kredit, dan lembaran 50 ribu di saku, pada bulan 8 segera saja berangkat menuju Subang.

Targetku, merintis sebuah media online yang mencakup wilayah III Purwakarta dan Cirebon. Dengan menganalisa, ala blogger kebelet, jika tertata rapi, pada tahun pertama mengudara, media online ini akan memberi sesuatu. Tahun ke dua dan seterusnya, tintahijau.com akan menjadi balita cantik, cerdas dan menggemaskan yang akan banyak diburu orang.

Lagi, lagi Tuhan punya skenario. Belum juga, www.tintahijau.co, berdiri tegak, Pada 9 Oktober, sehari sebelum peringkatan hari Pahlawan, ujian menerpaku, mata sebelah kanan dihantam percikan beling piring, yang terlepas dari tangan istri.

Percikan beling itu bersarang pada mata bagian kanan, dan berhasil merobek pada bagian bola mata. Kondisi ini, sesuai rekomendasi dokter di RSUD Coereng, Subang, mengharuskan saya menjalani operasi mata di Cicendo, Bandung.

Sekitar empat hari kamo mondok di sana. Dan sekiutar Rp5 juta uang tersedot untuk operasi dan kebutuhan selama di Bandung. Tuhanpun Maha Adil, untuk memenuhi kebutuhan itu, melalui hamba-Nya, Tuhan mencukupi kebutuhan selama menjalani perawatan.

Dan, lima hari menjelang genap dua bulan pasca-operasi mata, kondisi mata sebelah kanan, terus mengalami perkembangan positif.

Pepatah lama bilang, “Sudah jatuh tertimpa pula”. Fakta, memang demikian. Tapi, hemmm apalah artinya memaknai pepatah itu. Karena memaknai dengan jujur pepatah itu, sama halnya kita sudah mengkerdilkan diri dan membenarkan bahwa diri kita dalam kondisi seperti itu, kalau sudah begitu, artinya kita kiyamat.

Yups saat hidup kita benar-benar sulit, kita merasa diri adalah orang yang paling malang di dunia. Kita keluhkan kemalangan kepada Tuhan, bahkan kita ceritakan pula penderitaan kepada banyak orang. Dalam kesulitan itu kita merasa diri jauh dari kebahagiaan. Dan kita mungkin merasa memiliki alasan yang tepat untuk menyatakan diri tidak bahagia…

Tidak…!!! Betapa aku menyayangi, anak, istri dan keluargaku …!

Pada saatnya, dengan apa yang sudah kita lakukan, kita proseskan, sembari mengeliminasi mengeluh dan berkesah, sungguh kita dan setiap jiwa berhak untuk bahagia, dan sangat pantas mendapatkannya. Sabar, dan ikhlas dan rasa syukur, baik saat susah maupun mudah, saat sakit maupun sehat, yang akan membuat kita bahagia.

Dan yakinku, jika kita sudah meniti jalan yang benar dan tepat, dan terus berjalan di atasnya, maka tak perlu terlalu cemaskan kapan kita sampai. Sebab suatu saat kita akan sampai juga. Namun, cemaskanlah perjalanan kita bila jalan yang kita titi salah dan menyimpang.

2011, adalah awal kembali meniti, ,meluruskan arah jarum kompas, membulatkan tekad dan niat untuk sampai pada pencapai yang diharapkan….
Diterbitkan di: 09 Desember, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.