Orang Amerika suka sekali memelihara hewan kesayangan. Sebagian
besar penduduk Amerika memilih anjing sebagai hewan kesayangannya. Sebagian ada
juga yang memelihara kucing, tikus, burung, bahkan ada juga yang memelihara
babi. Pada umumnya mereka memperlakukan hewan dengan sangat istimewa. Mereka
memberinya nama, memberinya baju, mengajaknya ke salon, bahkan bagi kalangan
jetset Amerika hewan-hewan peliharaan tersebut sampai dipakaikan kalung berlian
yang harganya sangat mahal.
Buku “Dewey-Kucing Perpustakaan Kota Kecil Yang Bikin Dunia Jatuh
Hati” ini adalah bukti nyata tergila-gilanya orang Amerika kepada seekor hewan
peliharaan. Buku ini ditulis berdasarkan kisah nyata yang dialami oleh seorang
direktur perpustakaan umum di kota Spencer, Iowa, Vicky Myron. Buku berbahasa
asli Inggris yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh
Serambi Ilmu Semesta ini merupakan buku yang mendapatkan predikat The
International Best Seller.
Dewey yang kemudian diberi nama Dewey Readmore Books ditemukan oleh
Vicky di kotak pengembalian buku perpustakaan di suatu pagi musim dingin yang
beku. Waktu itu Dewey hampir mati karena kedinginan dan kelaparan. Dengan penuh
kasih sayang Vicky memandikannya dan memberinya makanan.Dan kemudian Vicky mengijinkannya
tinggal di perpustakaan itu meskipun anggota dewan perpustakaan dan sebagian
pengunjung yang tak punya rasa empati menolak Dewey. Tetapi akhirnya kemanisan
Dewey mengubah semua pendapat yang tak berempati dan menjadikan Dewey disayangi
oleh semua orang.
Sebenarnya tergila-gilanya pengunjung perpustakaan umum Spencer ini
bukan semata-mata karena Dewey adalah seekor kucing. Bukan! Tetapi Dewey adalah
seekor kucing yang sangat manis, baik wajahnya maupun perilakunya sehari-hari.
Dewey seakan-akan mengetahui jika ada pengunjung yang sedang galau. Dewey
selalu mencari pengunjung yang sedang sedih dan berusaha duduk di pangkuannya
untuk menghiburnya. 55
Dewey sangat menyayangi Vicky, semua pegawai dan pengunjung
perpustakaan. Suatu kali ada seorang anak autis yang takut kepada kucing dan
semua hal yang ada di perpustakaan. Dia diantar oleh ibunya mengunjungi
perpustakaan dengan menaiki sebuah kursi roda dan dia melihat keadaan di
sekelilingnya dengan penuh ketakutan. Dewey mendekatinya dan mula-mula anak itu
menjerit-jerit. Tetapi Dewey terus mendekatinya dan berusaha agar anak itu
dapat menyukainya. Dewey berhasil. Seterusnya Dewey telah membuat anak itu
lebih terbuka dan tidak takut lagi dengan keadaan sekelilingnya. Dewey selalu
menyempatkan diri melompat di pangkuan anak itu beberapa waktu ketika
dilihatnya anak itu datang bersama ibunya. Dan jika anak itu tidak melihat
Dewey, terpancarlah kesedihan di wajah anak itu sampai Dewey datang dan
menghiburnya.
Dewey juga peduli dengan perpustakaan yang ditinggalinya. Suatu
malam di mana dia selalu sendirian di dalam perpustakaan, Dewey melihat seekor
kelelawar. Dia mencoba mengusir kelelawar itu dengan membuang kotoran di
tempat-tempat yang disinggahi oleh si kelelawar. Dengan begitu, Dewey ingin
menegaskan bahwa dirinyalah yang berkuasa di tempat itu, bukan kelelawar yang
tidak diundang tersebut. Para pegawai perpustakaan tentu saja merasa terganggu
dengan ulah Dewey itu. Padahal biasanya Dewey selalu membuang kotoran di tempat
yang telah disediakan untuknya. Mereka mengira bahwa Dewey sedang bermasalah.
Tetapi ketika para pegawai perpustakaan menyadari bahwa ada seekor kelelawar
yang tersesat masuk ke dalam perpustakaan, mereka sangat berterimakasih akan
kepedulian Dewey. Setelah kelelawar itu dapat diusir pergi, tentu saja Dewey
tidak membuang kotorannya di sembarang tempat lagi.
Setiap akhir pekan Vicky selalu membawa Dewey pulang ke rumahnya.
Vicky adalah seorang orang tua tunggal dengan seorang putri yang baru menginjak
remaja. Sebagaimana umumnya anak yang baru beranjak remaja, keadaan emosi putri
Vicky sangat labil sehingga Vicky selalu bertengkar dengan anak perempuannya
tersebut. Kehadiran Dewey sangat membantu mereka memperbaiki hubungan karena
dengan adanya Dewey mereka berdua jadi lebih banyak berbicara meskipun pembicaraan
itu pun masih berkisar tentang kelucuan-kelucuan Dewey. Tetapi dengan demikian
mereka menjadi lebih akrab karena kehadiran Dewey di antara mereka.
Ketika putri Vicky beranjak dewasa, ia memilih untuk meninggalkan Spencer.
Suatu saat ia pulang dengan membawa calon suaminya. Ia pun mengenalkan lelaki
itu kepada Dewey. Dan karena Dewey menyukai lelaki tersebut, putri Vicky mantap
untuk menerima lamaran lelaki itu yang kemudian menjadi suami yang ternyata
memang sangat baik baginya.
Dewey akhirnya mati karena Vicky memutuskan untuk mengakhiri
penderitaan Dewey dengan suntikan mati. Vicky tidak tahan melihatnya menderita
karena penyakit pencernaan yang sudah lama diderita Dewey. Semakin lama Dewey
menjadi semakin lemah karena ketuaan dan penyakitnya yang parah. Perut Dewey
mengeras sehingga ia tidak bisa membuang kotorannnya dengan semestinya dan dia
juga tidak berselera makan. Dengan berat hati Vicky membawanya ke dokter hewan
Dewey untuk disuntik mati. Agar bisa selalu mengingat Dewey, Vicky menguburkan
abu Dewey di bawah jendela perpustakaan dan mengundang para pengunjung
perpustakaan dalam acara mengenang Dewey.