Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Perkumpulan & Berita>Budaya>Stos Film Festival, Dari Cikini ke Goethe Institu

Stos Film Festival, Dari Cikini ke Goethe Institu

oleh: ucokpengembara    
ª
 

Istilah ‘kota seni’ mungkin layak dilekatkan untuk Cikini. Cikini sering digunakan untuk acara-acara seni. Misalnya, acara sastra apresiasi sastra, diskusi publik, gerakan literasi, dan pementasan seni teater dan musik. Cikini berada di tengah-tengah kota Jakarta, tepatnya berada di Jakarta Pusat, tidak jauh dari terminal Senen, sehingga sentralisasi seni di Jakarta mungkin saja benar-benar diletakkan di Cikini.

Khususnya lagi, di Cikini terdapat pusat seni yang terletak TIM (Taman Ismail Marzuki). Di sini terdapat perpustakaan HB Jassin, IKJ (Institue Kesenian Jakarta), dan penggung pementasan teater yang cukup luas dan elegan. Maka, tak salah bila STOSFES (StoS Film Festival 2012) memancing acara puncak.

Memancing acara dengan rangkai jumpa pers di Cikini memang tepat. Sebelum memasuki acara puncak StoS Film Festival 2012 yang akan digelar mulai tanggal 22 – 26 Februari 2012 dan bertempat di Goethe Institut, Kine Forum dan Institut Français d'Indonésie, yang terletak di daerah Mampang.

StoS Film Festival, bagian dari lembaga berskala Internasional ini, yang digelar dua tahun sekali untuk apresiasi seni film dengan fokus pada tema-tema lingkungan, bukan pertama kali diadakan di Jakarta, namun baru kali ini acara diadakan selama tiga hari. STOSFES ini merupakan kegiatan yang ke-IV. Ada banyak rangkaian acara sehingga acara ini harus diadakan selama tiga hari. Acara-acara tersebut ialah pemutaran 33 film dokumenter, film fiksi, dan Pameran tentang Masyarakat Mollo. Selain itu, juga ada penilaian kompetisi esai yang telah terpilih 30 judul karya terpilih dari 70 judul karya yang masuk ke panitia.

Tahun ini acara mengambil tema “Semangat Tanpa Batas”. Tujuannya adalah mengangkat berbagai persoalan-persoalan sosial-politik di nusantara ini dengan wujud semangat yang tinggi. Semangat yang harus ditunjukkan melalui karya seni dalam bentuk film, dan dalam bentuk esai.

“Berjuta semangat yang bermunculan inilah yang ingin ditularkan StoS Film Festival kali ini. Kami ini berbagi semangat dan menyerukan semua pihak untuk bertindak bersama-sama untuk menyelamatkan lingkungan,” ujar Ferdinan Ismail, Direktur StoS Film Festival 2012.

Dijelaskan oleh penutur dalam konferensi pers, bahwa semangat berkarya sebagai wujud solidaritas terhadap persoalan-persoalan di negeri ini, seperti masyarakat Molo yang menggali kembali kearifan lokalnya dengan mengelola lahan dan pangan lokal.

“Menyelamatkan lingkungan, berarti menyelamatkan bangsa. Semoga kehadiran StoS Film Festival memberi semangat tanpa batas bagi kita semua untuk bangun, bergandengan tangan, menjadi pelaku utama penyelamatan lingkungan,” ujar Dewan Program StoS Film Festival, Voni Novita.

Persoalan-persoalan dari berbagai sektor dalam kehidupan bangsa perlu menjadi sorotan. Apalagi, yang terutama dan utama, sektor lingkungan kita yang merasakan dampaknya akibat sosial-politik yang masih belum jelas juntrungannya.

Dari sanalah, konfrensei pers STOSFES di Cikini mencoba mengajak pencinta seni di Cikini serta memaparkan tujuan dan maksud panitia penyelenggara STOSFES mengadakan kegiatan STOSFES ke-IV tahun ini kepada publik.

Diterbitkan di: 20 Februari, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.