Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Cara Algojo Penggal Kepala

oleh: Dianti     Pengarang : Djono W. Oesman
ª
 

Arab Saudi adalah salah satu negara yang menerapkan hukum Islam, termasuk di dalamnya qisas. Maksud dari qisas pada dasarnya adalah nyawa dibayar dengan nyawa. Jadi apabila ada seseorang yang membunuh orang lain, maka ia juga harus dibunuh. Kecuali jika keluarga korban memaafkan dan/ atau ia membayar denda (diyat) yang jumlahnya ditentukan oleh keluarga korban.

Di Arab Saudi, cara yang digunakan untuk melaksanakan hukuman qisas ini adalah dengan cara dipenggal kepalanya. Tentu pemenggalan dilakukan oleh seorang algojo yang profesional. Ditulis oleh seorang senior di bidang kepenulisan, kisah mengenai kehidupan seorang algojo ini sangat menarik untuk diikuti.

Adalah Muhammad Saad Al-Beshi, seseorang yang sudah hampir 20 tahun menjadi algojo yang bekerja untuk pemerintah Arab Saudi. Sebelumnya ia hanyalah seorang sipir di penjara Taif, yang bertugas memborgol dan menutup kepala terpidana yang akan menjalani hukuman pancung. Kemudian atasannya memberinya tugas sebagai algojo. Ia tidak punya pilihan selain menerima tugas tersebut, karena jika tidak, maka ia akan diberhentikan dari pekerjaaannya.

Ternyata untuk menjadi seorang algojo profesional, ayah tujuh orang anak ini harus mengikuti pelatihan khusus. Diawali dengan latihan fisik. Beshi diajarkan bagaimana cara memenggal kepala dengan cepat dan benar. Tujuannya adalah agar terpidana tidak menderita terlalu lama. Latihan ini juga mencakup cara potong tangan yang benar. Hukum potong tangan biasanya dikenakan bagi para pencuri dan koruptor. Kemudian Beshi juga mendapatkan pengetahuan mengenai anatomi tubuh manusia. Dan tidak ketinggalan, ia juga dibekali dengan ilmu agama Islam, untuk menguatkan mentalnya. Diyakinkan padanya bahwa apa yang ia jalani bukanlah suatu dosa. Justru dengan menjadi algojo ia telah turut berperan serta dalam menegakkan hukum Alloh.

Walaupun sudah menjalani serangkaian latihan, tetap saja ia merasa tegang di hari pertama menjalankan tugas. Ternyata bukan hanya orang yang akan dipenggal yang selalu didampingi oleh ulama, sang algojo pun demikian. Apalagi saat tiba di tempat pemancungan ia menyadari bahwa ternyata hukuman itu disaksikan oleh para pejabat terkait yang jumlahnya cukup banyak. Tentu Beshi berusaha menjalankan tugasnya sebaik mungkin. Namun hasilnya justru "terlalu baik". Pedang seberat 1,2 kg itu ia tebaskan dengan terlalu cepat dan kuat, sehingga kepala si korban menggelinding sejauh belasan meter. Tak ayal lagi kejadian tersebut membuat tercengang orang yang melihatnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, Beshi semakin terbiasa menjalani profesi tersebut. Sang istri, yang awalnya merasa risih untuk mencuci baju suaminya yang terkena cipratan darah sepulang bekerja, kini justru dialah yang mencuci pedang suaminya yang berlumuran darah sehabis digunakan bertugas.

Perawakannya memang sangar. Tak heran jika ia cukup disegani di lingkungan tempat tinggalnya. Tapi sebagai seorang ayah, ia sangat menyayangi anak-anaknya. Ia seorang yang sangat sabar dan lembut hatinya. Bahkan untuk membunuh seekor nyamukpun ia tak tega. Walau demikian, Beshi tetap seorang yang handal dalam menjalankan tugasnya.

Diterbitkan di: 14 Juli, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.