Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Kekerasan di Mana-mana

oleh: hukman    
ª
 
Kekerasan di Mana-mana

Kini bangsa ini menjadi bangsa pemarah. Kita kehilangan kemampuan bertoleransi. Kohesitas di antara beragam etnik kian renggang dan malah bersalin dengan semangat saling membantai, saling membunuh. Begitu penggalan Editorial Media Indonesia 30 September 2010, ketika mengulas berbagai kerusuhan yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia.
Tentu tidak bisa dibantah, bahwa kekerasan, kebrutalan dan kerusuhan, sudah menjadi fenomena yang sering terjadi di sekitar kita. Tetapi, peristiwa seperti ini, bukanlah “milik pribadi” Indonesia.
Di banyak tempat di muka bumi ini, hal seperti itu juga terjadi. Ada perang antar gang, perang antar agama, perang antar suku dan perang antar pemerintah melawan rakyatnya yang berdemonstrasi. Ada juga perang antar negara atau bahkan beberapa negara bersekongkol membumihanguskan sebuah negara.
Itu semua adalah tanda paling nyata lemahnya kesabaran dan akal sehat. Akhirnya yang berbicara adalah batu, kayu, samurai, bedil, bahkan pesawat tempur. Yang ditonjolkan adalah kehendak menang sendiri, nafsu melumpuhkan musuh bahkan dengan cara membunuh. Tidak usah pula tanya apa penyebabnya. Karena berbagai alasan bisa diajukan, baik yang rasional maupun yang takhayul seperti isu bom biologi yang menyebabkan Iraq dicincang. Tetapi bomnya belum ditemukan, Iraq terlanjur remuk.
Kerusuhan di depan Pengadilan Negeri jakarta Selatan beberapa hari lalu, adalah contoh kecil yang menalan korban jiwa. Kerusuhan Tarakan beberapa pekan silam, hanya pelengkap dari peristiwa berdarah sebelumnya, seperti kerusuhan antaretnik di Sampit, Kalimantan Tengah, beberapa tahun silam yang banyak menelan korban jiwa. Juga ada kasus Poso-Sulawesi Tengah, Ambon, Abepura-Papua, dan sejumlah tempat lain.
Bagaimana menjelaskan semua itu? Para ahli mungkin akan berdalih bahwa adanya kemungkinan ketidakadilan dan kesenjangan sebagai penyebabnya. Para pemikir mungkin akan bilang bahwa itu bisa disebabkan oleh adanya jarak antara kesempatan dan kemampuan. Kesempatan terbuka lebar, sementara kemampuan semakin mengecil. Perdagangan semakin tak berbatas, tetapi daya beli mengecil. Pengangguran meningkat, sebab pemutusan hubungan kerja terjadi di mana-mana, baik karena kebangkrutan maupun karena kebakaran.
Itu kalau kita mau bicara teori. Tetapi kalau kita melihat peristiwa, kerusuhan, kekerasan, kebrutalan, mungkin bukanlah barang aneh bagi masyarakat Indonesia. Sejak zaman penjajahan sampai hari ini, radikalisasi massa selalu mencuat. Patriotisme yang ditanamkan dalam lubuk hati anak sekolah di negara kita, juga dibangun dengan heroisme bambu runcing, Bandung Lautan Api, dan semboyan “merdeka hidup atau mati”. Kita malah menyebut negara ini, tumpah darah Indonesia.
Jadi jangan marah, kalau bangsa ini tiba-tiba menjadi pemarah. Negara ini memang tidak dirumuskan di meja perundingan. Melainkan diperjuangkan dengan darah dan patah tulang. Andaikan Mars itu dekat, mungkin kita perlu transmigrasi untuk memulai hidup baru di sana. Sebab di muka bumi ini, darah tak berhenti mengalir. Kebrutalan bisa menghadang kita di India, di Palestina, di Afrika, Somalia, Amerika, juga di Dili-Timor Leste.
Diterbitkan di: 30 September, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.