Halaman Utama Shvoong > Ilmu Sosial > Sosiologi > Kritik Marx Terhadap Hegel (II)

.

Kritik Marx Terhadap Hegel (II)

Summary rating: 3 stars 8 Tinjauan
Pengarang : Cyril Smirth
Summary by : Mahardika
Kunjungan : 247  kata: 900   Diterbitkan di: Januari 04, 2008
Tesis doktoral Marx, yang dikerjakannya antara tahun 1839 dan 1841,
adalah mengenai ‘Perbedaan antara Filsafat Alam Demokritean dan
Epikurean’. Caranya memperlakukan dua atomis Yunani tersebut,
kontradiktif dengan pendapat daripada Hegel-dan hampir semua orang-di
mana ia menekankan keaslian daripada Epikurus. Marx mengumumkan bahwa
tujuannya adalah untuk menemukan sumber daripada kesadaran-diri manusia
dan idea di realitas material. Yang lainnya adalah pendiriannya bahwa
filsafat harus ‘keluar menuju dunia’. Menemukan bahwa eksistensi tidak
sesuai dengan essensi, maka filsafat harus menjadi praktis, dan
‘memalingkan kemauannya terhadap dunia penampakan’. (I: 85.) Lebih jauh
lagi, ‘dunia yang berhadapan dengan sebuah filsafat yang bersifat total
di dalam dirinya, adalah...sebuah dunia yang terkoyak-koyak’. (I: 491)
Hal ini memberikan arah kepada kritik Marx terhadap agama. Berbeda
dengan Kant, Marx menganggap bahwa keyakinan agama tidak hanya sebuah
ilusi.

Semua tuhan/dewa, baik yang penyembah berhala maupun Kristen, telah
memiliki sebuah eksistensi yang riil. Bukankah dewa Moloch berkuasa di
zaman purbakala? Bukankah dewa Apollo di Delphi adalah sebuah kekuatan
yang riil di dalam kehidupan orang-orang Yunani? (I: 104).

Pada tahun 1843, Marx memulai karyanya mengenai analisis yang terinci
dari bagian tentang negara di dalam Philosophy of Right. Ini adalah
merupakan puncak dari karya terakhir Hegel, di mana ia berupaya
memperlihatkan bagaimana kekuatan negara modern, dipahami secara
rasional, merekonsiliasikan kontradiksi-kontradiksi dari ‘masyarakat
sipil’, yang mana adalah, masyarakat borjuis. Di mana masyarakat sipil
adalah ‘medan perang daripada kepentingan pribadi’, filsafat
menunjukkan bagaimana negara mengekspresikan kesatuan daripada sebuah
kehidupan bangsa. Negara adalah ‘aktualitas dari kebebasan yang
konkrit’. Kritik Marx terhadap filsafat negara dari Hegel membuat ia
melihat bahwa masyarakat sipil dan negara adalah asing terhadap
kehidupan manusia yang sejati, yang mana pada waktu itu disebutkannya
sebagai ‘demokrasi sejati’.

Tidak lama setelah ia meninggalkan karyanya mengenai negara, Marx
membuat tiga langkah maju ke depan, yang mana merubah hidupnya: ia
melihat pentingnya peranan revolusioner dari proletariat; ia menemukan
bahwa apa yang ia namakan dengan ‘demokrasi sejati’ berhubungan dengan
apa yang disebut oleh yang lain dengan ‘komunisme’; dan ia menyadari
bahwa ia harus membuat sebuah studi yang kritis tentang ekonomi
politik. Hegel melihat ‘ruh’ maju dengan cara seperti ini: di dalam
setiap tahapan penyingkapannya, ruh-totalitas daripada kehidupan dan
aktifitas manusia-menemukan dirinya berkontradiksi dengan apa yag telah
diproduksi oleh dirinya, yang mana sekarang berhadapan dengannya
sebagai sesuatu yang asing. Filsafat merefleksikan keterasingan ini,
dan menyelesaikannya melalui refleksi ini, dan hal ini, menurut Hegel,
adalah bagaimana ruh menciptakan dirinya. Relasi daripada negara dengan
masyarakat sipil adalah sebuah contoh yang utama dari gerakan ini. Pada
tahun 1844, kritik Marx, baik terhadap filsafat maupun ekonomi politik,
telah mencapai tingkatan di mana ia dapat menemukan sesuatu yang lain
di dalam kategori-kategori dan ekspresi Hegel: kemanusiaan memang
menciptakan dirinya sendiri-hal ini adalah penemuan yang hebat dari
Hegel-tetapi yang fundamental adalah bukan tindakan daripada ruh, tidak
pula kerja daripada filsafat, tetapi adalah tenaga kerja material.

Dengan demikian kritik Marx terhadap Hegel melangkah dari sejarah
filsafat kuno, ke konsepsi daripada negara. Kemudian baru terlihat
bahwa ‘bentuk-bentuk politik berasal dari masyarakat sipil dan anatomi
daripada masyarakat sipil dapat ditemukan pada ekonomi politik’. Adalah
kritik ekonomi politik yang dikonsentrasikan oleh Marx sampai dengan
akhir hayatnya, tetapi hal ini dapat disalahpahami. Marx tidak terlibat
di dalam ‘kritik terhadap kapitalisme’, seperti yang sering kita
dengar. Hal itu dapat membuat kita terjebak di dalam perangkap utopian.
Tugasnya adalah untuk mempelajari ekspresi teoretis tertinggi dari
relasi-relasi borjuis, dan memperlihatkan bagaimana teori-teori ini
menyembunyikan cara di mana relasi-relasi tersebut menolak apa yang
secara essensial adalah manusia. Hubungan pertukaran daripada
kepemilikan pribadi, yang dipresentasikan oleh para tokoh Pencerahan
sebagai dasar daripada kebebasan, persamaan, dan persaudaraan,
sebenarnya adalah ‘lawan daripada relasi sosial’. Uang dan kapital
menggabungkan manusia secara bersama-sama, tetapi hanya dengan cara
memisahkan mereka. Karena masyarakat telah terfragmentasi,
relasi-relasi sosial borjuis memegang kekuasaan atas individu-individu
yang dihubungkannya. Manusia memperlakukan sesamanya-dan dirinya
sendiri-sebagai benda, sementara kapital menjadi subyek riil yang
memerintah hidup mereka.Hegel telah berupaya untuk mengekspresikan cara kebebasan berkembang
hanya di tingkatan masyarakat secara keseluruhan, apa yang disebutnya
dengan ‘Ruh’. Marx, yang telah melangkah melebihi tujuan tradisional
daripada filsafat, berupaya untuk menyingkap kemungkinan dari individu
sosial, yang mana perkembangan bebasnya adalah kondisi, yang tanpanya
‘kebebasan perkembangan daripada semua’ tidak dapat terwujud.

Ringkasan lain tentang Kritik Marx Terhadap Hegel (II)
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5


Tambahkan komentar Anda Tidak ada komentar

Read Free Summaries - Write and Get Paid

Summarize Human Knowledge on Shvoong. Join us!

------