Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Sosiologi>Teori Konflik Dalam Sosiologi

Teori Konflik Dalam Sosiologi

oleh: 3handoyo     Pengarang : 3handoyo
ª
 
Menurut Clifford Geertz (Dalam Nasikun, 36 ; 1984), masyarakat majemuk
adalah masyarakat yang terbagi ke dalam sub-sub sistem yang kurang lebih
sistem sendiri, di mana masing-masing sub sistem tersebut terikat ke dalam
oleh ikatan-ikan yang bersifat primordial.
Dengan cara yang lebih singkat, Pierre L. van den Berghe (Dalam
Nasikun, 36 ; 1984) menyebutkan beberapa karakteristik berikut sebagai sifatsifat
dasar dari suatu masyarakat majemuk, yakni: (1) terjadinya segmentasi
ke dalam bentuk kelompok-kelompok yang seringkali memiliki subkebudayaan
yang berbeda satu sama lain; (2) memiliki struktur sosial yang
terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat non-komplementer,

(3) kurang mengembangkan konsensus di antara
para anggotanya terhadap nilai-nilai yang bersifat
dasar; (4) secara relatif sering kali mengalami
konflik-konflik di antara kelompok yang satu
dengan kelompok yang lain; (5) secara relatif
integrasi sosial tumbuh di atas paksaan (coercion)
dan saling ketergantungan di dalam bidang
ekonomi; serta (6) adanya dominasi politik oleh
suatu kelompok atas kelompok-kelompok yang
lain.

Adapun alat untuk menganalisis keragaman
masyarakat Indonesia adalah dengan menggunakan
pendekatan teoritis antara lain teori konflik

Teori Konflik
Tokoh utama teori konflik adalah Ralp
Dahrendorf. Menurut teori konflik masyarakat
senantiasa berada dalam proses perubahan yang
ditandai oleh pertentangan yang terus menerus
di antara unsur-unsurnya. Teori kon􀆀 ik melihat
bahwa setiap elemen memberikan sumbangan
terhadap disintegrasi sosial dan keteraturan yang
terjadi dalam masyarakat disebabkan karena
adanya tekanan dan pemaksaan kekuasaan dari
atas oleh golongan yang berkuasa.
Asumsi dasar teori konflik adalah:

a. Masyarakat senantiasa berada di dalam proses
perubahan yang tidak pernah berakhir, atau
dengan perkataan lain, perubahan sosial
merupakan gejala yang melekat di dalam setiap masyarakat.
b. Setiap masyarakat mengandung kon􀆀 ik-kon􀆀 ik di dalam dirinya atau
dengan perkataan lain, kon􀆀 ik merupakan gejala yang melekat dalam
masyarakat.
c. Setiap unsur di dalam masyarakat memberikan sumbangan bagi terjadinya
disintegrasi dan perubahan-perubahan sosial.
d. Setiap masyarakat terintegrasi atas penguasaan atau dominasi oleh
sejumlah orang atas sejumlah orang-orang yang lain.

Demikian teori konflik sebagai salah satu alat analisis keragaman masyarakat

Sumber: Puji Raharjo, Sosiologi 2: untuk SMA/MA Kelas XI, Jakarta : Pusat Perbukuan, Departemen
Pendidikan Nasional, 2009.
Diterbitkan di: 31 Desember, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.