Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Sosiologi>Pranata Agama dan Pranata Keluarga

Pranata Agama dan Pranata Keluarga

oleh: Stargoldman    
ª
 
Jenis-Jenis Pranata Sosial : Pranata Agama dan Pranata Keluarga

1. Pranata Agama
a. Pengertian dan Unsur-unsur Pranata Agama
Pranata agama, yaitu seperangkat aturan yang mengatur kehidupan manusia baik manusia dengan sesama makhluk lainnya maupun manusia dengan Sang Pencipta. Unsur-unsur pranata agama antara lain sebagai berikut.
1) Kepercayaan agama
2) Simbol agama.
3) Praktik agama.
4) Umat/pemeluk agama.
5) Pengalaman agama.
b. Peran dan Fungsi Pranata Agama
Peran pranata agama adalah mendorong individu lebih taat menjalankan ibadah, sehingga tercipta kejujuran, kedisiplinan, ketekunan, rasa kebersamaan, saling menghormati, melestarikan lingkungan alam, dan mengondisikan hidup tenang.
Secara rinci, fungsi pranata agama dapat disebutkan sebagai berikut.
1) Memberikan identitas kepada manusia sebagai umat dari suatu agama. Misalnya, umat Islam, umat Hindu, umat Buddha, umat Kristen, dan umat Katholik.
2) Mempersatukan sesama pemeluk agama sebagai satu saudara.
3) Kaidah-kaidah agama mengarahkan pemeluknya untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini.
4) Setiap agama memiliki tata cara ritual yang harus dijalani para penganutnya. Ritual, keagamaan ini terutama mengatur hubungan vertikal antara penganut agama yang bersangkutan dengan Tuhan.
5) Agama juga mengatur hubungan antara sesama manusia.
6) Agama mengarahkan setiap pemeluknya untuk menghormati sesama manusia, menghormati martabatnya, dan memperlakukan sesama secara manusiawi.
7) Agama memberikan tuntunan para penganutnya bagaimana mereka memperlakukan alam semesta.
8) Memberikan kesegaran jiwa dan ketenangan.

2. Pranata Keluarga
a. Pengertian dan Ciri-ciri Pranata Keluarga
Pranata keluarga, yaitu sekelompok orang yang dipersatukan oleh ikatan pernikahan, pertalian darah, atau adopsi yang membentuk satu rumah tangga saling berinteraksi dan berkomunikasi melalui perannya masing-masing sebagai anggota keluarga.
Menurut Robert Mac Iver dan Charles Rorton Page bahwa ciri-ciri keluarga sebagai berikut.
1) Keluarga merupakan hubungan perkawinan.
2) Keluarga adalah lembaga sosial yang dibentuk melalui perkawinan.
3) Keluarga mempunyai suatu sistem tata nama (nomenclature) dan garis keturunan.
4) Keluarga mempunyai fungsi ekonomi yang dibentuk oleh anggota-anggota.
5) Keluarga umumnya tinggal bersama-sama dalam satu rumah.
Menurut Burgess dan Lochc bahwa ciri-ciri keluarga sebagai berikut.
1) Terdiri atas orang-orang yang terikat oleh hubungan perkawinan darah atau adopsi.
2) Antar anggota keluarga ada hubungan batin yang mendalam dan tanggung jawab moral yang cukup besar.
3) Pola interaksinya bersifat kooperatif dan pola komunikasinya berasas perorangan (face to face).
4) Tiap-tiap keluarga umumnya mengelola ekonomi rumah tangga sendiri (house hold) tiap-tiap anggota punya tugas dan peranan yang berbeda-beda dalam aktivitas sehari-hari.
5) Umumnya tinggal bersama dalam satu rumah tangga.
6) Corak kehidupannya lebih bersifat gemeinschaft (paguyuban).
b. Bentuk Keluarga
Dilihat dari segi jumlah suami atau istri, bentuk keluarga dapat dibedakan menjadi berikut.
1) Monogami, adalah perkawinan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan.
2) Poligami, adalah perkawinan antara seseorang dengan suami atau istri lebih dari satu.
Dilihat dari segi asal suami atau istri, bentuk keluarga dapat dibedakan menjadi berikut.
1) Eksogami, yaitu perkawinan antara pria dan wanita yang berlainan suku atau ras.
2) Endogami, yaitu perkawinan antara pria dan wanita yang berasal dari suku atau ras yang sama.
3) Homogami, yaitu perkawinan antara pria dan wanita dari lapisan sosial yang sama.
4) Heterogami, yaitu perkawinan antara pria dan wanita dari lapisan sosial yang berbeda.

c. Pola Adat Menetap Sesudah Perkawinan
1) Patrilokal (virilokal) yaitu pasangan pengantin bertempat tinggal di sekitar pusat kediaman kerabat suami.
2) Matrilokal (uxovilokal) yaitu pasangan pengantin bertempat tinggal di sekitar pusat kediaman kerabat istri.
3) Bilokal, yaitu pasangan pengantin menetap secara bergantian antara tempat kerabat istri dan kerabat suami.
4) Neolokal, yaitu pasangan pengantin bertempat tinggal di kediaman baru.
5) Avunlokal, yaitu pasangan pengantin bertempat tinggal di rumah saudara laki-laki ibu (di rumah paman) pihak suami.
6) Natalokal, yaitu suami/istri tidak tinggal bersama-sama, mereka bertempat tinggal di daerah kelahiran masing-masing dan hanya berkunjung untuk waktu yang relatif pendek.
7) Utrolokal yaitu pasangan pengantin bebas menentukan bertempat tinggal setelah menikah.
8) Komonlokal, yaitu kebiasaan bertempat tinggal dalam kelompok, termasuk orang tua kedua belah pihak pasangan suami istri.
d. Sistem Kekerabatan
1) Bilateral (parentan) yaitu sistem kekerabatan yang menghitung hubungan keluarga melalui garis ayah dan garis ibu. Pada sistem kekerabatan bilateral ada beberapa macam variasi, yaitu :
a) prinsip ambilineal;
b) prinsip konsentris;
c) prinsip primogenitur; dan
d) prinsip ultimogenitur.
2) Kekerabatan unilateral (unilineal), yaitu menghitung garis keturunan hanya melalui satu garis saja, yaitu garis ayah (patrilineal) atau garis ibu (matrilineal).
e. Fungsi Keluarga
Keluarga mempunyai beberapa fungsi penting. Berikut ini beberapa fungsi keluarga tersebut
1) Fungsi reproduksi.
Keluarga merupakan sarana untuk memperoleh keturunan secara sehat, terencana, terhormat, sesuai dengan ajaran agama, dan sah di mata hukum.
2) Fungsi keagamaan.
Pada umumnya suatu keluarga penganut agama tertentu akan menurunkan agama atau kepercayaannya kepada anak-anaknya.
3) Fungsi ekonomi
Keluarga merupakan suatu wadah dalam usaha mengembangkan serta mengatur potensi dan kemampuan ekonomi.
4) Fungsi afeksi
Anak membutuhkan kehangatan perasaan dari orang tuanya, namun tidak secara berlebihan atau pun kekurangan. Oleh karena itu orang tua, terutama ibu mesti melaksanakan fungsi perasaan ini dengan baik agar jiwa anak tumbuh dengan sehat.
5) Fungsi sosialisasi
Fungsi sosialisasi mempunyai kaitan yang sangat erat dengan fungsi pendidikan karena dalam fungsi pendidikan terkandung upaya sosialisasi, dan demikian pula sebaliknya, anak memperoleh sosialisasi yang pertama di lingkungan keluarganya. Orang tuanya mempersiapkan dia untuk menjadi anggota masyarakat yang baik.
6) Fungsi penentuan status
Melalui keluarga seorang anak memperoleh statusnya dalam masyarakat, seperti nama, jenis kelamin, hak waris, tempat dan tanggal lahir, dan sebagainya.
7) Fungsi rekreatif
Fungsi rekreatif ini tidak berarti bahwa keluarga seolah-olah harus berpesta pora atau selalu berekreasi di luar rumah. Keluarga dapat menjalankan fungsi rekreatif dengan menciptakan suasana keluarga yang akrab, ramah, dan hangat di antara anggota-anggotanya.
Diterbitkan di: 15 Nopember, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.