Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Cara Menemukan Masalah

oleh: berkah_ramadhan     Pengarang : None
ª
 
”Pertimbangan Obyektif” di sini dimaksudkan sebagai ”pertimbangan berdasarkan kondisi masalah itu sendiri mengenai kelayakannya untuk diteliti atas dasar kualitas masalah dan dapatnya masalah dikonseptualisasikan sehingga mudah mendesain instrumen penelitian.” Kedua persyaratan obyektif ini harus dipenuhi agar suatu masalah secara obyektif dapat diterima sebagai masalah yang akan diteliti. Ada beberapa aspek yang dapat dijadikan pertimbangan obyektif tentang kualitas suatu masalah sehingga dipandang layak untuk diteliti. Aspek-aspek tersebut meliputi : (1) masalah tersebut memiliki nilai temuan yang tinggi; (2) masalah tersebut sedang dirasakan adanya oleh kebanyakan orang atau setidaknya oleh beberapa kelompok masyarakat tertentu pada saat ini; (3) masalah tersebut bukan masalah penelitian pengulangan terhadap penelitian yang telah dilakukan orang lain pada waktu sebelumnya; (4) masalah tersebut mempunyai acuan yang jelas.

Sedangkan aspek-aspek yang dapat dijadikan bahan untuk mempertimbangkan bahwa suatu masalah dapat dikonseptualisasikan adalah berkenaan dengan dapatnya masalah tersebut menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berkut. Pertama, adanya kejelasan batasan-batasan yang dimiliki oleh masalah itu. Kedua, bagaimana bobot dimensi operasional dari masalah itu. Ketiga, apabila masalah tersebut diuji dapat dihipotesiskan. Keempat, apabila masalah tersebut diteliti memiliki sumber data yang jelas. Kelima, dapatnya masalah tersebut diukur sehingga alat ukur yang dapat didesain dengan jelas. Keenam, adanya kejelasan peluang bagi peneliti untuk menggunakan alat analisis statistik dalam pengujian.

Sungguhpun kedua persyaratan obyektif tersebut telah terpenuhi dengan baik, suatu masalah masih belum cukup untuk dipilih menjadi masalah penelitian. Alasannya karena masih ada pertimbangan subyektif yang harus dipenuhi. Apabila pertimbangan subyektif ini telah terpenuhi dengan baik maka suatu masalah tersebut dapat dikatakan dapat dipilih secara subyektif sebagai masalah penelitian. Pertimbangan subyektif ini berkisar pada kredibilitas peneliti terhadap apa yang akan diteliti. Kredibilitas peneliti ini, menurut M. Burhan Bungin dapat dilihat dari segi-segi[1] : (1) kesesuaian masalah tersebut dengan minat peneliti; (2) kesesuaian masalah tersebut dengan keahlian dan disiplin ilmu peneliti; (3) kemampuan peneliti menguasai kerangka teoritis terhadap masalah yang akan diteliti; (4) banyak tidaknya hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti; (5) kecukupan waktu untuk melakukan penelitian atas masalah tersebut; (6) tersedianya biaya penelitian yang akan dilakukan atas masalah tersebut; (7) resistensi masalah tersebut terhadap alasan politik dan situasi masayarakat (pemerintah) apabila penelitian tersebut dilakukan.

Dengan demikian, suatu masalah penelitian yang telah dapat menjawab persoalan obyektif-subyektif tersebut dapat dipilih atau diterima oleh peneliti sebagai masalah yang akan diteliti. Apabila jawaban atas pertanyaan obyektif-subyektif mengarah positip maka berarti masalah tersebut sudah dapat diterima. Sebaliknya, apabila arah yang ditunjukkan oleh jawaban masalah tersebut adalah negatip maka masalah tersebut harus dipertimbangkan untuk tidak dipilih sebagai masalah yang hendak diteliti.

Meskipun tidak ada aturan umum mengenai cara merumuskan permasalahan, akan tetapi terdapat saran-saran yang perlu diperhatikan. Yaitu :

a. Permasalahan hendaknya dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya;

b. Perumusan itu hendaknya padat dan jelas;

c. Perumusan itu hendaknya memberi petunjuk tentang kemungkinan pengumpulan data guna menjawab pertanyaan yang terkandung dalam permusan itu.

Dari perumusan masalah yang dikemukakan haruslah dapat diketahui manfaat (signifikansi) dari penelitian itu yang diaharapkan dapat menemukan pemecahan atau jawabannya. Manfaat itu perlu ditonjolkan. Setelah permasalahan diirumuskan, selanjutnya dicarilah konsepsi-konsepsi, teori-teosi, pandangan-panangan atau penemuan-penemuan yang relevan dengan pokok permasalahan. Semua itu dicari dari dua sumber referensi pokok yaitu :

a. Sember referensi umum (buku-buku teks, ensiklopedia, monograf, review dan lain-lain);

b. Sumber referesnsi khusus (buletin penelitian, jurnal penelitian, majalah penelitian periodik, tesis, disertasi, laporan penelitian dan lain-lain).

Dari teori-teori atau konsepsi itu dilakukan penjabaran atau analisis lewat penalaran deduktif. Sedangkan dari penemuan atau hasil penelitian dilakukan sintesis atau perpaduan lewat penalaran induktif. Dari deduksi dan induksi yang berulang-ulang diharapkan dapat diperoleh jawaban yang paling mungkin atau tinggi tingkat kebenarannya yang diperlukan sebagai hipotesis penelitian.


[1] Ibid., 55-56.

Diterbitkan di: 22 Agustus, 2012   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.