Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Sosiologi>Pendapat Ulama’ tentang Puasa Ramadan bagi Wanita Hamil dan Menyusui

Pendapat Ulama’ tentang Puasa Ramadan bagi Wanita Hamil dan Menyusui

oleh: irzu     Pengarang : nur ilhabib
ª
 
a. Beberapa pendapat fuqaha’ tentang puasa Ramad}an bagi wanita
hamil dan menysusui
Pendapat Para Fuqaha’
Persoalan tentang keberadaan wanita hamil atau menyusui dalam
melaksanakan ibadah puasa Ramad}an telah ditanggapi oleh para
ulama’ dahulu dengan serius. Hal itu dapat dilihat bagaimana
perbedaan-perbedaan di antara mereka ketika melihat persoalan
tersebut dari dalil yang mereka gunakan.
Bagi ulama’ empat madhab (Ma>likiyah, Sha>fi’iyah,
Hana>fiyah, Hana>bilah) dalam memandang wanita yang menyusui
atau hamil yang khawatir akan dirinya atau pada anaknya, menurut
mereka, jika mereka melaksanakan puasa, maka puasa tersebut sah,
namun mereka juga diperbolehkan untuk berbuka. Tetapi jika wanita
yang menyusui atau yang hamil khawatir akan kesehatan dirinya dan
bayinya, para ulama’ tersebut sepakat bahwa dia harus mengqad}a’
(menggantinya). Namun dalam persoalan fidyah (kafarah) mereka
berbeda pendapat.
1). Pendapat madhab Ma>likiyah
Menurut mereka, wanita hamil atau menyusui yang khawatir
akan kesehatan dirinya dan bayinya, maka ia boleh untuk berbuka.
Kemudian mengqad}a’ di waktu yang lain. Namun bagi wanita
yang menyusui anaknya, kemudian ia berbuka, maka ia wajib
mengqad}a’ puasanya dan membayar fidyah.
Dalil yang mereka jadikan landasan adalah bahwa kehamilan
adalah penyakit dalam arti yang sesungguhnya. Oleh karena itu,
wanita hamil boleh berbuka dan mengqad}a’ puasanya saja.
Karena ada kandungan yang menempel dengan wanita hamil.
Kekhawatiran terhadap kandungannya sama dengan kekhawatiran
terhadap salah satu anggota tubuhnya. Sementara menyusui
disamakan dengan hukum penyakit, dan bukan penyakit dalam arti
yang sesungguhnya. Dan wanita menyusui bisa menyusukan
anaknya kepada wanita lain, berbeda dengan wanita hamil.
2). Pendapat madhab Hana>fiyah
Apabila wanita yang hamil atau menyusui anaknya khawatir
akan bahaya yang akan menimpanya, maka ia boleh untuk tidak
berpuasa. Meskipun kedua wanita tersebut yang menjadi
kekhawatirannya adalah dirinya saja, atau anaknya, bagi keduanya
adalah hanya mengqad}a’ puasa tersebut, tidak membayar fidyah.
Pendapat tersebut dipelopori oleh Imam Abu Hanifah dan
kemudian diikuti oleh para pengikutnya, di antaranya adalah
Hasan al-Bas}ri, Ibrahim an-Nakha’i, al-Auza’i, Atha’, az-Zuhri,
Said ibn Jabir, Dhahhak, Rabi’ah, ath-Thauri, Abu Ubaid, Abu
Thaur, As}hab ar-Rayi (para pengikut aliran rasionalis dalam
Madhab Hanafi), dan Ibnu Mundzir, dan juga Laith.
Al-Auza’i berkata mengandung dan menyusui dalam
pandangannya adalah penyakit. Mereka wajib mengqad}a’ puasa
dan tidak wajib memberi makan orang miskin .
Adapun dalil yang mereka gunakan sebagai landasan pendapat
tersebut adalah hadith yang diriwayatkan dari Anas bin Malik al-
Ka’bi bahwa Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya Allah mengangkat puasa dan separuh salat dari
musafir, dan mengangkat puasa dari wanita hamil dan menyusui”.
Tentang hadith ini at-Tirmidhi berkata, ini adalah hadith hasan.
Dan pengamalan hadith ini, menurut ahli ilmu, jika wanita hamil
dan menyusui mengkhawatirkan anak mereka, maka mereka harus
berbuka dan mengqad}a’ puasa.
Z{ahir hadith ini menetapkan agar mereka berdua berbuka dan
mengqad}a’ puasa. Khususnya karena puasa diangkat dari mereka
berdua sebagaimana diangkat dari musafir, untuk digantikan pada
hari yang lain. Sementara z}ahir al-Qur’an menetapkan agar orang
yang berat menjalankan puasa memberi makan orang miskin dan
tidak berpuasa.
Artinya, dalam hadith tersebut dijelaskan bahwa wanita yang
hamil atau menyusui boleh mengqad}a’ puasanya di hari yang
lain. Jika ia seorang yang kaya dan hidup dalam kemudahan, maka
hendaklah disertai dengan sedekah pada setiap hari yang
ditinggalkannya itu satu mud gandum. Sehingga dengan demikian
itu lebih sempurna dan lebih besar pahalanya. Hal ini sesuai
dengan firman Allah surat al-Baqarah ayat 184:
وعلى الذين يطيقونه فدية طعام مسكين
“Dan orang-orang yang berat menjalankan wajib membayar
fidyah, yaitu memberi makan orang miskin”.
Akan tetapi, jika tidak juga mampu memberikan makan kepada
fakir miskin, maka kewajiban memberikan makan itu pun gugur
dengan sendirinya. Sehingga cukup baginya dengan mengqad}a’
puasa yang ditinggalkannya, tanpa harus membayar fidyah.
Hadith di atas tidak membicarakan tentang fidyah dan
mengqad}a’. Akan tetapi, tatkala Rasulullah menyebutkan puasa
dan pengangkatannya dari musafir serta wanita hamil dan
menyusui, maka berarti beliau menyamakan antara keduanya.
Diketahui bahwa musafir mengqad}a’ puasa. Maka wajib atas
wanita hamil dan menyusui untuk mengqad}a’nya.
Wanita hamil dan menyusui berbuka dengan suatu udhur.
Udhur tersebut tidak terdapat pada diri orang yang berpuasa, tapi
demi orang lain, yaitu anak. Sedangkan dia tidak diperhitungkan.
Dalil udhur tersebut adalah firman Allah surat al-Baqarah ayat
184:

“Barang siapa di antara kalian sakit atau dalam perjalanan (lalu ia
berbuka), maka (dia wajib berpuasa) sebanyak hari yang
ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain”.
Wanita hamil dan menyusui diqiyaskan kepada orang sakit.
Yang dimaksud di sini bukanlah penyakit itu sendiri. Sebab, orang
sakit yang berpuasa tidak membahayakannya tidak boleh berbuka.
Dengan demikian, penyebutan penyakit di sini adalah kiasan
dari sesuatu yang bersamanya puasa bisa membahayakan.
3). Pendapat madhhab Sha>fi’iyah
Menurut imam Shafi’i80 dan para pengikutnya (Sha>fi’iyah)
bagi wanita hamil atau menyusui yang hanya mengkhawatirkan
kesehatan dirinya sendiri, maka ia wajib mengqad}a’ puasa
tersebut, seperti halnya orang yang tidak berpuasa karena sakit.
Jika keduanya takut akan kesehatan anaknya, maka wajib untuk
mengqad}a’ puasa dan membayar fidyah
Diterbitkan di: 21 Desember, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.