Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Makna Kalo Sara

oleh: tikkoro    
ª
 


DR. A. Rauf Tarimana berpendapat “Kalo Sara” sebagai bahasa simbolik yang menyimpulkan segala aspek hakikat dari kehidupan sosial masyarakat Tolaki. Oleh karena itu Kalo Sara disimbolkan sebagai fokus Kebudayaan Tolaki. Dikatakan Kalo sebagai fokus kebudayaan Tolaki, karena di dalam Kalo Sara tersirat atau tercermin tiga makna yang terkait dengan hidup dan kehidupan orang Tolaki sebagai berikut ; Pertama, lambang Persatuan dan kesatuan tercermin di dalam makna simbol dari “lingkaran rotan”. Kedua, Keikhlasan dan Kesuciannya tercermin di dalam makna dari kain putih. Ketiga, anyaman sebagai wadah Kalo, tercermin makna kemakmuran dan kesejahteraan dalam masyarakat Tolaki.
Begitu pula tiga makna “Fisik” Kalo sebagai benda yang terdiri dari tiga lilitan rotan kecil menjadi satu kesatuan tak terpisahkan, diaktualisasikan dalam sistem pemerintahan Negara. Pertama, kelompok pejabat/penguasa. Kedua, masyarakat menengah, dan Ketiga, masyarakat kecil atau rakyat. Ini semua sebagai wujud perlakuan. “Oleh yang memerintah dan yang diperintah”. Itulah makna Kalo sebagai benda menjadi Kalo Sara. Artinya Kalo Sara itu akan hilang makna kesucian, dan “kekeramatannya”, manakala dalam penggunaan tidak disertai oleh 3 kelengkapan adat sebagaimana disebut di atas.
Oleh Penulis Drs Basaula Tamburaka menjelaskan, hakikat Kalo Sara ini ada empat fungsi Kalo Sara, identik ungkapan Sara Owoseno Tolaki atau Sara Mbu’uno Tolaki. Artinya adat pokok yang merupakan sumber dari segala sumber hukum “Osara” atau Adat-Istiadat Tolaki yang dijunjung tinggi berlaku dalam semua aspek kehidupan. Kata lain, makna sebutan Kalo Sara adalah merupakan simbol yang “disakralkan” oleh masyarakat Tolaki. Fungsinya selalu digunakan pada ; 1. Sebagai alat upacara perkawinan adat, 2. Upacara pelantikan Raja, 3. Upacara penjemputan adat para pejabat Pemerintah, 4. Upacara perdamaian atas sesuatu sengketa, 5. Sebagai alat bagi sejumlah tokoh adat untuk menyampaikan sesuatu hal yang penting kepada Raja dan, 6. Alat untuk menyampaikan undangan pesta keluarga, serta MEKOHEA atau pekabaran ketika seseorang mangkat alias “bergelar” O’Tawe.
Sebagai penutup, dikatakan di atas bahwa siapa yag berhak menggelar Kalo Sara ? Yang berkompoten disini adalah perangkat kelembagaan Adat Tolaki terdiri empat jabatan Adat : Pertama, bergelar “Tonomotu’o” membawahi dua perangkat kerasnya yaitu “Tolea” dan “Pabitara”; Keempat disebut “Pu’utobu” yang dituakan di kampung.
Nah inilah dari mereka yang berhak menggelar Adat atau O’sara atau Mombesara wonua. Catatan gelar Tonomotu’o dan Pu’utobu posisinya bukan bergelar Mokole atau Anakia
Adapun siapa “actor” sekaligus “sutradara” Adat, alias pelaku Mombesara jika digelar acara upacara mowindahako. Yang mewakili keluarga calon mempelai laki-laki sekaligus sebagai juru bicara dari pihak laki-laki adalah “Tolea” statusnya sebagai juru bicara dari pihak laki-laki. Sedangkan yang mewakili calon mempelai perempuan adalah “Pabitara” sama statusnya sebagai juru bicara dari pihak perempuan. Catatan disaat-saat tertentu PABITARA sebagai hakim adat sesuai fungsinya.
Kedua perangkat Adat inilah yang berperan selama berlangsungnya acara mombesara alias berfungsi mengatur jalannya acara upacara mowindahako. Sekaligus perangkat Adat inilah yang mengatur tata cara pelaksanaan Adat Mowindahako, disebut Petengga-tengga Ano O’sara. Pengertian Mowindahako sebagaimana tulisan penulis di Kendari Pos (14/6/11) yaitu secara harfiah Mowindahako dari bahasa Daerah Tolaki, adalah penyerahan pokok Adat dan seserahan lainnya dalam acara perkawinan atau perapua orang Tolaki di daratan Konawe dan di wilayah Mekongga sana.
Kemudian siapa saja yang berhak menerima suguhan “kebesaran” “Mombesara” Kalo Sara ? Seperti disebutkan di atas adalah Penguasa alias Pemerintah, mulai dari jabatan Gubernur sampai Kades/Lurah. Namun, pada hakikatnya berfungsi meminta “restu” atas “Mombesara’ako” Wonua. Usai Adat memohon restu kepada Pemerintah/Penguasa, dilanjutkan “Mombesara’ako” oleh Tokoh masyarakat atau Tokoh Adat yang dituakan di kampung, disebut Puutobu sebagai Sara Mombependehi lako ine Pu’utobu Wonua.
Inilah yang berhak menggelar upacara Adat “Mombesara’ako” Wonua. Tanpa yang disebutkan di atas, tidak bisa digelar Adat Tolaki. Sekedar diketahui bahwa, semua prosesi Adat “Mombesara Wonua” di atas, termasuk jawaban (restu) dari pihak Pemerintah setempat, disebut “Mongoni paramesi nepamarenda” atau Sara Mbeparamesi ine Pamarendah, seluruhnya adalah, menggunakan Bahasa Daerah Tolaki. “Taa’be Inggomiu Anakia Nggo Meparamesi”.
Diterbitkan di: 23 September, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.