Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Sosiologi>Definisi Pedagang Kaki Lima

Definisi Pedagang Kaki Lima

oleh: lanangesejhatie     Pengarang : m.hasyim
ª
 
Pedagang Kaki Lima (Sektor Informal) adalah mereka yang melakukankegiatan usaha dagang perorangan atau kelompok yang dalam menjalankanusahanya menggunakan tempat-tempat fasilitas umum, seperti terotoar, pingirpingirjalan umum, dan lain sebagainya.Pedagang yang menjalankan kegiatanusahanya dalam jangka tertentu dengan menggunakan sarana atau perlangkapanyang mudah dipindahkan, dibongkar pasang dan mempergunakan lahan fasilitasumum sebagai tempat usaha seperti kegiatan pedagang- pedagang kaki lima yangada di Gembong kapasari kelurahan kapasari kecamatan genteng Surabaya.Lokasi pedagang kaki lima sangat berpengaruh terhadap perkembangandan kelangsungan usaha para pedagang kaki lima, yang pada gilirannya akanmempengaruhi pula volume penjualan dan tingkat keuntungan. Secara garis besarkesulitan yang dihadapi oleh para pedagang kaki lima berkisar antara peraturanpemerintah mengenai penataan pedagang kaki lima belum bersifatmembangun/konstruktif, kekurangan modal, kekurangan fasilitas pemasaran, danbelum adanya bantuan kredit.Pedagang kaki lima (street trading/street hawker) adalah salah satu usahadalam perdagangan dan salah satu wujud sektor informal. Pedagang kaki limaadalah orang yang dengan modal yang relatif sedikit berusaha di bidang produksidan penjualan barang-barang (jasa-jasa) untuk memenuhi kebutuhan kelompoktertentu di dalam masyarakat, usaha tersebut dilaksanakan pada tempat-tempatyang dianggap strategis dalam suasana lingkungan yang informal. Adapun pengertian pedagang kaki lima dapat dijelaskan melalui ciri- ciriumum yang dikemukakan oleh kartono dkk. (1980: 3-7), yaitu: (1) merupakanpedagang yang kadang- kadang juga sekaligus berarti produsen; (2) ada yangmenetap pada lokasi tertentu, ada yang bergerak dari tempat satu ketempat yanglain (menggunakan pikulan, kereta dorong, tempat atau stan yang tidak permanentserta bongkar pasang); (3) menjajakan bahan makanan, minuman, barang- barangkonsumsi lainnya yang tahan lama secara eceran; (4) umumnya bermodal kecil,kadang hanya merupakan alat bagi pemilik modal dengan mendapatakan sekedarkomisi sebagai imbalan atas jerih payahnya; (5) kualitas barang- barang yangdiperdagangkan relativ rendah dan biasanya tidak bersetandart; (6) volumeperedaran uang tidak seberapa besar, para pembeli merupakan pembeli yangberdaya beli rendah; (7) usaha skala kecil bias berupa family enterprise, dimanaibu dan anak- anak turut membantu dalam usaha tersebu, baik langsung maupuntidak langsung; (8) tawar menawar antar penjual dan pembeli merupakan relasiciri yang khas pada usaha pedagang kaki lima; (9) dalam melaksanakanpekerjaannya ada yang secara penuh, sebagian lagi melaksanakan setelah kerjaatau pada waktu senggang, dan ada pula yang melaksanakan musiman.Keberadaan sektor informal (PKL) juga tidak dapat dilepaskan dari prosespembangunan. Ada dua pemikiran yang berkembang dalam memahami kaitanantara pembangunan dan sector informal. Pertama, pemikiran yang menekankanbahwa kehadiran sektor informal sebagai gejala transisi dalam prosespembangunan di Negara sedang berkembang. Sektor informal adalah tahapan yang harus dilalui dalam menuju pada tahapan modern. Pandangan iniberpendapat bahwa sektor informal berangsur- angsur akan berkembang menjadisektor formal seiring dengan meningkatnya pembangunan. Berarti keberadaansektor informal merupakan gejala sementara dan akan terkoreksi olehkeberhasilan pembangunan. Namun berapa lama transisi itu harus dilalui, tidakdijelaskan.Kedua, pemikiran yang berpendapat bahwa kehadiran sektor informalmerupakan gejala ketidak keseimbangan pembangunan. Kehadiran sektorinformal dipandang sebagai akibat kebijakan pembangunan yang dalam hal lebihberat dari pada sektor modern (perkotaan) atau industri dari pada sektortradisional (pertanian). Sektor informal akan terus hadir dalam prosespembangunan selama sektor tradisional tidak mengalami perkembangan.Lebih jauh Effendi (1997:1) menjelaskan bahwa “keberadaan darikelangsungan kegiatan sektor informal dalam system ekonomi kontemporerbukanlah suatu gejala negatif tetapi lebih sebagai realitas ekonomi kerakyatanyang berperan penting dalam pembangunan masyarakat dan pembangunannasional. Setidaknya ketika program pembangunan kurang menyediakan peluangkerja bagi angkatan kerja, sektor informal dengan segala kekurangannuya mampuberperan sebagai penampung dan alternatif peluang kerja bagi pencari kerja dankaum marginal. Begitu pun ketika kebijakan pembangunan cenderungmenguntungkan usaha skala besar, sektor informal kendati tanpa dukunganfasilitas sepenuhnya dari Negara dapat memberikan subsidi sebagai penyedia barang dan jasa murah untuk mendukung kelangsungan hidup para pekerja usahaskala besar.”Sektor informal perkotaan bagi perkembangan perkotaan seperti Jakarta,Surabaya dan kota- kota besar lainnya tidak pernah bisa diabaikan begitu saja.Warga marjinal yang jumlahnya jutaan ini mempunyai andil besar bagi hidup dantumbuhnya Jakarta dan kota- kota besar lain hanyalah sebuah kota cadas tanpakeramaian. Jasa dan tenaga mereka seakan tiada pernah habis diserap rodapembangunan yang berkeinginan agar kota tetap gemerlapan, namun sayangseribu malang mimpi perubahan nasib lebih sering mendapat aib.
Diterbitkan di: 26 Agustus, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    Ketikan Pertanyaan anda apa yamg dimaksud dengan pedagang tradisional Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    minta referensinya dong utuk kartono (pengertian pedagang kaki lima)thx Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.