Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Sosiologi>Teori Anomi (Emile Durkheim dan Robert K. Merton)

Teori Anomi (Emile Durkheim dan Robert K. Merton)

oleh: rajauntung     Pengarang : sitinuraini
ª
 

Durkheim dalam bukunya yang berjudul the Duvisuon of Labor In Society
(1893), menggunakan istilah anomie untuk menggambarkan keadaan
deregulation di dalam masyarakat. Keadaan deregulasi oleh Durkheim
diartikan sebagai tidak ditaatinya aturan-aturan yang terdapat dalam
masyarakat dan orang tidak tahu apa yang diharapkan dari orang lain.
Keadaan deregulation atau normlessness inilah yang menimbulkan perilaku
deviasi.
Pada tahun 1938 Merton mengambil konsep anomi untuk menjelaskan
perbuatan deviasi di amerika. Tetapi konsep dari Merton berbeda dengan apa yang
dipergunakan oleh Durkheim.
Menurut Merton, dalam setiap masyarakat terdapat tujuan-tujuan tertentu yang
ditanamkan kepada seluruh warganya. Untuk mencapai tujuan tersebut terdapat
sarana-sarana yang dapat dipergunakan. Tetapi dalam kenyataan tidak setiap orang
dapat menggunakan sarana-sarana yang tersedia. Hal ini menyebabkan penggunaan cara yang tidak sah dalam mencapai tujuan. Dengan demikian akan timbul
penyimpangan-penyimpangan dalam mencapai tujuan.
Dalam perkembangan selanjutnya, Merton tidak lagi menekankan pada tidak
meratanya sarana-sarana yang tersedia, tetapi lebih menekankan pada perbedaanperbedaan
struktur kesempatan.
Dalam setiap masyarakat selalu terdapat struktur sosial. Struktur sosial, yang
berbentuk kelas-kelas, menyebabkan adanya perbedaan-perbedaan kesempatan dalam
mencapai tujuan.
Keadaan-keadaan tersebut (tidak meratanya sarana-sarana serta perbedaan
perbadaan struktur kesempatan) akan menimbulkan frustasi di kalangan para warga
yang tidak mempunyai kesempatan dalam mencapai tujuan. Dengan demikian
ketidakpuasan, konflik, frustasi dan penyimpangan muncul karena tidak adanya
kesempatan bagi mereka dalam mencapai tujuan. Situasi ini akan menimbulkan
keadaan di mana para warga tidak lagi mempunyai ikatan yang kuat terhadap tujuan
serta sarana-sarana atau kesempatan-kesempatan yang terdapat dalam masyarakat.
Hal inilah yang dinamakan anomi. Merton mengemukakan lima cara untuk mengatasi
anomi, yaitu:
a. Konformitas (Konforming) , yaitu suatu keadaan dimana warga
masyarakat tetap menerima tujuan-tujuan dan sarana-sarana yang terdapat
dalam masyarakat karena adanya tekanan moral;
b. Inovasi (Innovation ) , yaitu suatu keadaan di mana tujuan yang terdapat
dalam masyarakat diakui dan dipelihara tetapi mereka mengubah sarana21
sarana yang dipergunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Misalnya
untuk mendapatkan / memiliki uang yang banyak seharusnya mereka
menabung. Tetapi untuk mendapatkan banyak uang secara cepat mereka
merampok bank;
c. Ritualisme (Ritualism) , adalah suatu keadaan di mana warga masyarakat
menolak tujuan yang telah ditetapkan dan memilih sarana-sarana yang
telah ditentukan;
d. Penarikan Diri (Retreatisme) merupakan keadaan di mana para warga
menolak tujuan dan sarana-sarana yang telah tersedia dalam masyarakat;
e. Pemberontakan (Rebellion) adalah suatu keadaan di mana tujuan dan
sarana-sarana yang terdapat dalam masyarakat ditolak dan berusaha untuk
mengganti/ mengubah seluruhnya.
Diterbitkan di: 09 Juni, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    berikan masing-masing satu contoh ritualisme dan retreatisme Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    Apakah yang dimaksud dengan anomi menurut Robrt K. Merton Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apakah yang di maksud dengan anomi Lihat semua
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    pandangan tentang teori anomi ( 1 Jawaban ) Lihat semua
  1. Jawaban  :    teori anomi menurut E Durkheim adalah suatu keadaan atau situasi di dalam lingkungan masyarakat yang kacau, tidak adanya taat peraturan, timbulnya penyimpangan serta kriminalitas yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. Dengan kata lain, situasi dalam masyrakat tersebut tidak sesuai dengan norma yang berlaku. Semuanya serba melanggar. Dalam dunia kepolisian, sering sekali menemukan bagian dari teori ini yakni inovasi, dimana sarana dan tujuan daripada si pelaku bertolak belakang. 10 Nopember 2013
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.