Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Sosiologi>Konsep Ibnu Khaldun Tentang Keadaan Sosial

Konsep Ibnu Khaldun Tentang Keadaan Sosial

oleh: AbdurRozaq     Pengarang : BAYU ROHMANTO
ª
 

Keadilan sosial adalah keadilan yang didasarkan pada norma-norma dan nilainilai
agama, terlepas dari nilai yang mengejawantahkan dalam hukum dan politik
dipersiapkan untuk menerima melalui adat kebiasaan, sikap positifnya atau lainnya.
Bagi para teolog dan filosof muslim, keadilan adalah suatu konsep yang
abstrak dan idealis, diungkapkan dalam istilah-istilah yang unggul dan sempurna.
Mereka tidak berusaha serius melihat keadilan sebagai suatu konsep yang positif serta
menganalisannya dari sudut kondisi-kondisi sosial yang ada. Mereka memang
adakalanya mengacu pada ide-ide skeptik dan atheis (zindiq) yang nampaknya telah
mempersoalkan validitas nilai-nilai yang berasal dari wahyu serta meneguhkan suatu
standar naturalistik bagi urusan-urusan manusia, akan tetapi statemen mereka yang
tidak signifikan belum sampai pada sorotan kecuali referensi-referensi yang
adakalanya samar-samar dalam karya-karya musuh mereka, lebih menarik untuk
menyangkal doktrin-doktrin atheistik daripada dalam statemen lengkap tentang
pandangan-pandangan yang atheistik37.
Yusuf Qardhawi, menyatakan bahwa sesungguhnya kebebasan yang
disyariatkan Islam dalam bidang ekonomi bukanlah kebebasan mutlak yang terlepas
dari setiap ikatan, tetapi ia adalah kebebasan yang terkendali, terikaat dengan
“keadilan” yang diwajibkan oleh Allah. Hal ini karena dalam tabiat masyarakat ada semacam kontradiksi yang telah diciptakan Allah padanya, suatu hikmah yang
menjadi tuntutan pemakmuran bumi dan kelangsungan hidup38
Keadilah dalam Islam adalah fondasi dan pilar penyangga kebebasan
ekonomi yang berdiri di atas pemuliaan fitrah dan harkat manusia. Ketika Allah
memerintahkan tiga hal, maka keadilan merupakan hal pertama yang disebutkan Pandangan Ibnu Khaldun tentang keadilan tampaknya berasal dari kajian dan
pengalaman pribadinya dengan kekuatan-kekuatan terhadap masyarakat yang terlepas
dari tradisi-tradisi Islam. Dengan relatifitas pandangan masing-masing peneliti, ada
yang menilai dengan metode induktifnya karena menggunakan konsep sekuler,
misalnya ashabiyah (suatu bentuk solidaritas sosial berdasarkan hubungan sanak
keluarga), dan menganggapnya kembali suatu pandangan bahwa ia dibesarkan dalam
suatu tradisi hukum Islam dan filsafat serta memformulasikan teori-teori tentang
masyarakat pada dasarnya di dalam konteks tradisi Islam.
Pada edisi terakhir Muqaddimah, terkandung sejumlah statement mengenai
beragam cabang ilmu pengetahuan Islam yang telah ditambahkan setelah ia tinggal
dan menetap di Mesir. Memang tidak mudah untuk mengetahui tingkat kesetiaan
Ibnu Khaldun pada tradisi-tradisi; karena alasan ini pula maka al-Muqaddimah mesti
dibaca secara keseluruhan untuk memahami konsep-konsep sosialnya. Karena dalam
kajian yang berurusan dengan konsep keadilan, sebuah jawaban tentang apakah
konsep tentang keadilannya benar-benar sekuler atau religius, dapat diberikan hanya
mungkin dari perspektif khusus ini.
Dalam Al-Muqaddimah-nya, keadilan didiskusikan sebagai suatu konsep
sosial dalam konteks suatu teori tentang masyarakat yang prosesnya ditentukan oleh
faktor-faktor sosial yang melampaui kontrol seorang manusia. Dengan kata lain,
suatu konsep tentang keadilah boleh jadi dianggap suatu apoligia karena
ketidakmampuannya mengontrol kekuatan-kekuatan sosial dan memperbaiki
kedzaliman-kedzaliman yang berasal dari mereka. Sebagai seorang hakim yang harus
melaksanakan keadilan yang obyektif, ia mengambil pesan seorang partisipan dalam suatu proses sosial yang ia coba untuk mempengaruhinya sesuai dengan skala
keadilan yang digenggamnya. Dalam kapasitas itu, ia tidak harus berlama-lama
tunduk pada suatu pandangan yang determenistik tentang suatu proses sosial.43
Dari uraian di atas, salah satu aspek penting dalam hukum, yakni aspek
kekuatan sosial tampak mejadi perhatian utama Ibnu Khaldun. Berangkat dari konsep
umran, Ibnu Khaldun sangat menekankan sebuah arti keadilan. Keadila dalam
menjalankan proses sosio-ekonomi, sehingga menjadi suatu pedoman hukum yang
pasti.
Sedangkan teori mengenai perkembangan ekonomi masyarakat terhadap
keadilan dalam al-Muqaddimah, yang merupakan perhatian utama Ibnu Khaldun
adalah suatu analisa tentang masyarakat besar, dimana strukturnya dan kekuatankekuaatan
sosialnya mempengaruhi kehidupan dan nasib manusia. Dalam struktur,
unit dasarnya adalah negara (dalam pengertian sempit) sebagaimana dipergunakan
Ibnu Khaldun secara khusus untuk menunjuk suatu pemerintahan atau rezim politik.
Suatu masyarakat besar (negara Islam) terdiri atas suatu ragam negara-negara,
sebagian beada di puncak kekuasaan, yang lain berada dalam dekadensi, dan yang
lain masih dalam proses pembinaan. Negara sebagai suatu unit, bagaikan suatu
individu, memiliki rentangan hidup terbatas (rentangan masing-masing adalah tiga
generasi, atau secara kasar selama 120 tahun). Akan tetapi, Islam sebagai suatu
masyarakat besar akan selalu eksis.
Diterbitkan di: 11 Maret, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.