Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Sosiologi>Masa Cerah dan Masa Suram di Pedesaan Jawa

Masa Cerah dan Masa Suram di Pedesaan Jawa

oleh: arupadhatu     Pengarang: Jan Breman; Gunawan Wiradi
ª
 
Sejarah studi pedesaan di Indonesia mencatat, beberapa desa menjadi “beken” setelah ditandangi para peneliti dan diangkat dalam monografi mereka yang dipublikasikan luas. Sebutlah Desa Sriharjo di selatan Yogyakarta (oleh D.H. Penny dan Masri Singarimbun), Desa Kali Loro di Jawa Tengah (Benjamin White), dan Subang Utara di Jawa Barat (Yujiro Hayami dan Masao Kikuchi).

Bukan kebetulan apabila sebagian dari penelitian-penelitian tersebut bersifat investigasi ulangan atas penelitian yang telah dilakukan sebelumnya di tempat yang sama. Kebutuhan akan tinjauan bermakna mengenai proses proses transformasi yang sedang berjalan dan pemahaman atas hakikat kekuatan-kekuatan yang bermain serta dampaknya terhadap keseimbangan ekonomi, sosial, dan politik semua pihak yang masuk dalam unit analisis merupakan alasan kuat atas dipilihnya model penelitian ulang.

Breman dan Wiradi menggunakan pendekatan semacam ini ketika mereka melakukan studi di dua desa di kawasan pantai utara Jawa Barat (Subang Utara dan Cirebon Timur). Tujuan mereka adalah mengamati perubahan kondisi sosial ekonomi setempat sebelum dan sesudah krisis moneter. Buku ini berisi hasil dari studi tersebut, yang diterbitkan pertama kali dalam bahasa Inggris oleh Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde (KITLV) di bawah judul Good Times and Bad Times in Rural Java (Masa Cerah dan Masa Suram di Pedesaan Jawa).

Memang, pemakaian istilah masa “cerah” dan masa “suram” akan menjadi sangat relatif apabila diterapkan pada lanskap pedesaan (atau pertanian) di Jawa, di mana petani tunakisma (tak memiliki tanah) dan buruh tani merupakan mayoritas dalam populasi. Kedua golongan ini sudah lama “mati rasa” dengan segala perubahan kondisi lingkungan, karena perubahan yang positif atau yang disebut sebagai masa cerah sekalipun tidak banyak berpengaruh kepada kehidupan mereka. Sebaliknya, penulis buku ini menengarai bahwa proses yang sedang berlaku adalah polarisasi dan pengusiran. Yang lebih mencolok daripada berkurangnya kemiskinan di kalangan yang miskin tanah dan tunakisma adalah kekayaan yang baru diperoleh kaum elit pedesaan, yang ditunjukkan melalui gaya hidup mencolok oleh sekelompok kecil rumah tangga orang terkemuka yang bersama-sama menguasai sebagian besar aset modal desa baik di pertanian maupun nonpertanian (hal. 16).

Apabila masa cerah saja tidak banyak membawa manfaat, lantas apa yang terjadi ketika masa suram tiba? Penulis buku ini melakukan dua kali investigasi untuk mengamati dampak langsung hantaman krisis moneter terhadap perekonomian desa. Investigasi putaran pertama memusatkan perhatian pada masalah bagaimana akibat hilangnya pekerjaan dan penghasilan di kota terhadap ekonomi desa. Investigasi kedua berfokus kepada beberapa beberapa skim yang dilaksanakan dengan label Jaring Pengaman Sosial (JPS) yang disponsori pemerintah. Secara garis besar hasil dari kunjungan tersebut membuktikan bahwa pandangan yang berlaku di kalangan politisi dan pembuat kebijakan selama ini bahwa ekonomi pedesaan tidak terlalu menderita akibat krisis adalah keliru dan sangat bias perkotaan (hal. 389).
Diterbitkan di: 20 Januari, 2011   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.