Cari
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Create a Shvoong account from scratch

Already a Member? Masuk!
×

Masuk

Sign in using your Facebook account

OR

Not a Member? Daftarkan diri!
×

Daftarkan diri

Use your Facebook account for quick registration

OR

Masuk

Sign in using your Facebook account

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Sosiologi>Jejaring Sosial Sebagai Kritik Sosial

Jejaring Sosial Sebagai Kritik Sosial

oleh: Hifhzil     Pengarang : Hifhzil Aqidi
ª
 
Ada dua variabel penting berkenaan dengan kehidupan global dalam lima tahun ini. Yaitu: Jejaring Sosial dan pola sosialisasi. Dengan kata lain dua variabel tersebut jika kita sandingkan dengan kehidupan bermasyarakat dewasa ini bernilai kepentingan dan keberlanjutan. Karena pada dasarnya pengembangan jaringan bersumber dari adanya kepentingan (social needed) maka pergaulan atau sosialisasi menjadi media penggerak utama mewujudkan keberlanjutan sebuah kepentingan.

Idealnya sebuah pergaulan akan memperluas jaringan dengan menumbuhkembangkan pemahaman terhadap wawasan ruang dan waktu.

Sebagai contoh dulu seorang kurir kerajaan untuk mengantarkan pesan kepada pejabat didaerah harus menempuh ratusan kilometer hingga pesan itu sampai tujuan. Otomatis dengan fasilitas yang ada bisa memakan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Jadi mau tidak mau si kurir harus bermalam di daerah yang dilaluinya. Berdasarkan pengalaman dari perjalanan itu dia sangat mengenal karakteristik orang dan tempat dari daerah-daerah yang biasa ia lalui. Bahkan dari sekian banyak ekspedisi dia berhasil menjalin relasi bersama orang-orang yang biasa ia temui selama perjalanan. Berkat bantuan mereka juga si kurir tahu daerah mana yang rawan kejahatan dan lokasi mana yang bisa menjadi jalan alternatif untuk mempersingkat perjalanan.

1. Wawasan Ruang


Pemahaman akan tempat beserta karakteristik objek didalamnya merupakan dampak dari wawasan ruang. Ingatan akan lokasi tertentu, relasi dan koneksi yang kita peroleh pada lokasi tertentu juga menjadi bagian dari hasil wawasan ruang.

2. Wawasan waktu


Pemahaman akan pentingnya efisiensi sumber daya dan efektifitas pemanfaatan jaringan dalam rentang waktu tertentu merupakan dampak dari wawasan waktu. Dengan kata lain seiring perkembangan teknologi hidup dan meningkatnya kecerdasan manusia terhadap nilai efisien telah memudahkan kita yang ada saat ini untuk bergerak lebih progressif agar mampu memangkas berbagai “pemborosan”.

Berdasarkan ilustrasi kisah seorang kurir diatas, maka tidak ada alasan bagi kita untuk mengalienasi diri dari kehidupan sosial karena semua permasalahan sudah terjawab oleh teknologi dan modernisasi infrastruktur. Namun masih saja ada sekat yang masih mungkin membatasi kehidupan sosial; Strata sosial-ekonomi dan kelompok sosial.

Strata Sosial-Ekonomi: Masih adanya klasifikasi/jenjang yang menimbulkan kesenjangan sosial-ekonomi. Contohnya: Faktor keturunan dan tingkat perekonomian, dari pola hidup masyarakat pinggiran hingga gaya hidup glamor metropolitan.

Kelompok Sosial: Adanya kelompok kepentingan (komunitas) baik itu terbentuk secara struktural atau tidak telah menciptakan tembok pemisah bagi orang-orang yang berada diluarnya. Hingga mau tidak mau seringkali membuat orang “minder”. Contoh terkecil adalah gank anak sekolahan dan organisasi primordial.

Lalu apa kaitannya dengan kondisi Social-Network saat ini?

Kita sudah mengenal sarana bersosialisasi (interaksi) tidak hanya lewat media massa tapi juga lewat dunia maya. Tengoklah Facebook dan Twitter. Jumlah penggunanya sudah mencapai ratusan juta. Seharusnya dengan kemudahan seperti ini cepat atau lambat harus mampu mengatasi kesenjangan dalam wawasan ruang dan waktu. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Kesenjangan malah semakin meruncing, konflik kian tajam dan muncul kepermukaan, penggalangan dukungan dalam mengeliminir seseorang atau kelompok tertentu dan bukan menjadikannya sebagai media yang lebih dialogis. Mungkin pengaruh budaya massiv tidak bisa dihilangkan tapi setidaknya kedewasaan harus ditonjolkan.

Ini hanya sebuah gambaran bagaimana realita yang kita bangun sudah menjadi otokritik bagi kehidupan sosial kita. Tidak heran ada kalanya seorang pemuda di sebuah komplek perumahan orang-orang elit yang menetap bertahun-tahun disana berhasil menggaet seorang dara cantik lewat Facebook. Padahal dia tidak menyadari jika pasangannya di dunia maya adalah gadis yang tinggal bersebelahan rumah dengannya. Kita tidak akan memungkiri jika ada sebagian dari kita yang sering mengalaminya karena faktor keengganan/malas untuk menambah wawasan ruang. Kan sudah ada handphone, sudah ada chatting, sudah ada 3G? Betul sekali untuk soal waktu pasti lebih efisien, tapi dimana letak kesalehan sosial kita? Bertegur sapa dengan orang seberang rumah, melempar senyuman kepada pedagang bakso yang sering mangkal diujung komplek. Tinggal pesan McDonald atau KFC via telpon! Kita tidak tahu mungkin 200 meter dari sini ada warung ayam bakar yang sedikit lebih murah dan pelayannya yang cantik-cantik…dan yang kita korbankan hanya sedikit kesabaran, tidak lebih.

Sadar atau tidak kita semua mengalami kondisi serupa dimana belum ada kemauan secara struktural dan sistematis dalam membenahi keadaan ini. Kalaupun ada hanya sebatas sanksi moral yang cuma efektif bagi masyarakat dengan tingkat interaksi yang kuat seperti masyarakat pedesaan dan kelompok sosial dalam komunitas tertentu. Ini tentu saja belum cukup, sebagai tindak lanjut dari pola komunitas ini akan memperkuat ikatan baik psikologis maupun kepentingan. Sedangkan di lain pihak hal demikian dapat menciptakan gap sosial dengan bentuk-bentuk kelompok sosial lain. Sebagi contoh: kelompok sosial yang dibangun diatas pondasi kekeluargaan-primordial.

Berdasarkan uraian diatas ini merupakan kritik sosial buat kita ditengah gencarnya jargon Open Source dan Social Network di dunia maya. Ternyata kita belum siap mengadopsi perubahan yang dimaksud; bagaimana menjalankan kepentingan dalam peran-peran sosial di kehidupan nyata jika kita masih malu-malu untuk mewujudkan integritas yang kuat dengan alasan gengsi dan trend.
Diterbitkan di: 12 Desember, 2010   
Mohon dinilai : 1 2 3 4 5
  1. Menjawab   Pertanyaan  :    apa maksud dari pernyataan bahwa keluarga merupakan lembaga sosial utama Lihat semua
Terjemahkan Kirim Link Cetak
X

.