Tidak ada sesuatu pun yang kita pikirkan, katakan, atau lakukan, bebas dari pengaruh kebudayaan kita..Tidak ada sesuatu pun
yang kita percaya bebas dari ras, kelas, usia, dan jenis kelamin kita. Iman tidak membuat kita bebas dari kebudayaan, karena kebudayaan adalah lingkungan yang di dalamnya apa yang kita percaya terbentuk.
Bagaimana kita dapat membedakan kebudayaan kita dari iman kita, sementara keduanya mempengaruhi nilai-nilai yang kita yakini?
Mengatasi
etnosentrisme:
1. Mengakui bahwa nilai-nilai kita tidaklah harus sama dengan nilai-nilai Allah.
2. Memahami bahwa tafsiran kita terhadap Kitab Suci berasal dari suatu konteks budaya tertentu.
3. Melihat bahwa nilai-nilai Allah di dalam budaya lain dapat dijelmakan berlainan dari penjelmaan di dalam kebudayaan kita.
Kebajikan punya dua ciri menonjol:
1. Kwalitas kebajikan atau watak tampak jelas melintasi kebudayaan-kebudayaan.
2. Kebajikan dan keburukan menjadi nyata atau terjelma dalam bentuk-bentuk budaya.
Buah Roh, kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri adalah kebajikan-kebajikan yang melampaui batas-batas kebudayaan. Realitas kebajikan diwujudkan dalam bentuk yang dapat dilihat dan dikenali, dan sering sekali kebajikan itu dapat jelas dilihat oleh orang asing daripada orang yang tinggal dekat kita.
Dalam suatu situasi lintas budaya kita sering sekali dipaksa melihat, untuk pertama kalinya, bahwa cara hidup kita di dunia ini bukanlah satu-satunya cara. Bahkan memaksa kita untuk pertama kali melihat cara kita.sendiri.
Perbedaan-perbedaan budaya dalam cara-cara berkomunikasi dapat menimbulkan salah paham menyeluruh mengenai makna atau maksud tindakan yang muncul dari kebajikan atau kejahatan. Motivasi-motivasi dibalik kata atau tindakan perlu dipahami agar mudah memahami.
Asumsi penulis, bahwa terdapat kebajikan di dalam dan dibelakang semua bentuk budaya yang di dalamnya suatu tindakan bajik diunkapkan. Kadang kala membantu kita apabila kebaikan atau kebajikan ini diberi auatu nama yang abstrak , seperti kasih atau keadilan atau kejujuran.
Bab dua Mempraktekkan Teologi di dalam Pengalaman Lintas Budaya, mengemukakan:
Beberapa pendekatan Kristiani terhadap etika
1. Alkitab sebagi sumber mutlak ajaran moral atau hukum
2. Roh Kudus adalah sumber utama untuk medapatkan bimbingan moral Kristiani
3. Kita tidak mengerti apa yang dipertaruhkan di dalam suatu situasi lintas budaya sampai kita memahami konteks sepenuhnya . Karena itu, apa yang baik atau yang buruk itu harus digumuli di dalam konteksnya.
Kebajikan itu dipelajari melalui praktek. Kebajikan adalash juga suatu karunia/pemberian yang harus diterima. Praktek tidak dapat dipisahkan dari rasa syukur atas karunia, komitmen, dan tiori. Gabungan antara karunia, komitmen, teori, dan pengalaman praktek disebut "praksis"
Bab tiga. Pengetahuan, Persahabatan dan Hikmat, mengemukakan:
Praksis, pengetahuan, dan persahabatan terlebur menjadi satu dalam apa yang Alkitab sebut hikmat.Hikmat adalah satu sifat yang sukar dipahani yan terletak pada inti kebajikan.
Bab empat. Alkitab dan kebudayaan di dalam Etika, mengemukakan:
Belajar kebajikan dari Alkitab. Bagaimana kebudayaan mempengaruhi baik apa yang tertulis di dalam Alkitab maupun bagaimana kita memahaminya. Alkitab menyampaikan makna hidup manusia di dalam suatu tempat pada waktu tertentu dalam hubungan dengan Allah. Makna ini relevan dengan kehidupan modern yang diungkapkan dalam banyak cara yang berdeda.
Bab lima. Perbedaan-Perbedaan Wawasan-Wawasan Nilai Budaya, mengemukakan:
Mengenai kajian-kajian lintas budaya dalam hubungan dengan etika.
Bab enam. Komunikasi-Komunikasi Asing, mengemukakan:
Pada waktu kita memasuki suatu kebudayaan lain, entah menyeberangi kota atau menyeberangi lautan, kita masuk sebagai seorang asing. Kalaupun ras kita sama. Dari sudut kebudayaan, kita adalah orang asing.
Bab tujuh. Teori Etika dan Penyuapan, mengemukakan:
Wilayah yang memusingkan antara absolutisme dan relativisme sehubungan dengan pengalaman penyuapan . Sumber-sumber untuk mengerti masalah ini meliputi Alkitab, teori etika , analisis sosial struktural, dan pengalaman.
Bab delapan. Tantangan Etis dari Agama-Agama Lain, mengemukakan:
Bagaimana orang Kristen harus memberi tanggapan praktis pada tantangan-tantangan moral yang positif dan yang negatif yang dihadapkan agama lain . Dengan memandang iman Kristen bukan sekedar pandangan -dunia alternatif , tetapi juga sebagai suatu proyek sosial yang bersaing, untuk melampaui tipologi teologis "pluralis", "inklusif", dan "eksklusif".
Bab sembilan. Perempuan dan Laki-Laki Sebagai Orang-orang Asing:, mengemukakan:
Masalah-masalah etis yang dihadapi perempuan dan kaum laki-laki yang masuk ke dalam suatu kebudayaan dengan pandangan-andangannya yang asing mengenai perilaku seksual.
Bab sepuluh. Satunya Etika Pribadi dan etika Sosial, mengemukakan:
Bagaimana kehidupan pribadi seorang Kristen di dalam suatu kebudayaan asing dapat menimbulkan akibat-akibat sosial yang tidak terhindarkan. Keputusan-keputusan pribadi yang diambil orang-orang mengenai bagaimana mereka akan hidup dan apa yang mereka akan lakukan terhadap kejahatan dan penderitaan yang mereka lihat berlangsung di sekitar mereka, berdampak besar pada perihal bagaimana mereka (dan imannya) dilihat dan dipahami oleh masyarat setempat.
Gimut, Jakarta 12102009