Setiap orang adalah pemimpin. karena beberapa hal, ada kawan yang kurang beruntung tidak
sempat belajar untuk dapat memimpin minimal diri dan keluarganya. Contoh beberapa narapidana yang kemudian dberi kesempatan guna belajar mengembangkan potensinya di penjara. Konsep pembinaan dibuat sedemikian rupa sehingga setiap person mendapat kesempatan belajar kemampuan dasarnya yaitu calistung dan mengaji, selanjutnya melalui program2 rohani agar menambah wawasan. Mereka diuji kemampuan membaca dan mengaji serta diberi kesempatan untuk memimpin shalat dan ceramah kultum kepada sesamanya. Namun pembelajaran yang paling efektif adalah "ngaji dengar" yaitu bertanya pada orang yang memiliki ilmunya yang bisa kapan saja sehingga dapat diintegrasikan dalam kehidupannya kemudian.
Sebagai pemimpin tentunya dibeberapa kesempatan akan menjadi imam shalat dan menjadi guru bagi anak2 dan lingkungannya. Betapa tidak kemampuan itu harus diberi kesempatan untuk berkembang terutama diwaktu yang sangat luang, yaitu saat menjalani pidana. Pengelola mengupayakan kesempatan dari sisi pembinaan untuk mengembangkanpotensi narapidana menjadi imam bagi diri dan keluarganya kelak. Sesuai tujuan pemasyarakatan membuat harapan yang sesungguhnya mantan narapidana menjadi manusia madani.
Model pemberdayaan dengan menempatkan narapidana yang berpotensi lebih baik dibandingkan guna membimbing sesamanya. Disamping program2 yang terjadwal masih adanya waktu luang yang lebih banyak dan dapat dimanfaat guna menjadi program pembinaan yang berkelanjutan. Efektikitas waktu luang dan meminimalisir pengaruh "sekolah tinggi kejahatan".
Adanya perangkat yang solid terstruktur dan mempunyai kepedulian belajar bersama. tentunya dengan pengawasan petugas yang menjadi wali pemasyarakatan sebagai pengganti orang tua selama mereka menjalani pidana. maksimal 1 petugas membimbing 20 orang narapidana. Sehingga permasalahan, keluhan dan inovasi narapidana dapat tersalurkan.
Kesadaran narapidana harus digugah agar menyadari perlunya pengembangan potensi yang akan bermanfaat untuk dirinya. bahwa selalu ada kesempatan untuk mengevaluasi diri dan menjadi pribadi yang lebih baik. sehingga kesiapan mendapatkan hidup yang lebih baik kelak lebih terbuka luas.
Tanggung jawab keberhasilan integrasi manusia tidak hanya dipundak petugas pemasyarakatan. Melainkan melalui pelayanan yang optimal seluruh komponen yaitu narapidana, petugas dan masyarakat ikut berpartisipasi aktif guna pembelajaran tersebut. karena sebaik apapun mantan narapidana akan gagal bilamana mendapat penolakan dari masyarakatnya.