TRADISI BAKAR KERTAS UMAT BUDHA
Sering timbul salah pengertian di kalangan masyarakat non-Budha bahwa tradisi
bakar kertas adalah bagian dari ajaran agama Budha, bahkan sebagian dari umat Budha pun beranggapan demikian.
Sejak zaman dulu sebenarnya ada 2 jenis kertas yang digunakan dalam tradisi ini, yaitu kertas yang bagian tengahnya berwarna keemasan (Kim Cua) dan kertas yang bagian tengahnya berwarna keperakan (Gin Cua). Menurut kebiasaannya kertas emas digunakan untuk upacara sembahyang kepada dewa-dewa, sedangkan kertas perak untuk upacara sembahyang kepada para leluhur dan arwah-arwah orang yang sudah meninggal dunia.
Asal-usul tradisi bakar kertas sendiri konon dimulai pada zama pemerintahan Kaisar Lie Sie Bien dari kerajaan Tang di Tiongkok.Lie Sie Bien adalah seorang kaisar yang adil dan bijaksana, sehingga beliau ddicintai oleh rakyatnya. Tradisi bakar kertas ini merupakan himbauan kaisar untuk mengingat dan memberikan bantuan kepada leluhur dan keluarga yang telah meninggal, juga sebagai taktik untuk menciptakan pemerataan kehidupan dan menolong kaum miskin, yakni dengan mengerahkan rakyat jelata yang miskin untuk memproduksi kertas emas dan perak untuk kemudian dibeli oleh orang-orang kaya.
Tetapi ternyata kemajuan zaman telah mempengaruhi tradisi ini. sekarang kertas emas dan perak sudah diproduksi secara massal oleh pabrik-pabrik yang tentunya milik pengusaha kaya. Sehingga maksud dan tujuan untuk pemerataan penghasilan sudah tidak bermakna lagi. Kertas yang dibakar pun bukan hanya kertas emas dan perak, ada pula sejenis uang kertas dengan nilai nominal milyaran, yang bentuknya mirip dengan uang kertas yang digunakan pada zaman sekarang.
Kalau dulu upacara "Bakar Kertas" itu selalu diiringi dengan doa dan harapan untuk kebahagiaan para leluhur dan sanak keluarga yang telah meninggal, saat ini makna ini sudah semakin kabur karena tidak banyak lagi orang yang tahu asal mula, maksud dan tujuan sesungguhnya dari tradisi "Bakar Kertas" ini. Malah sekarang ada anggapan bahwa semakin banyak "Kertas emas dan Perak" ini dibakar adalah semakin baik, dan membuat leluhur dan sanak keluarga semakin kaya dan semakin senang di alam sana.
Ditambah lagi dengan berbagai ide yang menyesatkan, seperti membuat peralatan-peralatan modern / canggih (TV, handphone, mobil mewah, televisi, parabola, dll) dari kertas untuk dibakar guna dikirimkan pada leluhur dan sanak keluarga di alam sana, tentunya akan semakin mengaburkan maksud dan tujuan tradisi "Bakar Kertas" ini.
Jadi tradisi "bakar kertas" yang masih dilaksanakan pada saat ini jelas tidak sesuai dengan ajaran agama budha. Alangkah baik dan bijaksana bilamana uang yang tadinya akan digunakan untuk pembelian "kertas emas dan perak" itu dipergunakan untuk membantu orang-orang yang memerlukan bantuan /pertolongan, atau membeli sesuatu yang dapat diberikan / disumbangkan pada mereka yang membutuhkannya dengan mengenang dan mengatasnamakan orangtua/leluhur dan sanak keluarga kita yang telah meninggal, sehingga uang kita tidak menjadi sia-sia untuk membakar kertas dan segala sesuatu yang tidak bermanfaat itu.