• Daftarkan diri
  • ‎Apakah Shvoong itu?‎
  • Masuk
    Masuk
    Ingat user ID ini. Lupa password anda?

Buat rangkuman pengetahuan manusia di Shvoong.

.

Halaman Utama Shvoong>Ilmu Sosial>Sosiologi>Serong Dalam Perspektif Hukum dan Agama

.

Serong Dalam Perspektif Hukum dan Agama

oleh : langkir     

Pengarang : Purwiyanto
Selingkuh, Apa Yang Dicari?
Oleh: Purwiyanto
Dosen STIE INDOÇAKTI Malang
Awalnya, saya tidak sengaja menemukan
“komunitas selingkuh” yang beranggotakan para guru wanita. Adalah Sinta (nama samaran), seorang guru pada sekolah menengah atas, di bawah yayasan keagamaan terkenal. Dulu, Sinta adalah teman kuliah saya. Dalam sebuah pertemuan dan percakapan “hangat”, tiba-tiba ia memperlihatkan sebuah adegan syur dari sebuah ponselnya kepada saya. Ternyata, setelah saya amati, adegan tersebut adalah adegan yang sudah usang, yang melibatkan tokoh DPR, YZ dengan penyanyi ME. Melihat saya kurang tertarik akan video tersebut, Sinta buru-buru menawarkan video lain yang katanya lebih “nyeess”, dengan pemeran utama para “bule”.
Saya tergagap! Bukan karena adegan syurr itu, tetapi lebih karena perasaan heran, kaget, dan tidak percaya. Kenapa bu guru Sinta gemar mengoleksi adegan-adegan “nyess” dalam ponselnya?
Kemudian, terjadilah dialog spontan antara saya dengan Sinta.
P: “Ya Allah, Sin, gila kamu! Nggak malu kalau ketahuan muridmu?”
S: “Memangnya ada, murid yang berani buka-buka ponsel gurunya?”.
P: “Dari mana kamu dapat gambar-gambar gituan, Sin?”.
S: “Tenang saja .... temen be-be-es....”.
Yang dimaksud temen be-be-es oleh bu guru Sinta, adalah teman “bobok-bobok siang”, dalam dunia perselingkuhan pengganti istilah “short time”. Hal ini ternyata sering ia lakukan bersama pasangan selingkuhnya di saat jeda mengajar, atau setelah bubaran sekolah, sebelum pulang ke rumah.
Kali lain, Sinta juga bercerita tentang “geng”-nya sesama wanita yang gemar berselingkuh. Ada Yati dan Ina (nama samaran) juga seorang guru, ada Sasa (Pegawai Negeri Sipil pada sebuah Rumah Sakit), dan masih ada ibu-ibu yang lain.
Paparan di muka merupakan fenomena yang meresahkan. Para wanita, dengan profesi guru, yang seharusnya menjadi pola anutan bagi anak didiknya telah terjerumus pada perilaku nista dan tidak terpuji.
Keresahan semakin tebal, manakala mengingat analisis para cerdik pandai, akan arti penting wanita dan ibu dalam kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Hasil analisis mereka, bahwa keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara akan menjadi baik, jika perilaku para ibu baik. Tetapi sebaliknya, bangunan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara akan ambruk, jika perilaku para ibu buruk.
Kita juga masih ingat akan peribahasa, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Lantas, moral anak dan murid yang seperti apakah yang bisa diharapkan dari potret guru seperti ini? Pertanyaan ini pantas mengemuka, karena mengingat para pelaku selingkuh ini, di rumah berperan sebagai ibu bagi anak-anak dan istri bagi suami. Sedangkan di sekolah berperan sebagai guru bagi anak didiknya.
Selingkuh, Apa  Yang Dicari?
Oleh: Purwiyanto
Dosen STIE INDOÇAKTI Malang
Awalnya, saya tidak sengaja menemukan “komunitas selingkuh” yang beranggotakan para guru wanita. Adalah Sinta (nama samaran), seorang guru pada sekolah menengah atas, di bawah yayasan keagamaan terkenal. Dulu, Sinta adalah teman kuliah saya. Dalam sebuah pertemuan dan percakapan “hangat”, tiba-tiba ia memperlihatkan sebuah adegan syur dari sebuah ponselnya kepada saya. Ternyata, setelah saya amati, adegan tersebut adalah adegan yang sudah usang, yang melibatkan  tokoh DPR, YZ dengan penyanyi ME. Melihat saya kurang tertarik akan video tersebut, Sinta buru-buru menawarkan video lain yang katanya lebih “nyeess”, dengan pemeran utama para “bule”.
Saya tergagap! Bukan karena adegan syurr itu, tetapi lebih karena perasaan heran, kaget, dan tidak percaya. Kenapa bu guru Sinta gemar mengoleksi adegan-adegan “nyess” dalam ponselnya?
  Kemudian, terjadilah dialog spontan antara saya dengan Sinta.
P: “Ya Allah, Sin, gila kamu! Nggak malu kalau ketahuan muridmu?”
S: “Memangnya ada, murid yang berani buka-buka ponsel gurunya?”.
P: “Dari mana kamu dapat gambar-gambar gituan, Sin?”.
S: “Tenang  saja .... temen  be-be-es....”.
Yang dimaksud temen be-be-es oleh bu guru Sinta, adalah teman “bobok-bobok siang”, dalam dunia perselingkuhan pengganti istilah “short time”. Hal ini ternyata sering ia lakukan bersama pasangan selingkuhnya di saat jeda mengajar, atau setelah bubaran sekolah, sebelum pulang ke rumah.
Kali lain, Sinta juga bercerita tentang “geng”-nya sesama wanita yang gemar berselingkuh. Ada Yati dan Ina (nama samaran) juga seorang guru, ada Sasa (Pegawai Negeri Sipil pada sebuah Rumah Sakit), dan masih ada ibu-ibu yang lain.
Paparan di muka merupakan fenomena yang meresahkan. Para wanita, dengan profesi guru, yang seharusnya menjadi pola anutan bagi anak didiknya telah terjerumus pada perilaku nista dan tidak terpuji.
Keresahan semakin tebal, manakala mengingat analisis para cerdik pandai, akan arti penting wanita dan ibu dalam kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Hasil analisis mereka, bahwa keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara akan menjadi baik, jika perilaku para ibu baik. Tetapi sebaliknya, bangunan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara akan ambruk, jika perilaku para ibu buruk.
Kita juga masih ingat akan peribahasa, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Lantas, moral anak dan murid yang seperti apakah yang bisa diharapkan dari potret guru seperti ini? Pertanyaan ini pantas mengemuka, karena mengingat para pelaku selingkuh ini, di rumah berperan sebagai ibu bagi anak-anak dan istri bagi suami. Sedangkan di sekolah berperan sebagai guru bagi anak didiknya.
Diterbitkan di: Agustus 10, 2009
Mohon ringkasan ini dinilai : 1 2 3 4 5

Bookmark & share this post

.